Dorong CNG Gantikan LPG Impor, Legislator Minta Pemerintah Percepat Strategi Ketahanan Energi Nasional

by
Anggota Komisi XII DPR RI Yulisman (foto: Fraksi Golkar)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ketergantungan Indonesia pada impor LPG yang masih mendominasi kebutuhan nasional dinilai kian membebani anggaran negara dan melemahkan fondasi ketahanan energi. Di tengah tekanan tersebut, dorongan untuk memanfaatkan sumber daya gas domestik kembali menguat sebagai solusi transisi yang lebih cepat dan realistis.

Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Yulisman, mendesak pemerintah mempercepat pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif strategis guna menekan impor LPG sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Ia menyoroti bahwa sekitar 80 persen kebutuhan LPG Indonesia masih dipenuhi dari impor.

Kondisi ini, menurutnya, menuntut langkah terobosan yang tidak hanya berorientasi pada proyek jangka panjang seperti pembangunan jaringan gas (jargas), tetapi juga solusi yang lebih fleksibel dan dapat segera diimplementasikan.

“CNG ini bisa menjadi solusi transisi yang realistis. Kita punya sumber gas domestik yang cukup besar, tinggal bagaimana kita distribusikan secara efektif ke masyarakat dan sektor usaha,” ujar Yulisman, Rabu (29/4/2026).

Menurutnya, pemanfaatan CNG berbasis gas alam dalam negeri menawarkan keuntungan ekonomi yang signifikan dibanding LPG impor. Selain berpotensi menekan biaya energi, langkah ini juga dapat mengurangi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dari sisi subsidi energi.

Yulisman menilai pengembangan CNG sangat relevan diterapkan di wilayah-wilayah yang memiliki cadangan gas melimpah, namun belum terjangkau infrastruktur pipa gas. Ia menyebut sejumlah daerah seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan sebagai kandidat kuat untuk menjadi proyek percontohan.

“Daerah penghasil gas seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan sangat potensial. Kita bisa mulai dari skala industri, UMKM, hingga perumahan melalui skema CNG atau virtual pipeline,” jelas legislator dari daerah pemilihan Riau II tersebut.

Ia juga merujuk pada pengalaman negara lain seperti India, Pakistan, dan Argentina yang dinilai berhasil mengembangkan ekosistem CNG untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor sekaligus meningkatkan efisiensi nasional.

Lebih jauh, Yulisman menegaskan bahwa percepatan pengembangan CNG perlu diintegrasikan dalam strategi besar ketahanan energi nasional. Upaya ini, kata dia, harus berjalan beriringan dengan percepatan pembangunan jaringan gas di kawasan perkotaan serta penguatan program hilirisasi energi, termasuk gasifikasi batubara.

“Ini bukan hanya soal substitusi energi, tetapi tentang bagaimana Indonesia membangun kedaulatan energi yang berkelanjutan,” ujarnya. (Asim)