BERITABUANA.CO, MADINAH– Pemerintah melalui Daerah Kerja (Daker) Madinah berkomitmen memberikan kenyamanan maksimal dengan menyediakan ribuan armada bus antar kota perhajian (AKAP) bagi Jemaah haji Indonesia. Banyak bus baru yang digunakan dalam melayani para Jemaah.
Kepala Seksi Transportasi Daker Madinah, Achmad Muslichuddin Tamdjiz menjelaskan standar ketat diterapkan dalam pemilihan armada. Seluruh bus yang digunakan dilarang berusia lebih dari lima tahun.
“Bus AKAP yang digunakan paling tua adalah produksi tahun 2021. Kami telah bekerja sama dengan 15 perusahaan layanan transportasi dengan total menyediakan 6.000 armada bus,” ucapnya, Sabtu (25/4/2026).
Demi menjaga kenyamanan selama perjalanan jauh, pihak otoritas juga membatasi kapasitas angkut. Meski rata-rata bus memiliki 50 kursi, setiap bus maksimal hanya akan diisi oleh 42 jemaah agar ruang gerak di dalam bus tetap nyaman.
Ia menuturkan, ribuan armada ini disiapkan untuk melayani enam rute utama yang terbagi dalam dua gelombang. Gelombang I dengan rute Bandara Madinah ke Hotel, Hotel Madinah ke Makkah, dan Makkah ke Bandara Jeddah.
Selanjutnya, Gelombang II dengan rute Bandara Jeddah ke Makkah, Hotel Makkah ke Madinah, dan Madinah ke Bandara.
Produksi Tahun 2026
Salah satu penyedia layanan, Rawahel al Mashaer Co, bahkan telah mendatangkan 100 armada bus baru khusus untuk melayani jemaah Indonesia.
Direktur Cabang Madinah, Hilal Husein an Dijani, mengungkapkan bahwa bus-bus tersebut merupakan tipe tahun 2027 yang diproduksi pada 2026. “Ini adalah bus kelas eksekutif. AC jauh lebih dingin, kursi lebih empuk, toilet sangat nyaman, dan tersedia fasilitas charger baik untuk tipe USB maupun Tipe-C,” jelas Hilal.
Ia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap karakteristik jemaah haji asal Indonesia. Menurutnya, jemaah Indonesia dikenal sangat disiplin dan menjaga kebersihan, yang sangat memudahkan kerja operator transportasi.
“Kami sangat suka melayani jemaah Indonesia karena mereka sangat tertib waktu. Saat keberangkatan, kondisi bus juga tetap rapi dan bersih. Tidak pernah ada kendala berarti,” ungkapnya.
Agar semakin memudahkan komunikasi dan pelayanan, kata dia, perusahaan Rawahel juga mempekerjakan tenaga kerja asal Indonesia. Sekitar 40 persen dari total sopir dan kernet yang bertugas merupakan warga negara Indonesia, sehingga kendala bahasa dapat diminimalisir dan jemaah merasa lebih nyaman layaknya di negara sendiri. (Fadloli)








