BERITABUANA.CO, MAKKAH– Jarak hotel tempat tinggal Jemaah haji Indonesia berdekatan dengan halte bus shalawat. Hal ini dirancang agar mempermudah jemaah haji untuk mengakses transportasi bus shalawat yang akan membawanya ke masjidil haram.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah, Ihsan Faisal mengatakan jarak hotel ke halte bus shalawat rata-rata kurang dari 100 meter.
Ia mengungkapkan, Penempatan halte dilakukan berbasis jumlah jemaah di setiap kawasan. Menurutnya, Hotel berkapasitas besar atau kantor sektor dijadikan titik utama, sementara hotel di sekitarnya diarahkan menggunakan halte terdekat.
“Total ada 74 halte (bus shalawat). Tidak ada yang jauh karena ini sangat menentukan kenyamanan jemaah,” kata Ihsan di Kantor Daker Makkah, Sabtu (25/4/2026).
Setiap halte, lanjut Ihsan, melayani dua hingga tiga hotel di sekitarnya, bahkan lebih, tergantung kepadatan jemaah.
“Tidak semua jemaah harus ke kantor sektor. Yang penting ada halte terdekat, mereka bisa langsung berangkat dari situ,” katanya.
Akomodir Lansia
Desain layanan juga memperhatikan kebutuhan jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas. Akses menuju halte dibuat ramah, dengan jarak pendek dan jalur yang mudah dilalui, klaimnya.
Untuk mendukung mobilitas, kata Ihsan bus shalawat beroperasi 24 jam tanpa henti. Jemaah dapat berangkat kapan saja dari halte terdekat menuju Masjidil Haram. “Jemaah tinggal keluar hotel, ke halte terdekat, lalu naik bus menuju Masjidil Haram,” ujarnya.
“Kalau sudah ada bus, bisa langsung naik, kalau tidak ada (bus shalawat), nanti ada petugas yang mengarahkan,” sambungnya.
Ihsan menjelaskan bahwa terminal kedatangan bus disesuaikan dengan wilayah akomodasi jemaah. Untuk kawasan Syisyah dan Raudhah, jemaah akan turun di Terminal Syib Amir.
Sementara, Jemaah dari wilayah Misfalah diarahkan ke Terminal Ajyad, sedangkan jemaah yang tinggal di Aziziyah dan Jarwal menggunakan Terminal Jabal Ka’bah.
Kenali Nomor Bus Shalawat
Dalam kesempatan itu, Ihsan mengimbau kepada jemaah agar mengingat rute perjalanan dari dan menuju hotel, termasuk mengenali nomor bus yang digunakan.
“Yang penting jemaah mengingat nomor rute busnya. Itu yang akan mengantarkan kembali ke hotel yang sama,” ucapnya.
Ia menambahkan, petugas disiagakan di halte dan terminal untuk mengatur arus, serta membantu jemaah. Pengaturan ini mencakup waktu keberangkatan bus, terutama saat jam sibuk ketika jumlah jemaah meningkat signifikan.
“Petugas halte akan mengatur pergerakan bus supaya seimbang antara yang berangkat dan yang kembali,” ujarnya.
Dalam kondisi ramai, bus akan langsung diberangkatkan begitu penuh. Namun jika jemaah belum banyak, petugas tetap akan mengatur keberangkatan agar layanan berjalan lancar.
Petugas juga memastikan kapasitas bus mempertimbangkan kenyamanan jemaah. Prioritas tempat duduk diberikan pada lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan, sementara jemaah lain dapat berdiri sesuai kapasitas.
“Kalau pun jemaah salah naik atau salah arah, tidak perlu khawatir. Petugas di lapangan akan membantu mengarahkan kembali ke hotel,” tandasnya. (Fadloli)







