Lonjakan Harga Plastik Jadi Momentum Kurangi Sampah Laut, DPR Ingatkan Ancaman Ekologis Indonesia

by
Anggota Komisi XII DPR RI Dipo Nusantara (Foto: Suara Investor)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Di tengah lonjakan harga plastik global, Anggota Komisi XII DPR, Dipo Nusantara, mendorong pemerintah dan masyarakat menjadikan situasi ini sebagai momentum strategis untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai demi menyelamatkan ekosistem laut Indonesia yang kian terancam.

Bahkan, ia menyebut tekanan ekonomi akibat naiknya harga plastik membuka peluang bagi Indonesia untuk melakukan perubahan mendasar dalam pola konsumsi.

“Di saat biaya plastik meningkat, upaya pengendalian penggunaannya justru bisa dipercepat sebagai bagian dari strategi lingkungan jangka panjang,” kata Dipo kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Dipo menilai, penggunaan plastik di Indonesia telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan, terutama karena dominasi sampah plastik di laut yang hingga kini belum tertangani secara optimal. “Sampah di laut itu berbahaya bagi ekosistem dan sangat sulit dibersihkan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa material plastik menjadi penyumbang utama pencemaran laut karena sifatnya yang sulit terurai. Kondisi ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan serius akibat mikroplastik yang masuk ke rantai makanan manusia.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2023, Indonesia menghasilkan sekitar 56,6 juta ton sampah per tahun. Dari jumlah tersebut, hampir 10 juta ton atau sekitar 18 persen merupakan sampah plastik.

Dalam narasinya, Dipo mengingatkan bahwa tanpa perubahan pola konsumsi, timbunan plastik berpotensi menjadi “bom waktu” ekologis. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga akan membebani keuangan negara melalui tingginya biaya pemulihan di masa depan.

Ia menegaskan, seluruh pemangku kepentingan harus memandang persoalan sampah plastik sebagai ancaman nyata. Plastik tidak hanya mencemari laut dan membahayakan biota, tetapi juga berkontribusi terhadap bencana seperti banjir akibat saluran air yang tersumbat.

“Jangan menunggu kondisi lingkungan semakin memburuk,” kata politikus dari Partai Kebangkitan Bangsa tersebut. (Asim)