Tekan Emisi Karbon, Senator Lia Istifhama Dorong PAD Tak Lagi Bergantung Pajak Kendaraan

by
Anggota DPD RI, Lia Istifhama dalam kunjungannya ke Kantor Perhutani Jawa Timur di Genteng Kali, Surabaya. (Foto: Dok)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ancaman krisis lingkungan akibat lonjakan emisi karbon dari kendaraan bermotor kian mengkhawatirkan.

Anggota DPD RI, Lia Istifhama, mendorong pemerintah daerah untuk tidak lagi bergantung pada pajak kendaraan bermotor sebagai sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia menilai ketergantungan PAD terhadap pajak kendaraan justru berpotensi memicu pertumbuhan jumlah kendaraan yang berdampak langsung pada peningkatan emisi karbon dioksida (CO₂).

“Selama ini PAD banyak ditopang dari pajak kendaraan bermotor. Tapi ke depan, pemerintah daerah harus mulai mencari sumber pendapatan lain yang lebih ramah lingkungan,” kata Lia dalam keterangannya, saat kunjungannya ke Kantor Perhutani Jawa Timur di Genteng Kali, Surabaya, Jumat (27/3/2025)

Menurutnya, kebijakan fiskal daerah seharusnya tidak mendorong peningkatan jumlah kendaraan, melainkan diarahkan pada sektor-sektor berkelanjutan yang tetap mampu menopang ekonomi tanpa merusak lingkungan.

Diakuinya, tantangan kebijakan fiskal daerah yang masih bergantung pada pajak kendaraan bermotor sebagaimana diatur dalam Undang-Undang HKPD.

Ia menilai, skema tersebut secara tidak langsung dapat mendorong peningkatan jumlah kendaraan demi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), meski berisiko memperparah persoalan lingkungan, terutama emisi karbon.
Menurutnya, ketergantungan pada sektor pajak kendaraan perlu dikaji ulang.

Pemerintah daerah, menurutnya, harus mulai mencari sumber-sumber PAD alternatif yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan, tanpa harus bergantung pada pertumbuhan kendaraan bermotor.

“Jangan sampai ada pemikiran menambah kendaraan demi menaikkan PAD. Risikonya besar bagi lingkungan,” sebutnya.

Ia menambahkan, pendekatan yang didorong bukan semata pada perubahan regulasi fiskal, melainkan pada penguatan kebijakan berbasis lingkungan. Dalam konteks ini, peran Perhutani menjadi penting, terutama dalam merespons tingginya preferensi masyarakat terhadap kepemilikan kendaraan.

Senator Jatim itu pun mendorong adanya langkah konkret dari Perhutani dalam menjaga keseimbangan lingkungan, seperti melalui program penghijauan atau inisiatif lain yang mampu menekan dampak emisi.

Karenannya, kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan pembangunan yang tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.

Sebagai langkah konkret menekan emisi, Ning Lia mengapresiasi upaya Perhutani dalam menggencarkan program penghijauan, termasuk penanaman mangrove dan pelestarian hutan.

“Upaya penghijauan ini sangat penting di tengah meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang menjadi salah satu penyumbang emisi karbon,” tegasnya.

Dalam kunjungan tersebut, Ning Lia disambut Direktur Utama Perhutani, Tio Handoko, bersama jajaran direksi lainnya. Keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa itu juga mendorong pendekatan berbasis lingkungan sebagai solusi jangka panjang, sekaligus mengajak masyarakat untuk kembali ke alam (back to nature) dengan membudayakan kegiatan menanam dan merawat pohon.

“Kesadaran kolektif masyarakat untuk giat menanam dan menjaga lingkungan menjadi kunci utama keberlanjutan ekosistem,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perhutani, Tio Handoko, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di tengah pesatnya pertumbuhan penduduk dan kendaraan bermotor.

Ia mengungkapkan, jumlah kendaraan di Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 140 juta unit, berbanding dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa. Bahkan secara sederhana, setiap 14 detik lahir satu kendaraan baru, sementara setiap 7 detik lahir satu manusia.

“Setiap manusia membutuhkan oksigen, sementara kendaraan menghasilkan CO₂. Satu-satunya yang mampu mengubah CO₂ menjadi oksigen adalah pohon. Karena itu, penanaman pohon menjadi sangat penting,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Pulau Jawa sebagai salah satu wilayah terpadat di dunia menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketersediaan udara bersih dan sumber air.

“Kami khawatir jika hutan tidak dijaga, sumber mata air akan mengering. Ini tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap bisa menikmati lingkungan yang sehat,” ujarnya.

Perhutani sendiri terus menggalakkan gerakan penghijauan secara berkelanjutan, mulai dari penanaman mangrove, tanaman hutan, hingga penghijauan di kawasan jalan dan pertanian.

“Bagi kami, menanam pohon bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi sudah menjadi napas kehidupan. Setiap hari kami menanam, baik disorot maupun tidak,” tegasnya. (Jal)