Perundingan Nuklir Jenewa: Negosiasi “Pasar” Iran, AS Frustrasi?

by
Nuklir. (Foto: Ist)

NEGOSIASI, bukan tentang agresi atau kekerasan.Tapi, tentang keterampilan halus memanipulasi situasi. Iran memanipulasi secara dingin, ancaman AS.

Negosiasi nuklir AS-Iran (kemarin di Jenewa), sebagai kelanjutan Oman (6/2), telah menjadi prisma persepsi. Satu metafora,  cermin pembiasan realitas substansi.

Diksi Ayatollah Ali Khamenei, tentang kehadiran masif kapal perang AS di lepas pantai Oman. Itu berbahaya, tetapi lebih berbahaya adalah senjata yang akan menenggelamkannya ke dasar laut.

Apa yang dikatakan pemimpin Iran ini (The Guardian, 17 Pebruari 2026), merupakan cara Khamenei memanipulasi situasi.  Menggambarkan, Iran sudah siap, tidak lemah,  tidak akan kalah dan gentar berperang melawan AS.

Tawar-menawar AS-Iran dalam pembicaraan nuklir, menggambarkan persepsi berbeda dari kedua belah pihak. Sebegitu berbahayakah Iran? Atau sekadar paranoid AS?

Mengirimkan Kapal Induk USS Abraham Lincoln, menyusul USS Gerald Ford. AS memandang diplomasi sebagai olahraga gulat. Sementara Iran menganggapnya cabang olahraga catur.  Tamsil dua kutub AS dan Iran.

AS memahami Iran sebagai “petarung” negosiasi yang kuat dan berdaya tahan. Senang mengulur waktu, dan memperpanjang proses negosiasi, Iran dikenal dunia memiliki kemampuan negosiasi dengan “gaya pasar”.

“Gaya pasar”, sebentuk negosiasi kukuh dengan tawar-menawar terus-menerus tanpa lelah. Bernegosiasi dengan Iran, membutuhkan banyak waktu dan energi.

Mundurnya AS dari negosiasi nuklir  (2018). Bisa jadi karena “gaya pasar” Iran yang membuat delegasi AS frustrasi. Siapa yang cepat lelah dan bosan, akan kalah. AS skeptis!

Kecerdikan negosiator Iran, sering bermakna “manipulatif”. Kata-kata setuju Iran bisa bersimpang jalan dengan empat arah. Lima putaran negosiasi nuklir AS-Iran, ditambah dua putaran Oman, tambah lagi Jenewa (kemarin). Mestinya Iran menyerah!

Buktinya, Putaran Jenewa (Swiss) yang berlangsung, belum tuntas. Meskipun disebut Iran konstruktif, AS diperkirakan akan terus menambah kekuatan militernya, sambil menunggu pembicaraan ke-9 dua minggu mendatang.

Iran yang “dingin”, tidak terpengaruh dengan semakin menguatnya tekanan militer. Narasi Menlu Abbas Araghchi, yang menyebut AS-Iran membutuhkan waktu untuk saling mendekati. Tak berarti kesepakatan ini bisa cepat.

Bagaimana mungkin Iran, yang tengah “diancam” todongan senjata, bisa bernarasi begitu? Ini menandakan Iran siap menghadapi apa pun maunya AS. Negosiasi, setuju! Perang, juga setuju!

Apa yang dikatakan Menlu Uni Soviet, Andrei Andreyevich Gromyko, berkait erat dengan kekuatan negosiasi nuklir Iran saat ini. “Lebih baik negosiasi 10 tahun, daripada perang satu hari”. Buku tulisan Igor Ryzov (The Kremlin School of Negotiation), mengulas teori ini.

Negosiasi adalah sebuah seni. Tekanan embargo ekonomi (sejak Revolusi Iran 1979), tidak membuat Iran menjadi runtuh.  Diplomasi, bukan melulu sebagai permainan yang harus dimenangkan seketika, Iran menjalaninya dengan cara memahami, siapa AS?

Ruang lingkup kompromi nuklir AS-Iran, memang pasang-surut. Sebenarnya, bukan pada nuklirnya, karena Pakistan atau India juga negara nuklir.  Malah sudah jadi. Sementara Iran masih dalam proses pengayaan hingga 60 persen. Mengapa Pakistan-India, tak diusik?

Kepentingan geopolitik, sekaligus dendam politik, juga ’emoh’nya Iran menjadi ‘underbow’ (patron-client) AS. Menjadi pokok pangkalnya.

Lepas Aset

Tuntutan AS menyangkut reduksi, atau penghapusan persediaan Uranium (kimiawi nuklir) yang sangat diperkaya, satu hal mustahil bagi Iran.

Bagi Iran, negosiasi memiliki hukum yang jelas. Kedaulatan, pertahanan, dan kepentingan membela diri, merupakan konfigurasi dan integral dari negosiasi.

Segala hal, selagi tidak untuk kepentingan ‘moral hazard’ menyerang kedaulatan negara lain, nuklir merupakan satu kebutuhan. Nuklir bermanfaat untuk pembangkit tenaga listrik, misalnya (PLTN).

Kegagalan AS menarik Iran ke dalam porosnya, seperti negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC), menjadikan AS kukuh menekan dan mengeliminasi program nuklir Iran. Tekanan lebih berat, membekukan aset dan finansial Iran di luar negeri. Iran bergeming.

Tekanan AS kepada Iran ‘extraordinary’ (luar biasa). Kesepakatan nuklir Iran (2015) yang dikenal sebagai “Joint Comprehensive Plan of Action” (JCPOA) era Presiden Barack Obama, secara sepihak dibatalkan Presiden Donald Trump (2018).

Perjanjian yang juga disebut PS + 1 (AS, Inggris, Prancis, China, Rusia, dan Jerman)  ini, membatasi program nuklir Iran, dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi. Berlangsung hingga 2018.

Kesepakatan itu, membuat Iran harus mengurangi sentrifugal, membatasi pengayaan Uranium hingga 3,67 persen, serta mengizinkan inspeksi ketat badan energi atom internasional (IAEA).

Apa yang sudah berjalan baik, dan secara insklusif melibatkan lima negara Dewan Keamanan (DK PBB) plus Jerman, dibubarkan oleh Trump. Sejak itu ketegangan dan kecurigaan membuncah.

Tak ada pilihan bagi Iran. Menerapkan negosiasi ‘ala’ pasar, memanipulasi ambisi AS (melucuti Iran). Sekaligus menguji daya tahan tim negosiator AS terhadap dinginnya wajah negosiator Iran.

Tinggal menunggu dua minggu ke depan. Apakah AS masih sabar tidak menyerang Iran? Atau sebaliknya, “negosiasi pasar” Iran, harus diakhiri AS. Artinya, parang!

*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co