BERITABUANA.CO, BALIKPAPAN – Pemerintah secara resmi menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mulai awal tahun ini. Demikian ditegaskan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).
Bahlil mengatakan, pihaknya sudah tidak lagi mengeluarkan izin impor untuk produk tersebut. Kebijakannya ini
sejalan dengan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan yang bakal diresmikan Presiden Prabowo Subianto.
“Begitu proyek diresmikan, maka kita tahun ini tidak lagi melakukan impor solar. Dan mulai tahun ini juga, saya tidak lagi mengeluarkan izin impor solar,” ujar Bahlil.
Apabila masih ada impor solar yang masuk di tahun ini, kata Bahlil, maka kemungkinan sisa pengiriman dari izin tahun lalu. Pasalnya, masih ada solar yang sudah diimpor tapi belum sampai di dalam negeri.
“Andaikan ada yang masuk di bulan ini atau bulan depan, itu berarti sisa impor 2025. Tetapi tahun ini Kementerian ESDM atas perintah Bapak Presiden, karena kita punya kilang sudah ada, kita tidak lagi mengeluarkan izin impor,” jelasnya.
Bahlil merinci, izin impor yang disetop total adalah solar jenis CN48. Sementara, untuk yang CN51 masih impor tapi hanya sampai paruh tahun ini saja.
“Untuk CN 48 sama sekali sudah setop impor. CN 51-nya semester dua tidak kita impor lagi. Semester dua tahun ini,” terangnya.
Dengan demikian, PT Pertamina (Persero) akan memproduksi semua jenis solar mulai Juli 2026. Seluruh perusahaan swasta hanya bisa membeli ke perseroan.
RDMP adalah proyek terbesar yang dibangun Pertamina yang menelan biaya hingga US$7,4 miliar atau setera Rp123 triliun. Pembangunannya dimulai pada April 2006.
Setelah hampir 10 tahun proses pembangunan, proyek ini akhirnya bisa beroperasi secara penuh. Tujuan pembangunannya meningkatkan kapasitas kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.
Setelah beroperasi secara penuh, RDMP Kilang Balikpapan akan menghasilkan berbagai produk minyak dan gas (migas), mulai dari solar, bensin hingga LPG.
Untuk solar, pemerintah tak akan lagi perlu tambahan dari impor dan akan sangat mencukupi dari produksi dalam negeri.
Sementara, untuk bensin besaran impornya akan turun drastis. Saat ini, impor bensin mencapai 24 juta kiloliter, dan dengan pengoperasian RDMP, maka akan ada tambahan produksi 5,8 juta kiloliter, sehingga impor yang dibutuhkan akan berkurang menjadi sekitar 18-19 juta kiloliter saja.
Tak hanya itu, kualitas BBM yang dihasilkan dari RDMP Kilang Balikpapan akan sangat ramah lingkungan setara Euro 5.
Selain itu, proyek ini juga akan mengolah residu-residu yang ada untuk menghasilkan produk-produk industri kimia bernilai tinggi seperti propylene dan ethylene. (Ram)







