Warning Partai Gelora! Indonesia Diminta Waspadai Ambisi Global AS

by
Sekjen DPN Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik.

BERITABUANA.CO, JAKARTA — Memanasnya dinamika politik global dinilai bukan lagi sekadar spekulasi, melainkan rangkaian peristiwa yang menunjukkan pergeseran tatanan dunia. Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Mahfuz Sidik, meminta pemerintah Indonesia mencermati secara serius arah baru politik global, terutama kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang kian agresif dan unilateral.

Dalam keterangan tertulis, Minggu (11/1/2026), Mahfuz menilai dunia tengah memasuki fase penuh ketidakpastian, ditandai oleh munculnya peristiwa-peristiwa yang sebelumnya sulit dibayangkan.

“Dinamika politik global tampaknya akan semakin memanas. Banyak peristiwa tak terduga yang kini terjadi, dan kita tidak tahu kejutan apa lagi yang akan muncul ke depan,” ujar Mahfuz.

Ia mencontohkan berbagai eskalasi geopolitik yang dinilainya mencerminkan pola intervensi terbuka Amerika Serikat terhadap negara-negara berdaulat. Salah satunya adalah keterlibatan militer AS di Venezuela, yang disebutnya sebagai upaya langsung untuk menggulingkan dan menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta keluarganya.

Menurut Mahfuz, Venezuela bukanlah kasus tunggal. Di Iran, ia melihat indikasi kuat operasi pergantian rezim yang ditopang oleh gelombang demonstrasi besar dan situasi domestik yang semakin tidak stabil.

“Fenomena demonstrasi di Iran makin meluas dan anarkis. Skenario pergantian rezim tinggal menunggu waktu,” katanya.

Mahfuz juga menyoroti rencana Amerika Serikat untuk meningkatkan pengaruhnya di kawasan Arktik, termasuk ambisi menguasai Greenland yang saat ini berada di bawah kedaulatan Denmark. Langkah tersebut, kata dia, bertujuan mengontrol jalur strategis utara guna membendung pengaruh Rusia dan China.

“Greenland adalah pintu masuk ke Eropa. Ini akan menjadi basis penting untuk menghadang kekuatan militer Rusia dan China yang sedang membangun jalur sutra di kawasan Arktik,” ujarnya.

Dalam pandangan Mahfuz, strategi global Washington tidak terlepas dari upaya melemahkan Rusia secara sistematis, dengan menjadikan Ukraina sebagai medan konflik berkepanjangan—mengulang pola sejarah ketika Uni Soviet runtuh pasca perang di Afghanistan.

Ia menilai kepercayaan diri Amerika Serikat saat ini didorong oleh melemahnya dukungan Rusia dan China terhadap negara-negara sekutunya. Kondisi itu, menurutnya, membuat negara seperti Venezuela relatif mudah ditekan.

Mahfuz juga menyinggung sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang, menurutnya, ingin mengembalikan dominasi AS sebagai satu-satunya negara adidaya dunia, tanpa terikat pada aturan lembaga internasional.

“Tindakan Trump keluar dari puluhan lembaga global di bawah PBB harus dibaca sebagai pesan politik yang sangat tegas,” katanya.

Ia menilai langkah tersebut mencerminkan pandangan Washington bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak lagi memiliki otoritas untuk mengatur Amerika Serikat. Ke depan, AS disebut akan merekonstruksi tatanan global sesuai kepentingan politik luar negerinya, termasuk dengan pendekatan konfrontatif terhadap negara-negara yang dianggap sebagai lawan.

“Dalam logika Trump, tidak ada lagi negara non-blok. Yang ada hanya kawan atau lawan,” ujar Mahfuz. “Jika Anda kawan, kita bekerja sama. Jika lawan, maka akan dihadapi.”

Karena itu, Mahfuz mendesak PBB untuk segera melakukan reformasi mendasar dan mendorong lahirnya tatanan global baru berbasis multipolarisme agar tidak sepenuhnya didikte satu kekuatan.

Ia menilai kebijakan domestik dan luar negeri Amerika Serikat saat ini menyerupai pengulangan sejarah pasca Perang Dunia I dan II, ketika AS membentuk ulang sistem global sesuai kepentingannya sendiri.

“Ini mendesak untuk dikaji ulang, termasuk oleh Indonesia, karena dampaknya langsung terhadap stabilitas global,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Mahfuz menyerukan negara-negara Islam untuk mencari format baru dalam mengonsolidasikan kekuatan politiknya yang dinilai terus melemah.

“Diperlukan kesadaran kolektif negara-negara Muslim untuk membangun kembali kekuatan politik bersama dalam menghadapi dinamika global dan mengembalikan tren multipolarisme dunia,” pungkasnya. (Ery)