BERITABUANA.CO, BANDUNG – Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Herman Suryatman menyatakan bahwa Jawa Barat (Jabar), adalah salah satu provinsi yang rawan bencana gempa bumi. Salah satu pematiknya adalah, sesar Lembang.
Untuk hal itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat sudah mewanti-wanti masyarakatnya akan aktivitas Sesar Lembang.
Sesar ini membentang sepanjang hampir 29 Km, mulai dari Padalarang hingga kawasan Cimenyan. Letaknya tidak jauh dari Kota Bandung, tepat di kaki Gunung Tangkuban Parahu. Namun, sesar ini bukan sekadar garis di peta, melainkan bagian dari sistem geologi aktif yang nyata keberadaannya.
Herman pun mengaku sudah melakukan koordinasi dengan BRIN, BMKG serta BNPD untuk mengantisipasi bencana ini.
“Jabar salah satu provinsi yang rawan bencana salah satunya gempa bumi. Salah satu pemantik yang kami waspadai, kami awasi, kami antisipasi adalah Sesar Lembang,” ungkap Herman dikutip dari akun sosial media miliknya, Sabtu (31/1/2026).
Herman menambahkan setiap tahun berdasarkan data BMKG dan BRIN terjadi pergeseran 4 MM. Hal ini menurutnya sangat dimungkinkan memantik gempa besar hingga M 6,8-7.
Tujuh kabupaten kota pun akan terrdampak yaitu Bandung Raya, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Purwakarta, Subang, dan Sumedang.
“Tentu kita tidak berharap. Kalau terjadi gempa kita harus siap. Kami sudah konsolidasi,” tegasnya.
Herman melanjutkan, Sesar Lembang ini membentang 29 Km dari Padalarang Bandung Barat ke Bandung sampai Ujung Subang di Kecamatan Sukasari. Kalau bersamaan terjadi pergeseran akan memantik gempa M 6,8-7 dan itu sangat besar. Hal ini paling dilakukan antisipasi mitigasi dengan baik.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani, pihaknya akan terus memantau aktivitas Sesar Lembang. BMKG akan terus berkoordinasi dengan BPBD, Kementerian PU, hingga Pemda Jabar untuk memberikan peringatan dini bencana.
BMKG juga mengimbau agar bangunan yang dibangun di sekitar lokasi terdampak bencana agar tahan terhadap gempa.
“Jadi, ketika kita membangun bangunan di daerah yang tidak rawan gempa dan dengan yang daerah rawan gempa itu most likely di daerah yang rawan gempa ini biayanya akan lebih besar karena dia perlu kuat, pondasinya lebih kuat, dan perlu disusun dengan standar SNI 2.500 tahun. Jadi itu membuat aktivitas bisa kita jalankan, meski di daerah rawan gempa, kita bisa meningkatkan antisipasi dengan membuat bangunan rawan gempa, yang aman terhadap gempa. Supaya kayak electricity, saluran-saluran itu tidak terganggu,” bebernya. (Ban)







