KEBEBASAN tak akan datang dari “predator”! Kebebasan, juga tak muncul dari reformis palsu. Kebebasan dari bantuan asing, imajiner!
Apa yang terjadi di Iran kini, merupakan upaya ‘intermediate’ predator. Seolah ingin baik. Membebaskan kesulitan rakyat Iran. Padahal, tengah me-methamorfosis moral hazard.
Embargo ekonomi AS beserta sekutunya-lah ‘biang keladi’ perekonomian Iran kini (sejak 1979). Puncaknya, depresiasi mata uang Rial (Iran) terjatuh dalam, senilai 1,42 juta Rial per 1 dolar.
Setidaknya, terjadi depresiasi sebesar 56 persen secara “rally”, dalam enam bulan terakhir. Anjloknya Rial, menyebabkan inflasi tak terperikan dengan lonjakan kenaikan pangan ‘average’ 72 persen. Ini gila!
AS dan Barat sengaja menciptakan situasi “deadlock” dengan Iran, bukan semata faktor nuklir Iran (belum jadi). Lebih kepada dendam Revolusi Iran yang memutus matarantai (missink link) peta geopolitik AS di Timteng.
Kegagalan melemahkan Iran, lewat Perang Irak-Iran (1980-1988, plan A), membuat AS mengambil ‘Plan B’, lewat isu pengayaan nuklir Iran. Sayangnya di periode I jabatannya (2017-2021), Trump menciptakan “deadlock”.
Sungguh, tak ada alasan men”deadlock-kan kesepakatan nuklir AS-Iran. Negeri Mullah ini telah akomodatif berunding dengan Badan Atom Internasional (IAEA).
Jelas terlihat, AS tengah menciptakan argumen ‘spesial’, di mana dalam pidato Trump September 2017. Menuding Iran, telah menciptakan dan mensponsori terorisme. Di luar konteks ‘priority’.
Trump menyebutkan juga, Iran melanggar. kesepakatan 2015 (era Barack Obama), menyangkut pembatasan kapabilitas nuklir Iran. Imbalannnya, embargo ekonomi internasional dilonggarkan.
Kurang apa? Pemantau internasional yang datang ke Iran, sejatinya mengakui. Iran mematuhi kesepakatan nuklir AS-Iran secara penuh dan optimal. Iran serius! Namun, Trump dalam pidatonya ketika itu (2017), menolak seluruh ‘roadmap’ persenjataan nuklir Iran.
Kesepakatan nuklir yang dihentikan Trump, memiliki kredibilitas tinggi. Ditandatangani AS-Iran, lima negara besar lainnya ikut membubuhkan tanda tangan: Perancis, Rusia, China, Jerman, dan Inggris. Kurang percaya apa?
Sanksi ketat mahaberat, membuat daya tahan rakyat Iran berada di titik nadir kesabaran. Negara Teluk Parsi ini, mengalami kesulitan mengakses finansial hasil trading.
Ketergantungan pada impor, tidak seimbang dengan likuiditas (pembekuan dana di luar negeri), ditambah narasi palsu sebagai bagian dari operasi psikologis. Membuat Iran ‘paria’.
Muara kesulitan ekonomi (akibat embargo AS), bertujuan menggiring rakyat Iran menuju pada pemberontakan, dan kerusuhan. Target lebih jauh, mengganti pemerintahan Iran kepada pemerintahan sekuler sekaligus menjadikannya “boneka”, seperti Shahanshah Reza Pahlevi.
Trump ingin mengukir sejarah, sekaligus menagih janji sejarah yang hilang (history lost) 1979. Ketika Israel-Iran menjadi dua “anak emas” bergandeng tangan. Seperti Israel, AS memberi apa saja yang diminta Iran, hingga menjadi negara terkuat ke-5 persenjataan.
Permintaan lebih AS (tersirat), ingin mengubah pemerintahan Iran, menjadi sekuler kembali. Pembatalan perjanjian nuklir, lewat asumsi fluktuatif Trump. Membingungkan!
Pertanyaannya? Jika AS (Trump) memaksa (dengan kekuatan), seperti Venezuela. Meminta lebih dari yang seharusnya (ganti rezim), lalu mendorong Raza Pahlevi (yunior) dijadikan neo-boneka. Itukah yang dimaui rakyat Iran? Tidak terlalu yakin!
Para pendemo, dalam analisa penulis, bukan itu tujuannya. Rakyat Iran, sekalipun rezim Mullah harus jatuh, akan memberi “bracketing” (batasan) yang tidak bisa dilampaui negara “predator” (reformis palsu) yang direkayasa.
Niat Asing
Rakyat Iran tidak lupa dengan kejahatan Shah Reza Pahlevi kepada mereka di masa lalu. Rekayasa rencana asing (moral hazard), harus dilihat secara historis. AS paham karakter rakyat Iran.
“Historical”, rakyat Iran tidak menghendaki pembenahan Iran, dengan suksesornya Reza Pahlevi (yunior). Bagi AS, Reza Pahlevi (yunior) merupakan pilihan terbaik dan mudah.
Ibarat mengganti boneka lama, ke boneka baru. Wujudnya, tetap boneka. Lalu, menduetkannya dengan Israel (seperti era ayahnya dulu).
Publik Iran ingin mencari sintesa, dari tesis (Shah Reza Pahlevi senior), dan anti-tesis (rezim Mullah). Pendemo akan menentang “reproduksi” format dua kekuasaan lama (Shah dan Mullah) yang mereka anggap otoriter. Menimbulkan antagonisme dari kekuatan ‘unilateral’ (AS).
Sudah terlalu lama rakyat Iran dihadapkan pada “bracketing”, terutama setelah berakhirnya “bipolarisasi” (tahun 1990). Dominasi ‘unilateral’, menjadikan rakyat Iran tak punya pilihan kecuali melakukan sintesis.
Posisional AS tidak akan berubah, tak menginginkan rezim Mullah. Posisional rakyat Iran, juga tak ingin model Shah Reza Pahlevi. Walau dengan bantuan Donald Trump (AS).
Bila demo keras yang saat ini berhasil menumbangkan rezim Ayotollah Ali Khamenei. Lantas alternatif apa yang dipilih rakyat Iran?
Trump sendiri tahu, “bracketing” (pembatasan) rakyat Iran, tidak bisa dipaksa. Karena itu, dia tengah menjajaki kesepakatan dengan kelompok pembangkang (The Guardian, 9 Januari 2026), yang dicocokan dengan kehendak rakyat.
Kurangnya tokoh populis, menjadikan alternatif apa yang akan dipilih rakyat Iran, masih simpang siur. Yang pasti, bagi Trump, konsep ‘pivoting’ lebih penting. Ganti dulu, setelah itu baru direkayasa.
Akankah demo rakyat Iran berhasil menumbangkan rezim Mullah? Pastinya, rakyat tahu. AS bukanlah kawan sesungguhnya. AS cukup dijadikan kawan ‘imajiner’ dan pragmatis.
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







