Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Abah Mertua Gus Hayid, KH. Abdul Rokib Wafat

by

BERITABUANA.CO, JEMBER– Kabar duka menyelimuti keluarga besar Pondok Pesantren Skill Nurul Hayat, Jember. Abah Mertua Pengasuh pesantren, Dr. KH. Muhammad Nur Hayid yakni KH. Abdul Rokib wafat di Jember, Jum’at (1/5/2026)

Kabar wafatnya kiai yang dikenal tawadhu dan istiqamah dalam mengajar Al-Qur’an disampaikan langsung oleh Gus Hayid sapaan akrab Dr. KH. Muhammad Nur Gus Hayid.

KH. Abdul Rokib dikenal sebagai sosok yang telaten dalam mendampingi santri, terutama dalam menyimak bacaan Al-Qur’an. Di lingkungan pesantren dan masyarakat, beliau dipandang sebagai pendidik yang rendah hati, berakhlak mulia, serta konsisten menjaga tradisi keilmuan Al-Qur’an.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Selamat Jalan Pejuang Al-Qur’an. Lebih dari 40 tahun panjenengan khidmah ngalap berkah dan syafaat Al-Qur’an dengan ngajarin ngaji anak-anak kampung sekitar rumah, ” kata Gus Hayid.

“Sudah seribuan lebih dari mereka yang pernah merasakan cara mengajar panjenengan. Mulai dari mengenal Alif, Ba’, Ta’ huruf hijaiyah hingga menghafal Al-Qur’an dan memahami tata cara sholat lengkap plus artinya. Karena abah selalu meminta para santri kecilnya untuk membaca bersama setelah menerima setoran ngaji, ” sambung Penasehat Pesantren Skill Jakarta, Lumajang dan Jember ini.

Gus Hayid menuturkan, selama mengajar Almarhum tidak pernah meminta bayaran dan menarik syahriyah walau seribu rupiah. Menurutnya, semua itu dilakukan hanya untuk totalitas khidmat dan ingin barokah.

“Kini para santrinya beliau sudah ada yang hafal Qur’an, banyak yang jadi guru ngaji, ada yang jadi anggota DPRD, ada yang kuliah di luar negeri dan juga masih ada yang lanjut sekolah di Mesir,” ujarnya.

Gus Hayid pun mengaku bangga atas dedikasi dari Abah mertuanya.

“Subhanallah. Kami bangga kepada panjenengan abah. Sugeng tindak abah. Suwargi dan Alquran sedang menunggu panjenengan. InsyaAllah, panjenengan bahagia di alam sana karena sudah bertemu langsung dengan kekasih panjenengan, kanjeng Nabi Muhammad SAW dan Alquran. Kulo saksi panjenengan engga pernah lepas tasbeh untuk membaca ribuan sholawat setiap hari sejak puluhan tahun lalu, ” ungkapnya.

Gus Hayid mengaku akan melanjutkan perjuangan dari Almarhum dalam mensyiarkan Al Qur’an.

“Abah, maafkan kami putra putri panjenengan yang banyak salah khilaf. Semoga kami semua bisa ikut meneladani istikomah panjenengan mengajar lebih dari 40 tahun ikhlas lillahi taala. InsyaAllah, kami lanjutkan perjuangan panjenengan khidmat untuk umat dan Al-Qur’an. Panjenengan ‘min ahli jannah’ InsyaAllah. Panjenengan khusnul khatimah InsyaAllah, ” ucapnya.

“Gusti Allah saking sayangnya kepada panjenengan memilih dinten Jum’at sebagai hari wafatnya. Dimakamnkan Jum’at juga dengan diiringi doa para kiai dan alim ulama di Jember. InsyaAllah panjenengan bahagia di alam kubur bersama rahmat dan kasih sayang Allah. Amien, ” sambung Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta ini.

Gus Hayid meminta do’a dari para sahabat atas wafatnya Abah mertuanya, KH. Abdul Rokib.

“Mohon do’a para sahabat semuanya, semoga Allah ampuni salah khilaf beliau dan Allah terima amal ibadah beliau. Semua keluarga dan anak cucu yang ditinggalkan semoga diberikan kesabaran tanpa batas dan ridho atas takdir Allah SWT. Amien, ” tutup Gus Hayid. (Muhammad Umar Fadloli)