BANYAK perusahaan masih menganggap Corporate Social Responsibility (CSR) selesai setelah mengadakan donor darah, tanam pohon, atau bagi-bagi bantuan sosial. Setelah itu kegiatannya diposting di media sosial, lalu dianggap sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat. Padahal, realitas di lapangan ternyata nggak sesederhana itu.
Bagi perusahaan industri, CSR hari ini bukan cuma soal terlihat “peduli”, tapi juga soal menjaga hubungan sosial agar operasional perusahaan tetap berjalan stabil. Di titik inilah komunitas lokal menjadi stakeholder yang jauh lebih penting dibanding yang sering dibayangkan publik.
Dalam wawancara dengan penulis, Pak Yazid dari tim CSR PT Astra Daihatsu Motor (ADM) menjelaskan bahwa masyarakat sekitar wilayah operasional perusahaan menjadi perhatian utama karena mereka adalah pihak yang paling terdampak langsung oleh aktivitas industri.
“Masyarakat sekitar itu penting karena mereka yang paling dekat dengan operasional perusahaan. Kalau hubungan dengan masyarakat tidak dijaga, potensi konflik sosial bisa muncul,” jelas Pak Yazid.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa hubungan perusahaan dan masyarakat sebenarnya jauh lebih kompleks dibanding sekadar memberi bantuan sosial. Di kawasan industri, komunitas lokal bukan hanya penerima manfaat program CSR, tapi juga pihak yang bisa memengaruhi stabilitas perusahaan secara langsung.
Kalau hubungan perusahaan dan masyarakat berjalan baik, operasional biasanya ikut aman. Tapi ketika komunikasi buruk dan masyarakat merasa tidak diperhatikan, situasinya bisa berubah jadi konflik sosial, protes, bahkan demonstrasi yang akhirnya berdampak ke reputasi dan kegiatan operasional perusahaan.
Karena itu, banyak perusahaan industri mulai sadar bahwa menjaga hubungan sosial sama pentingnya dengan menjaga performa bisnis. Dalam teori stakeholder yang dikenalkan Freeman, perusahaan bukan cuma punya tanggung jawab ke investor atau pemegang saham, tapi juga ke pihak-pihak yang terdampak langsung oleh aktivitas bisnis mereka. Dan komunitas lokal ada di posisi paling dekat dengan dampak tersebut.
Menariknya, pendekatan yang dilakukan perusahaan untuk menjaga hubungan dengan masyarakat ternyata nggak selalu formal. Menurut Pak Yazid, salah satu cara yang paling sering dilakukan tim CSR Daihatsu adalah “duduk bareng” dengan masyarakat sekitar.
Kedengarannya sederhana, tapi justru pendekatan seperti ini yang dianggap paling efektif buat membangun rasa percaya. Lewat obrolan langsung, perusahaan bisa dengar keresahan masyarakat, memahami kebutuhan mereka, sekaligus mencegah kesalahpahaman sebelum berkembang jadi konflik yang lebih besar.
Di tengah era digital ketika banyak perusahaan sibuk membangun citra CSR lewat media sosial, komunikasi tatap muka ternyata masih jadi pendekatan yang paling efektif buat komunitas lokal.
Menurut tim CSR Daihatsu, komunikasi interpersonal jauh lebih mudah membangun kedekatan emosional dibanding hanya mengandalkan publikasi digital atau komunikasi formal.
Pendekatan ini juga menunjukkan kalau CSR sekarang mulai bergeser dari sekadar kegiatan simbolik menjadi sesuatu yang lebih partisipatif dan berkelanjutan. Pergeseran itu terlihat dari bagaimana perusahaan mulai melakukan social mapping sebelum menjalankan program CSR.
Pak Yazid menjelaskan bahwa Daihatsu melakukan pemetaan sosial untuk memahami kebutuhan masyarakat dan menentukan program yang paling relevan dengan kondisi di lapangan. Bahkan, perusahaan melibatkan konsultan eksternal supaya data yang didapat lebih valid dan objektif.
Artinya, program CSR nggak lagi dibuat hanya berdasarkan asumsi perusahaan, tapi benar-benar melihat kondisi sosial masyarakat secara langsung. Karena dalam banyak kasus, program CSR gagal bukan karena kekurangan dana, tapi karena perusahaan sebenarnya nggak memahami kebutuhan masyarakatnya.
Hal menarik lainnya adalah bagaimana Daihatsu memandang konsep “dampak” dalam CSR. Dalam wawancara tersebut, Pak Yazid menyebut bahwa aktivitas seperti donor darah dan tanam pohon tidak otomatis dihitung sebagai beneficiaries atau penerima manfaat utama program CSR perusahaan.
“Donor darah dan tanam pohon tidak dihitung sebagai beneficiaries karena penerima manfaatnya tidak jelas dan tidak berkelanjutan,” ujarnya.
Pernyataan ini cukup menarik karena secara nggak langsung menyentil praktik CSR yang terlalu fokus pada kegiatan seremonial dan publikasi.
Selama ini banyak perusahaan berlomba terlihat aktif secara sosial di media, padahal dampak jangka panjangnya belum tentu terasa buat masyarakat.
Sebaliknya, Daihatsu mulai mengarahkan CSR ke program yang lebih berkelanjutan. Salah satunya lewat program pendidikan vokasi “Kelas Dojo” yang mulai berjalan sejak 2019. Program ini nggak cuma memberikan bantuan pendidikan, tapi juga mengenalkan budaya industri, safety, dan keterampilan manufaktur ke siswa SMK.
Menurut Pak Yazid, pendekatan pembinaan seperti ini memang dirancang supaya masyarakat atau institusi mitra bisa berkembang secara mandiri dalam jangka panjang. Bahkan perusahaan punya tahapan pembinaan tertentu sebelum sebuah komunitas dianggap cukup mandiri untuk dilepas. Hal ini menunjukkan kalau CSR modern mulai bergerak dari konsep charity menuju sustainability.
Menurut Prima, anggota tim CSR Daihatsu, pada awalnya program CSR perusahaan di sekitar tahun 2010 masih banyak berupa donasi dan kegiatan filantropi. Namun seiring waktu, perusahaan mulai mengadopsi empat pilar utama CSR yang fokus pada pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Perubahan pendekatan ini penting karena tantangan industri hari ini bukan cuma soal mencari keuntungan, tapi juga bagaimana perusahaan mempertahankan kepercayaan sosial di tengah masyarakat.
Sayangnya, masih banyak perusahaan yang melihat CSR hanya sebagai kewajiban administratif atau alat membangun citra. Akibatnya hubungan dengan masyarakat jadi dangkal dan mudah retak ketika muncul persoalan sosial di sekitar industri.
Padahal, komunitas lokal sebenarnya nggak selalu menuntut bantuan besar dari perusahaan. Dalam banyak situasi, mereka lebih membutuhkan keterbukaan, komunikasi yang rutin, dan rasa dihargai sebagai bagian dari lingkungan industri tersebut. Ketika masyarakat merasa didengar, potensi konflik biasanya jauh lebih mudah ditekan.
Pada akhirnya, komunitas lokal menjadi stakeholder paling penting bagi industri bukan semata-mata karena mereka bisa melakukan demonstrasi atau penolakan sosial. Lebih dari itu, mereka adalah pihak yang menentukan apakah sebuah perusahaan benar-benar diterima sebagai bagian dari lingkungan sosialnya.
Dan mungkin, di tengah ramainya kampanye CSR digital hari ini, kemampuan perusahaan untuk “duduk bareng” dan mendengarkan masyarakat justru jadi bentuk CSR yang paling relevan.
*Gelegar Widya Utomo* – (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN VJ)







