Paradoksnya Argumentasi dan Tatanan

by
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Istimewa)

ARGUMENTASI, acap paradoks dengan prinsip dan tatanan. Argumentasi, merupakan ‘benchmarking’ kesehatan intelektual. Gaza, Venezuela, Greenland, Iran, adalah bentuk kegagalan kesehatan intelektual.

Bagi demokrasi modern, argumentasi menjadi hal yang vital. Bila tidak, maka demokrasi hanya menjadi slogan dan “eggheads” semata.

Argumentasi membasmi teroris Hamas (Palestina), penangkapan Presiden Venezuela, menganeksasi Greenland (Denmark), menginvasi Iran bila pendemo ditembak. Merupakan “eggheads”, metafora  kesombongan!

Diksi yang digunakan seenaknya dalam bahasa gaul AS, disindir sebagai “eggheads”. Metafora, atau ‘tamsil yang tidak bisa diterima publik (negatif), tidak logis, tak sesuai fakta. Diibaratkan sebagai “orang berkepala telur”.

“Eggheads”, akan menghasilkan diksi “ngawur”-agresif, dan tindakan semaunya, seperti menanam benih kehancuran global. Membelah dua Gaza, menggeser patok kuning melebihi kesepakatan, menangkap Presiden negara berdaulat, merupakan “eggheads”.

Teori demokrasi dan hukum universal, pun kini mati oleh karakter “eggheads”. Semua bangsa tengah merasa terancam dan gelisah, suatu hari nanti mereka akan diperlakukan juga seperti Venezuela, Iran, Lebanon, Palestina (Gaza).

Apa yang dilakukan AS terhadap Venezuela, seperti “memuja” ketidaktahuan yang sebenarnya di ketahui. Genosida di Gaza, pun termasuk satu “ketidaktahuan” yang dianggap baik. AS telah melindungi egonya yang rapuh, terhadap hal yang dianggap keliru.

Venezuela, dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro,  membuncahkan ketidaksetujuan inklusif. Inklusifitas tidak membincangkan Nicolas Maduro, sosok baik atau jahat. Lantas, masuk ke negara lain, menangkap presidennya, “how”?

Ini bukan skeptisisme terhadap keadaan geopolitik. Namun lebih pada, proses matinya kepakaran hukum internasional, konvensi, serta, ‘knowledgement’ yang menjadi dasar tindakan negara.

Seperti “komedi tengah malam”, tanpa penonton. Para pembeli tiket, cukup membaca sinopsisnya. AS di bawah Trump, telah menciptakan sinopsis untuk Palestina, Greenland, dan Venezuela 3-5 tahun ke depan.

Unipolar, pasca-Perang Dingin,  melahirkan sistem dominasi tunggal yaitu AS. Dominasi ini, menemukan momentumnya ketika kepemimpinan AS dijabat oleh Donald  Trump yang “Trumpisme”.

“Trumpisme”, merupakan perpaduan populisme sayap kanan, nasionalisme, dan otoritarianisme kompetitif. Bentuknya adalah: “American First”, anti-imigrasi, deregulasi ekonomi, dan proteksionisme.

Kehebohan “Perang Dagang” yang hingga sekarang masih terasa, merupakan bagian dari ‘nativisme’ sebagai penolakan terhadap pluralisme, dan pendekatan hukum-ketertiban, bergaya anti-kemapanan.

Pendekatan Trump terhadap perang Rusia-Ukraina, dan pujian Trump pada tokoh jihadis Ahmed Al-Sharaa (Presiden Suriah), serta ancaman menganeksasi Greenland yang notabene milik sahabat NATO-nya. Itulah ‘Trumpisme’.

Gaya pragmatis Donald Trump terhadap kawan, atau lawan, telah melahirkan kebingungan inklusif. Seperti pernah digambarkan ‘Kritikus Seni’, Robert Hughes tentang AS di akhir abad-20.

Masyarakat Amerika terobsesi ketidakpercayaan kepada politik formal. Secara kronis skeptis pada pemerintahnya. Mereka juga melihat tanda ‘elitisme’ yang berbahaya dan melumpuhkan dialog demokrasi sejati.

Terbukti, penangkapan Nicolas Maduro, sebagai wujud lumpuhnya demokrasi sejati. Ancaman Trump terhadap Kolombia, juga menjadi ‘warning’, bahwa Venezuela bukanlah peristiwa terahir dalam ‘sinopsis’ AS.

Greenland dan Iran

Invasi AS ke Iran, mungkin dianggap logis secara geopolitik. Karena AS yang kehilangan  Iran (setelah Reza Pahlevi jatuh 1979). Ingin mengambil kembali Iran. Namun, menyerang Greenland dan menganeksasinya, ini ‘extraordinary’.

Sepak terjang “Trumpisme”,  akan melampaui teori apa pun, bila itu terjadi. Sebagai sesama 12 negara  pendiri NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara), Denmark yang memiliki semi-otonom Greenland, telah men-declared, jika AS memilih menyerang negara NATO lain, semuanya akan berakhir.

PM Denmark Mette Fredriksen,  dikutip “Guardian” (5 Januari 2025) mengingatkan AS.

Aliansi militer (NATO) mungkin akan terus ada. Namun efektifitasnya akan dipertanyakan secara mendasar. Karena, Rusia bakal sangat diuntungkan dan memang berharap AS melakukan tindakan menyerang Denmark.

Ketidakpastian NATO (trans-atlantik) sudah terbaca sebelum keributan soal Greenland. Ketidakpastian itu, dipicu  gagalnya upaya AS memaksa Ukraina, mengikuti maunya Rusia.

Mengadopsi rencana 28 poin Rusia untuk menyerahkan wilayah Ukraina, sebagai pertimbangan pendahuluan  gencatan senjata. Trump, nampaknya ingin perang Ukraina-Rusia berakhir sekalipun dengan konsesi menguntungkan Rusia. Sementara negara Eropa lain, nampak keberatan.

Akan seperti apa dunia, setelah ini? Apakah kasus Venezuela, Greenland, dan Gaza,  makin memperkuat Trump? Atau justru memunculkan perlawanan sengit dalam bentuk “terorisme politik”, atau pembunuhan politik?

Saya teringat pada dua nama yang mewarnai terorisme politik era 70-80 hingga 90-an: Abu Nidal (Palestina) dan Illich Ramirez Sanchez alias Carlos (Venezuela).

Baik Abu Nidal, maupun Carlos memerintahkan serangan di 20 negara: termasuk Bandar udara Roma, menyerang markas OPEC (Wina), tempat penjualan tiket pesawat Israel, dan banyak lagi.

Keduanya muncul, karena paradoksnya ‘tatanan’ dan argumentasi. Kekerasan politik, bisa lahir kembali di kala demokrasi hanya menjadi milik “orang berkepala telur” (Eggheads).

*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co