BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kepala KSOP Tanjung Priok, Capt Heru Susanto menyatakan ada tiga rencana prioritas dalam waktu dekat yang saat ini disiapkan KSOP Tanjung Priok, yakni Bisnis Contnuity Management System (BCMS), Kerjasama dengan Kantor Imigrasi terkait Penerbitan Buku Pelaut, dan Satu Komando terkait Penanganan Tumpahan Minyak (Oil Boom).
Dalam sambutannya saat membuka Orientasi Wartawan bertema “Peluang dan Tantangan Bisnis di Pelabuhan Tanjung Priok 2026” yang diselenggarakan Indonesia Port Editor Club (IPEC) di Jakarta, Selasa (9/12/2025), Capt. Heru menegaskan dinamika bisnis dan kegiatan di pelabuhan bergerak cepat dan dinamis termasuk dari sisi regulasi.
“Apalagi Pelabuhan Tanjung Priok sedang alami transformasi besar dalam menciptakan daya saing di Pelabuhan Priok sebagai pelabuhan internasional,” ujar Capt Heru, seraya menyebutkan BCMS itu juga berkaitan dengan penanganan cyber security di pelabuhan.
Sementara itu, EGM Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputera menuturkan saat ini pelabuhan Tanjung Priok menjadi tujuan utama dari kapal-kapal dalam maupun luar negeri, dengan mengandle 65% kargo ekspor impor ataupun domestik.
“Jadi jangan sampai pelabuhan terganggu oleh persaingan bisnis karema bisa merubah peta bisnis yang ada pelabuhan,” tandas Yandri.
Ketua INSA Jaya, Andi Pattonangi mengatakan diperlukan modernisasi, kolaborasi dan strategis yang tepat, menjadikan Tanjung Priok srbagai lokomotif pertumbuhan logistik dan pelayaran Indonesia menuju 2026, sehingga peluang bisnis yang terintegrasi tetap tumbuh dengan baik.
Ketua ALFI DKI Jakarta Adil Karim mengemukakan peluang aktivitas logistik tahun 2026 masih cerah, lantatan aktivitas transportasi dan pergudangan akan menjadi penopang potensi pertumbuhan ekonomi 2026 yang didorong kebutuhan e-commerce dan rantai pasok.
“Disisi lain, isu lingkungan juga kini menjadi relevan, dan peluang bisnis muncul dengan layanan logistik yang ramah lingkungan seperti penggunaan kendaraan listrik untuk pengiriman last-mile, optimasi rute untuk mengurangi emisi,” ucap Adil.
Adapun tantangannya saat ini, kata Adil, regulasi dan kebjiakan terutama berkaitan dengan kendaraan over dimension dan overload (ODOL), pembatasan angkutan barang saat Hari Raya dan Nataru.
Kendala lainnya adalah, lanjut Adil Karim, keterlambatan adaptasi tehnologi dan kurangnya infrastruktur digital, ketidakpastian geopolitik serta yang berkaitan dengan kompetensi sumber daya manusia atau SDM.
Ia menyebutkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga Oktober 2025 sebeaar 5,05%. Adapun pertumbuhan sektor logistik tahun 2025 di proyeksi postif dengan pertumbuhan 12,53% untuk subsektor transportasi dan pergudangan.
“Pertumbuhan itu juga didorong oleh pembangunan infrastruktur, digitalisasi dan pesatnya pertumbuhan e-commerce,” pungkas Adil Karim. (Yus)







