BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kemunculan awan pelangi di langit Jonggol, Bogor, membuat heboh warga sekitar. Warga dihebohkan dengan penampakan awan pelangi di langit Jonggol, Bogor. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa peristiwa tersebut umum terjadi berkaitan dengan optik atmosfer.
Kehebohan itu sendiri muncul saat masyarakat sekitar melihat pelangi tersebut di Jalan Jeprah, Jonggol. Mereka melihat sebelah kanan seperti ada pelangi.
Melebar kepada sejumlah pengendara lainnya yang juga melihat danĀ memperlambat laju kendaraan. Bahkan sebagian lainnya menepi ingin menyaksikan peristiwa itu.
Ada pengendara yang mengarahkan kamera ponselnya ke arah lintasanĀ untuk menangkap momen langka tersebut. Lalu lintas di Jonggol sempat tersendat kala itu.
Menjawab hal itu, Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, mengatakan, fenomena awan menyerupai pelangi itu adalah umum berkaitan dengan optik atmosfer.
“Fenomena yang terlihat pada video tersebut merupakan peristiwa yang umum terjadi dalam atmosfer dan berkaitan dengan optik atmosfer,” ungkapnya, Sabtu (2/5/2026)
Menurut Ida, warna pelangi muncul karena cahaya matahari berinteraksi dengan butir air di udara. Dan butir air itu sisa dari hujan.
“Warna pelangi muncul karena cahaya Matahari berinteraksi dengan butir-butir air di udara, baik dari sisa hujan maupun hujan yang sedang terjadi di sisi lain wilayah Sentul seperti pada video tersebut,” tuturnya.
Ida menambahkan, tampak ada awan yang disebut towering cumulus menutupi sebagian pelangi. Karena itulah, bentuknya menjadi terlihat tidak utuh atau tampak seperti ‘awan pelangi’.
“Pada saat yang sama, tampak adanya awan towering cumulus yang dapat menutupi sebagian pelangi, sehingga bentuknya terlihat tidak utuh atau tampak seperti ‘awan pelangi’,” katanya.
Kendati demikian, Ida mengatakan ‘awan pelangi’ itu bukan tanda akan terjadi bahaya. Awan Pelangi itu menunjukkan adanya proses pertumbuhan awan konvektif dan kemungkinan hujan lokal.
“Fenomena ini bukan tanda langsung akan terjadi badai, melainkan menunjukkan adanya proses pertumbuhan awan konvektif dan kemungkinan hujan lokal di sekitar wilayah tersebut, meskipun titik pengamat masih dalam kondisi cerah atau belum mengalami hujan,” jelasnya. (Ram)







