Oleh: Agus Widjajanto*
PARA Pendiri bangsa (Founding Fathers) kita, dalam membentuk konsep dan tatanan Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI ini, sangat luar biasa, dimana mempunyai Visi Misi kedepan yang melampaui jamannya, dimana dalam pasal-pasal dan bunyi pembukaan (Preambule) dari UUD 1945, telah mengadopsi beberapa kosa kata dari bahasa yang berasal dari Kitab Suci kaum Moeslim yakni Alquran, yang mana para pendiri bangsa salah satunya adalah H. Agus Salim, memasukan dalam bahasa ketatanegaraan kita yang hingga kini menjadi bahasa sehari-hari dalam kaitan berbangsa dan bernegara seperti, rakyat, musyawarah, wakil, adil. Dan bahkan menurut tafsir Al Qurtubhi, kata Nusantara kosa kata tersebut diadopsi dan diabadikan dalam Alquran.
Para Founding Fathers kita memahami sebagai Negara baru yang penduduknya mayoritas Moeslim, harus dibentuk dengan dasar-dasar kekuatan ajaran Moeslim, walau Negara Kesatuan yang didirikan bukan negara Agama. Pada saat diproklamasikan kemerdekaan Oleh Soekarno-Moh. Hatta di Pegangsaan Timur, pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan kemerdekaan bangsa, baru setelah satu hari kemudian disyahkan Dasar Negara Pancasila dan Hukum Dasar/Kontitusi tertulis baru terjadi berdirinya Negara secara dijure.
Fenomena akhir-akhir ini, para kaum milenial sudah tergerus akan nilai-nilai budaya asing, baik dari budaya Barat, maupun budaya Timur Tengah, yang menganggap budaya-budaya tersebut adalah budaya agama dan lebih baik dari budaya sendiri. Ini sangat mengkhawatirkan serta memprihatinkan, karena minimnya akan pelajaran dan pengetahuan sejarah bangsanya sendiri. Bahkan salah satu ustad yang besar di media sosial, menyatakan cinta Tanah Air tidak ada dalilnya, dalam Agama.
Hubbul Waton Minal Iman
Berkaitan dengan cinta tanah air ada pesan dari Rosullullah Nabi Muhammad SAW, yang hal ini berkaitan dengan sebuah hadist yakni “Hubbul Waton Minal Iman” yang artinya mencintai Bangsa merupakan tanda keimanan, berdasarkan suatu riwayat, saat Perang Uhud, dimana Rosullullah menetap di Kota Madinah, yang tidak hanya didiami kaum Moeslim saja, akan tetapi ada Nasrani/Kristiani dan kaum Yahudi, diserang oleh orang-orang suku Kurais, dan saat itu Rosullullah mengajak seluruh masyarakat baik Moeslim maupun Nasrani dan kaum Yahudi untuk mempertahankan Kota Madinah dari serangan tersebut, dan gugurlah saat itu salah satu dari orang Yahudi yang bernama Mukhoirik yang sebelum berangkat perang telah mewakafkan seluruh hartanya kepada Nabi Muhammad saat itu, dan setelah Mukhoirik gugur, harta yang ditinggalkannya dijadikan modal awal terbentuknya Baitul Mall -dari sinilah modal awal Baitul Mal justru dari kaum bangsa Yahudi (Sumber dari tausiyah Gus Islah Bahrawi pemikir intelektual muda NU)-.
Demikian juga saat mencetuskan Piagam Madinah yang merupakan piagam perdamaian agar bisa hidup berdampingan saling menghargai bertoleransi dalam kehidupan yang majemuk, justru dimulai dan dipraktekkan oleh Rosullullah. Kejadian kedua sejarah Islam tersebut menjadi salah satu acuan dan pertimbangan para ulama yang masuk dalam Team 9 yang diketuai oleh Soekarno dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), menyusun Dasar Negara dan Hukum Dasar dari Negara Kesatuan yang baru berdiri. Sifat keberanian dan kecerdikan serta wawasan yang menjangkau melampaui jamannya yang tidak lepas dari upaya dan kehendak Yang Kuasa atas sejarah bangsa ini. Orang bisa beribadah menjalankan sesuai ajaran Agamanya masing-masing baik Moeslim, Kristen Protestan dan Katolik, Hindu, Budha, aliran kepercayaan adalah adanya sebuah negara yang stabil, baik secara politik dan keamanannya. Tanpa hal itu, maka masyarakat mustahil bisa menjalankan ibadah dengan tenang untuk bisa terciptanya kestabilan politik dan keamanan, karena adanya pertahanan yang kuat dari sebuah Negara, karena adanya rasa cinta Tanah Air dan bangsanya, yang secara otomatis ikut bertanggung jawab atas kondisi bangsa tersebut.
Kembali kepada jiwa korsa dari para pendiri bangsa saat itu, begitu ikhlas berjuang tanpa memikirkan dirinya dan apa yang akan didapat dari perjuangan tersebut, dikarenakan para pendiri bangsa sanggup mereduksi bahwa bangsa Eropa yang besar dan persenjataan dari segi militer sangat besar, menjadi sebuah semangat bahwa hal itu adalah sebuah perjuangan hidup mati agar bisa mengalahkan dan menghancurkan. Bangsa Eropa tersebut, menjadi obyek yang harus dimusnahkan, itulah semangat 1945, dimana para pendiri bangsa telah menjadi singa-singa di Negerinya, sendiri untuk mengusir penjajahan Kolonialisme dari kelompok besar dan persenjataan kuat, menjadi obyek yang kecil dan lemah imata para pejuang pendiri bangsa. Bahwa untuk menjadi singa-singa, kuncinya adalah mentalistas/keberanian yang luar biasa untuk bisa dan mampu mereduksi sebuah kekuatan besar menjadi kekuatan kecil, merupakan perpaduan antara 60 persen keberanian dan 40 persen kecerdasan baik kecerdasan Poltak berupa olah pikir maupun kecerdasan olah hati atau iman keyakinan kita, tanpa mengurangi rasa hormat ada guru besar yang saat pidato pengukuhannya, dihadapan mahasiswa menyatakan bahwa kesuksesan dipengaruhi dan ditentukan oleh 80 persen keberanian atau mentalitas dan 29 persen adalah kecerdasan pikiran. Kiranya secara presentasi penulis tidak sependapat, dimana secara logika, prelosentasinta adalah 60 nyali/keberanian dalam mengambil keputusan dan 20 persen kecerdasan. Itulah jiwa dan semangat dari singa-singa penguasa Nusantara ini, agar negeri ini senantiasa diberikan kekuatan agar para generasi milenial bisa mempelajari sejarah bangsanya agar rasa cinta Tanah Air bisa tumbuh dan semangat berjuang demi bangsa dan negaranya.
Situasi geopolitik dan strategis global, maupun regional, harus menjadi pemikiran bersama anak bangsa dari masyarakat umum, pengambil keputusan, dalam hal ini lemimpin bangsa baik level tertinggi maupun dalam intitisi pertahanan keamanan. Perang Rusia-Ukraina yang sudah bertahun-tahun, perang bersenjata Israel-Hamas, dan imbasnya ke Palestina dan negara-negara sekitar, pemblokade Laut Merah oleh Houty Yaman, sengketa Nine Dast Line antara China dengan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia, Malaysia, Philipines, Vietnam, belum lagi wilayah kita yang sebenarnya telah dikepung oleh pangkalan-pangkalan militer milik negara Adidaya Amerika Serikat, yang mempunyai pangkalan laju di Philipines, Singapure, Darwin, pulai Crismast, benar-benar harus diwaspadai sebagai negara Kepulauan, dan sangat beruntung para pendahulu kita para petinggi militer kita sudah sejak awal menetapkan sistem Pertahanan Rakyat Semesta, dimana TNI/Polri akan melibatkan rakyat dalam Perang Demesta jikalau terjadi invasi militer dari luar. Namun yang paling diwaspadai justru serangan perang Proxi, yang menggunakan orang-orang kita didalam negeri menjadi agen-agen asing untuk melakukan penghancuran dari dalam, baik lewat budaya, agama, maupun dalam bentuk serangan syber dengan kemajuan tehnologi IT. Ini yang harus kita waspadai, politik pemecah belah dan penguasaaan sejarah bangsa yang dimanipulasi, makam-makam leluhur yang diganti dipalsukan menjadi keturunan asing yang dalam kurun waktu 20 tahun kedepan anak-anak muda akan kehilangan jejak sejarah Nenek Moyangnya, leluhurnya sendiri, yang diklaim menjadi peran berdirinya negara dan agama di negeri ini merupakan peran mereka. Ini modus perang Proxi, modus para agen asing pengkianat bangsa dan sejak Nabi-Nabi selalu ada, termasuk saat Revolusi tahun 1945, baik sesudah maupun sebelumnya.
Maka belajarlah dari sejarah dan jangan sekali-kali melupakan sejarah bangsa mu pada masa lalu agar kita bisa belajar dan memetik hikmah dari kesalahan masa lalu dijadikan pembelajaran masa kini. ***
* Penulis adalah
Praktisi Hukum dan Pemerhati Sosial, Budaya, Hukum, Politik dan Sejarah Bangsa ini.







