KMI Bakal Membahas Urgensi Penguatan Moderasi Beragama dalam Menangkal Arus Intoleransi

by
Direktur Eksekutif Salemba Institute, Edi Homaidi.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ketua Kaukus Muda Indonesia (KMI) Edi Homaidi melihat kalau belakangan ini, isu kerukunan umat beragama disorot oleh pelbagai pihak termasuk dunia internasional. Hal tersebut salah satunya dipicu oleh meningkatnya aksi intoleransi dan kekerasan atas nama agama.

“Kondisi ini kian membenarkan fakta bahwa Indonesia memang ‘darurat intoleransi’,” kata Edi Homaidi dalam keterangan pers tertulisnya, Rabu (28/4/2021).

Laporan riset Setara Institute tentang Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) ke-14/Tahun 2020 yang dirilis awal bulan ini (6/4/2021) menunjukkan bahwa aneka pelanggaran atas KBB, intoleransi dan diskriminasi masih terus memprihatinkan, bahkan di tengah pandemi Covid-19 sekalipun.

Setara mencatat terdapat 180 peristiwa dan 422 tindakan pelanggaran KBB sepanjang pandemi tahun 2020. Bahkan, hari-hari ini kita juga menyaksikan beberapa aksi terorisme dan penangkapan terduga teroris, yang mengancam kedamaian kita dalam tata masyarakat bhineka.

“Pada titik inilah kita bisa menarik kesimpulan, bahwa salah satu yang menyebabkan tumbuh kembangnya aksi kekerasan atas nama agama (intoleransi) adalah karena agama kerap dijadikan instrumen untuk menjustifikasi tindakan kekerasan,” sebutnya.

Bahkan, menurut dia, banyak kelompok-kelompok yang kerap menebarkan kebencian disertai dengan kekerasan dengan menggunakan paham keagamaan dan keyakinan untuk menjustifikasi tindakannya itu. Maka konsekuensinya, agama yang semestinya mengajak kepada keadilan dan kedamain berubah menjadi instrumen yang ampuh untuk mengobarkan kebencian dan kekerasan.

“Karenanya, menjauhkan agama dari fungsionalisasi dan politisasi kekerasan merupakan sebuah keniscayaan agar agama berperan bagi pencerahan umat dalam rangka menegakkan keadilan dan kedamaian. Atas dasar itulah, problem intoleransi harus disikapi secara serius dan pentingnya penguatan moderasi beragama terutama dalam konteks dunia pendidikan,” lanjut eksponen Himpunan Mahasiswa Islam (HM) itu.

Sebab di akui atau tidak, masih menurut Edi Homaidi, intoleransi merupakan tindakan yang mengingkari hidup bersama dalam damai. Intoleransi menegasikan toleransi, sebagai sebuah tindakan yang dapat mengganggu hidup rukun, intoleransi tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan sebuah perbuatan yang dibangun oleh gejala-gejala sosial yang secara terang-benderang telah mendorong tumbuhnya intoleransi.

“Untuk itu, dalam menangkal intoleransi dan anarkisme kekerasan atas nama agama salah satu kuncinya adalah moderasi beragama harus dibangun secara sistematis, terstruktur, dan masif. Selain itu, perlu adanya upaya-upaya serius terutama dalam konteks dunia pendidikan,”

Terkait hal dimaksud KMI, akan mengupas secara tuntas permasalahan intoleransi dalam sebuah diskusi yang mengambil tema “Urgensi Penguatan Moderasi Beragama dalam Menangkal Arus Intoleransi” pada tanggal 29 April 2021, Jam 15.00-17.00 WIB. Maksud dari kegiatan ini adalah untuk menghadirkan pelbagai perspektif dari pakar terkait dengan pola pencegahan serta cara yang efektif menghentikan kemunculan aksi-aksi intoleransi yang mengancam kebhinnekaan.

“Tujuan dari kegiatan diskusi ini adalah untuk memberikan edukasi dan pencerahan kepada seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa merawat kebhinnekaan Indonesia sehingga selalu tercipta hidup damai, rukun, dan harmonis satu sama lain meski berbeda secara agama, suku dan etnis. Serta Menghimpun ide-ide dan pemikiran dari pelbagai pihak untuk dijadikan masukan dan alternatif solusi dalam konteks menjaga dan merawat kebhinnekaan Indonesia dari pelbagai bentuk ancaman intolerasi yang semakin masif dan mengkhawatirkan,” paparnya.

Dikusi akan menghadirkan sejumlah narasumber berkopenten dibidangnya, seperti Prof.Dr. Media Zainul Bahri, MA., (Guru Besar Fak. Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Abdul Rochman (Stafsus Kemenag RI/Sekjen PP GP ANSOR), Mohamad Guntur Romli (Poitisi PSI & Penulis Buku “Islam Tanpa Diskriminasi, Menegakkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin”), dan Moch. Eksan
(Intelektual Muda Nadhlatul Ulama). (Asim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *