Hasto: Jika Sejarah Dibelokkan, Hambat Kemajuan Berfikir Bangsa

by
Hasto-Kristiyanto
Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mencermati dengan seksama berbagai bentuk kampanye hitam yang syarat dengan irasionalitas dan pembodohan nalar pikir. Jika belajar dari filsafat dan tata nilai yang hidup di masyarakat, serta rekam jejak sejarah peradaban bangsa, maka Indonesia adalah bangsa terbuka; pelopor kemajuan dan memiliki peninggalan sejarah yang menjadi salah satu keajaiban dunia.

“Ironisnya, saat ini ada kelompok tertentu yang menggunakan sejarah sebagai alat politik, lalu dibelokkan, dan menjadi gerakan yang menghambat kemajuan alam pikir bangsa,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto dalam siaran pers yang diterima wartawan, Kamis (9/7/2020).

Hasto Kristiyanto menyebut soal isu penggantian ideologi Pancasila yang ramai akhir-akhir ini dan menyeret nama PDI Perjuangan.
Hasto menjelaskan, Pancasila sebagai ideologi bangsa, sumber dari segala sumber hukum, dan mendasari pembentukan konstitusi, dalam konstruksi meta legal itu, Pancasila termaktub di pembukaan UUD 1945. Begitu pun, Pancasila sebagai filsafat telah hidup dalam sanubarinya rakyat. Ditegaskan, pembukaan konstitusi itu tetap dan abadi, jadi Pancasila itu final.

“Karena itulah ketika ada yang menuduh hanya dengan membahas rancangan undang-undang, lalu dianggap sebagai mengubah ideologi dan falsafah dasar sama saja dengan pembodohan nalar publik. Cara-cara yang tidak berkeadaban seperti ini sangat tidak sesuai dengan budaya bangsa,” katanya.

Selanjutnya, Hasto Kristiyanto mengingatkan, harus dipahami bahwa Pancasila sebagai ideologi negara telah terbukti efektif menyatukan, memberikan arah, dan seharusnya sebagai skala prioritas saat ini adalah membumikan Pancasila tersebut di dalam seluruh kehidupan, termasuk berlomba menebar kebaikan untuk rakyat serta membangun masa depan bangsa agar lebih makmur dan lebih berkeadilan.

Dia mengajak semua masyarakat supaya perlu belajar dari sejarah runtuhnya peradaban suatu bangsa, bahkan sejarah perpecahan suatu negara pun harus menjadi pembelajaran bersama. Jangan sampai apa yang terjadi di Korea, Yugoslavia, dan konflik tak kunjung usai di Timur Tengah terjadi di Indonesia.

“Karena itulah mengingat ideologi itu menyentuh aspek fundamental kehidupan berbangsa, maka aparat penegak hukum tidak perlu ragu. Ekstrim kiri dan ekstrim kanan jelas bertentangan dengan Pancasila,” pungkasnya. (Asim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *