BERITAUANA.CO, JAKARTA — Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Indonesia mulai menyoroti dampak yang dinilai jauh lebih berbahaya daripada lonjakan harga energi. Pemerintah memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu krisis pupuk global yang dapat mengancam ketahanan pangan dan memicu kelaparan, terutama di negara-negara Asia yang bergantung pada jalur logistik dan pasokan dari kawasan tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta, mengatakan ancaman terbesar dari eskalasi konflik di Timur Tengah bukan semata kenaikan harga minyak, melainkan potensi terhentinya distribusi pupuk dan perdagangan internasional yang menopang kebutuhan miliaran penduduk dunia.
“Begitu pergerakan terhenti di kawasan ini, seluruh dunia akan menghadapi masalah,” kata Anis Matta dalam program One on One bertema Peran Indonesia di Tengah Konflik Global di TVOne, dikutip Minggu (31/5/2026).
Menurut Anis, Asia menjadi kawasan yang paling rentan terhadap dampak konflik karena ketergantungan yang sangat besar terhadap energi dan rantai pasok yang melewati jalur strategis Timur Tengah. Dengan populasi lebih dari empat miliar jiwa, negara-negara Asia mengandalkan Selat Hormuz dan Laut Merah sebagai jalur utama distribusi energi, bahan baku industri, hingga pupuk.
China, India, Jepang, dan negara-negara Asia Tenggara disebut tidak memiliki sumber daya energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik secara mandiri. Kondisi tersebut menjadikan Selat Hormuz sebagai titik kritis yang menentukan stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan kawasan.
“Korban terbesar dari choke point ini adalah Asia, dan ancaman pupuk justru lebih serius dibanding energi,” ujarnya.
Anis menilai persoalan pupuk berpotensi menjadi krisis lintas negara karena sebagian besar negara di Asia dan Afrika masih bergantung pada impor bahan baku maupun produk pupuk untuk menjaga produktivitas sektor pertanian. Di saat yang sama, pasokan dari sejumlah negara produsen utama menghadapi hambatan, termasuk kendala sistem pembayaran internasional yang memengaruhi impor dari Rusia.
“Kita akan punya masalah nanti, masalah pupuk. Dan masalah pupuk ini akan menjadi masalah semua negara di kawasan Asia ini,” katanya.
Selain mengancam sektor pangan, konflik berkepanjangan di Timur Tengah juga dinilai dapat memperburuk kondisi ekonomi global. Anis menyoroti Eropa yang masih bergantung pada impor energi dan menghadapi tantangan daya saing industri ketika harga minyak melonjak tajam.
Ia memperingatkan bahwa apabila jalur logistik utama di Timur Tengah mengalami gangguan dalam waktu lama, dunia bukan hanya menghadapi krisis energi, tetapi juga risiko kelaparan yang semakin nyata.
“Ancaman jangka menengah adalah kelaparan jika perang terus berlanjut. Saya suka mengatakan kepada teman-teman di Timur Tengah, Anda berperang, kami yang mati,” ujarnya.
Menghadapi potensi risiko tersebut, Indonesia disebut terus memperkuat strategi ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong pendekatan diplomasi yang berorientasi pada pembangunan dan perdamaian. Menurut Anis, stabilitas Timur Tengah memiliki pengaruh langsung terhadap perekonomian Indonesia karena gejolak harga energi dapat menekan daya saing industri dalam negeri.
“Ketidakpastian di Timur Tengah sangat merugikan industri Indonesia karena kenaikan harga minyak membuat produk domestik menjadi tidak kompetitif di pasar global,” katanya.
Dalam ranah diplomasi internasional, Indonesia aktif memanfaatkan berbagai forum multilateral, termasuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan BRICS untuk mendorong penyelesaian konflik secara damai.
Anis menegaskan bahwa langkah tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Prinsip tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara yang tidak berpihak pada blok kekuatan besar mana pun, namun tetap berperan aktif dalam upaya menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
“Prinsip ini mendorong Indonesia untuk ikut terlibat dalam forum-forum multilateral, membangun dialog antarnegara, serta menolak segala bentuk penjajahan sesuai amanat Pembukaan UUD 1945,” jelasnya.
Selain mengedepankan diplomasi kemanusiaan, Indonesia juga memperluas kerja sama ekonomi strategis guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan pupuk global. Kementerian Luar Negeri RI saat ini menjajaki peluang investasi dan kerja sama sektor pupuk dengan Laos serta sejumlah negara Timur Tengah dan Afrika Utara, termasuk Yordania, Maroko, dan Aljazair yang memiliki cadangan fosfat besar sebagai bahan baku utama pupuk.
Menurut Anis, posisi Timur Tengah sebagai pusat energi dan logistik global menjadikan stabilitas kawasan tersebut sangat penting bagi perekonomian dunia. Jalur-jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandab menjadi urat nadi perdagangan internasional yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa.
“Timur Tengah merupakan jantung energi dan logistik dunia, terutama melalui titik-titik krusial seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandab yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa,” pungkasnya. (Ery)







