Warga RI Pilih Berobat ke Penang, DPR Soroti Daya Saing Rumah Sakit Dalam Negeri

by
Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) dan anggota Komisi IX DPR RI Irma Chaniago. (Foto : dok pribadi)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Fenomena warga Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke Penang, Malaysia, kembali menjadi sorotan DPR RI. Praktik ini mencerminkan persoalan struktural dalam layanan kesehatan nasional, mulai dari efisiensi pelayanan hingga transparansi biaya, yang membuat rumah sakit dalam negeri kalah bersaing di mata pasien.

Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI, Irma Suryani, menilai tingginya minat masyarakat Indonesia berobat ke Penang bukan semata karena kualitas dokter, melainkan karena ekosistem layanan kesehatan yang lebih tertata, cepat, dan ramah pasien. Hal tersebut ia sampaikan saat kunjungan kerja ke Murni Teguh Memorial Hospital Medan, Kamis (29/1/2026).

Menurut Irma, rumah sakit di Penang menawarkan kombinasi yang sulit ditandingi rumah sakit domestik: proses pendaftaran yang ringkas, jadwal konsultasi yang pasti, teknologi medis mutakhir, serta biaya yang relatif transparan dan terjangkau, bahkan untuk tindakan medis kompleks.

“Pasien mencari kepastian dan kenyamanan. Di Penang, mereka datang, diperiksa, ditangani, dan tahu berapa biaya yang harus dibayar. Di dalam negeri, antrean panjang dan birokrasi sering kali menjadi hambatan,” ujar Irma.

Ia menambahkan, faktor akses geografis turut memperkuat daya tarik Penang, terutama bagi warga Sumatera. Jarak yang dekat, penerbangan singkat, serta paket wisata medis yang terintegrasi membuat berobat ke luar negeri terasa lebih praktis dibandingkan harus menghadapi ketidakpastian layanan di dalam negeri.

Irma mendorong rumah sakit nasional, termasuk di Medan, untuk menjadikan kondisi ini sebagai alarm sekaligus peluang. Menurutnya, peningkatan daya saing tidak cukup hanya pada alat medis, tetapi juga pada hospitality, sistem informasi, dan pengalaman pasien secara menyeluruh.

“Rumah sakit seperti Murni Teguh harus mampu berkembang dengan pelayanan ramah, peralatan modern, dan dokter spesialis berpengalaman internasional agar tidak terus kalah dari rumah sakit negara tetangga,” katanya.

Legislator dari Fraksi Partai NasDem itu menegaskan, pilihan pasien ke luar negeri bukan cerminan lemahnya kompetensi dokter Indonesia. Masalah utama terletak pada tata kelola layanan kesehatan yang belum sepenuhnya berorientasi pada pasien.

“Ini soal sistem: pelayanan, transparansi biaya, teknologi, dan efisiensi. Bukan soal kualitas SDM medis kita,” imbuh Irma yang juga bertugas di Komisi IX DPR RI.

Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Medis Murni Teguh Memorial Hospital Medan, Bangbang Buhari, menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan evaluasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia seiring dengan beban kerja rumah sakit.

“Setiap tahun kami evaluasi kebutuhan SDM dan rutin mengadakan pelatihan internal untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis,” ujar Bangbang.

Terkait pengembangan wisata medis di Indonesia, Bangbang menilai dukungan pemerintah menjadi kunci, terutama dalam kebijakan fiskal.

“Kami berharap ada kebijakan yang tidak mengenakan pajak barang mewah untuk peralatan kesehatan dan medis. Itu akan sangat membantu rumah sakit nasional bersaing dengan luar negeri,” pungkasnya.

Fenomena berobat ke luar negeri kini menjadi cermin bagi sistem kesehatan Indonesia: tanpa reformasi layanan yang menyeluruh, arus pasien keluar negeri berpotensi terus meningkat, membawa serta devisa dan kepercayaan publik. (Asim)