Pemerintah Menggenjot Pasokan BBM Dalam Negeri, Wamen ESDM: untuk Atasi Nilai Dolar Terus Naik

by
KEANDALAN MANUSIA & TEKNOLOGI: Dua Perwira PHR melakukan inspeksi rutin pada fasilitas pompa angguk, di Wilayah Kerja Rokan. Selain investasi teknologi, keandalan Sumber Daya Manusia (SDM) dan penerapan standar keselamatan (HSSE) yang ketat menjadi kunci sukses PHR dalam menjaga stabilitas produksi di lapangan Rokan. (Foto: PHR)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp18.000 -an, mengharuskan pemerintah menggenjot pasokan dari dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri

“Saat ini pemerintah terus mendorong peningkatan produksi minyak domestik. Salah satunya dengan mengembangkan sumur minyak Non Konvensional (MNK) di Wilayah Kerja (WK) Rokan, Riau,” jelas Yuliot, di Kementerian ESDM, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, WK Rokan menjadi wilayah yang paling potensial untuk pengembangan minyak non konvensional saat ini. Kajian awal terkait pengembangan tersebut juga telah dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR).

“Jadi untuk non konvensional ini, yang wilayah kerja yang paling memungkinkan saat ini adalah wilayah Rokan. Jadi untuk ini sudah ada kajian awal yang dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan untuk pengembangan non-konvensional ini. Jadi kita mengharapkan peningkatan produksi itu relatif signifikan,” kata Yuliot.

Yuliot lantas mencontohkan keberhasilan Amerika Serikat dalam meningkatkan produksi migas dalam negeri melalui pengembangan migas non konvensional. Adapun, saat produksi migas AS mengalami penurunan, negara tersebut mengembangkan migas non konvensional yang akhirnya mampu mengembalikan keadaaan.

“Sehingga pada saat terjadi peningkatan di beberapa wilayah kerja, justru Amerika sendiri surplus itu untuk produksi migasnya sendiri, jadi Amerika melakukan kegiatan ekspor itu tahun 2012,” ujarnya.

Kata Yuliot, pemerintah telah menerima sejumlah tawaran teknologi pengembangan minyak non konvensional dari berbagai pihak. Beberapa di antaranya telah dipertemukan dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

“SKK Migas itu minta kalau bisa akhir Juni ini sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli. Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu. Jadi kalau ini tingkat produksi dalam negeri terjadi peningkatan, berarti kita juga akan mengurangi impor dan juga tidak terpengaruh terhadap perubahan atau fluktuasi mata uang,” kata Yuliot.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) mengumumkan temuan potensi minyak yang cukup signifikan dari proyek Migas Non Konvensional (MNK) di Wilayah Kerja (WK) Rokan. Adapun, temuan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sepuluh tahun terakhir.

Wakil Direktur Utama Pertamina (Persero) Oki Muraza mengatakan bahwa pihaknya melalui PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) berhasil menemukan potensi minyak sebesar 724 juta barel dari salah satu struktur MNK di wilayah tersebut.

“Di sektor hulu migas kita berhasil menemukan the largest discovery dalam 10 tahun terakhir. Kita berhasil menemukan migas non-konvensional atau MNK di WK Rokan yang potensi temuannya mencapai 724 juta barel,” kata Oki dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (19/11/2025).

Menurut Oki, potensi tersebut baru berasal dari satu struktur saja, sementara peluang migas non-konvensional di Indonesia jauh lebih besar. Ia pun mengungkapkan bahwa temuan ini menjadi temuan MNK terbesar di Pertamina group.

“Ini merupakan salah satu penemuan konvensional maupun non-konvensional terbesar di Pertamina Group,” ujarnya. (Kds)