BERITABUANA.CO, PRABUMULIH – Di tengah kawasan permukiman Patih Galung, Prabumulih Barat, sekelompok ibu rumah tangga membuktikan sampah bisa jadi berkah. Mereka tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning, kelompok binaan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Field Prabumulih.
Di bawah kepemimpinan Tri Ningsih, KWT yang bermarkas di Jalan Simpati ini bertransformasi dari kelompok arisan biasa menjadi laboratorium hidup ekonomi sirkular.
Awalnya, cerita Tri Ningsih, yang mengaku sudah 5 tahun menangani KWT, hanya memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah yang ditumbuhi ilalang. Dengan pendampingan intensif dari tim Comrel & CID PHR Zona 4 bersama LSM pendamping Carios, dan kecamatan setempat lahan itu disulap menjadi kebun produktif.
“Kami diajari dari nol. Mulai dari cara memilih bibit yang bagus, cara mengolah tanah, sampai membuat pupuk sendiri dari limbah dapur,” kata Tri Ningsih saat ditemui di kebun kompos milik kelompoknya, Rabu (27/8/2026).
Program yang mereka jalankan diberi nama MUDA BERSAMA, singkatan dari Perempuan Berdaya Kelola Sampah Bersama. Konsepnya sederhana: setiap rumah anggota memilah sampah organik. Sampah sayuran, kulit buah, dan air cucian beras tidak dibuang, melainkan difermentasi menjadi pupuk organik cair dan kompos.
Pupuk hasil olahan itu menjadi kunci keberhasilan budidaya mereka. Saat ini KWT Kemuning fokus pada tiga komoditas utama: bawang dayak, jagung batik yang kaya protein, dan TOGA (Tanaman Obat Keluarga), seperti kunyit, serai dan bunga telang untuk produk herbal.
Keberhasilan mereka tidak berhenti di kebun sendiri. Tri Ningsih kini dipercaya PHR Zona 4 sebagai Local Hero untuk menularkan ilmunya ke 13 KWT lain di wilayah Ring 1 Prabumulih.
Alasan utamanya, diakui Dinas Pertanian Prabumulih sebagai KWT teladan bagi 65 KWT lain di Prabumulih, produk Ber-PIRT, seperti herbal, kerupuk bawang dayak, keripik jagung dan kerupuk nanas (ikon Kota Nanas), —- sudah punya izin PIRT dan punya galeri produk sendiri di sekretariat dan gerai di Pasar Tradisional Modern (PTM) Prabumulih, serta kerap ikut pameran dan festival rempah tingkat provinsi. Kemudian, dipercaya menjadi narasumber, serta sering jadi tempat belajar 13 KWT lain dan lokasi resmi pelatihan ProKlim KLHK.
Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan KWT Kemuning adalah contoh nyata bagaimana program CSR tidak hanya memberi bantuan, tapi menciptakan kemandirian.
“Kami tidak ingin hanya memberi ikan. Kami ingin warga bisa membuat kailnya sendiri. KWT Kemuning sudah membuktikan itu. Dari lahan tidur 20×40 meter saja mereka bisa panen puluhan kilo bawang merah Dayak dalam dua bulan,” ujarnya.
Dampak ekonomi pun terasa. Anggota tidak lagi harus membeli bawang dan sayur ke pasar untuk kebutuhan harian. Bahkan dari penjualan pupuk dan hasil panen, kas kelompok bertambah hingga jutaan rupiah per bulan yang diputar lagi untuk simpan pinjam anggota.
Camat Prabumulih Barat, Edi Suanto, juga mengakui keberadaan KWT binaan PHR ini sangat membantu program pemerintah dalam menekan inflasi dan menjaga ketahanan pangan keluarga.
Ke depan, PHR Zona 4 berencana menjadikan KWT Kemuning sebagai pusat pelatihan ProKlim (Program Kampung Iklim) dan Bank Sampah percontohan untuk Kota Prabumulih.
Tri Ningsih juga mengaku sangat siap melakukanya secara mandiri bila nanti di bulan Desember 2026, Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Field Prabumulih menghentikan bantuannya sama sekali. “Saya siap. Dan yakin bisa mengembangkannya secara mandiri,” imbuh Tri Ningsih. (Kds)






