KONTROVERSIAL! AS memerangi Iran karena program senjata nuklir. Sisi lain, AS telah menandatangani perjanjian kerjasama nuklir damai dengan Arab Saudi. Yang satu boleh, yang lain tidak. Ini adalah ‘isme’ aprioristik’.
Menteri Energi AS Chris Wright dan mitranya Pangeran Abdulaziz bin Salman telah menandatangani perjanjian nuklir, dengan apa yang disebut “perjanjian pengamanan bilateral” (The Guardian, 23 Juli 2026).
Satu kontroversial, inklusifitas normal akan mengatakan itu. Bagaimana mungkin ini bisa! Perang ‘apokaliptik’, bahkan meski harus melanggar tatanan hukum (membunuh pemimpin tertinggi Iran), demi mencegah Iran memperkaya Uranium. Lalu, kini ada kesepakatan nuklir lain?
Aprioristik AS terhadap rezim “Ayatollah”, seperti “sapu” yang memaksa menyingkirkan debu halus di bawah karpet. Padahal ada debu yang lebih besar di atas karpet.
Program nuklir Iran adalah “debu halus”, yang dibawa kepada fakta dan prinsip. Pakistan dan India, punya nuklir. Juga: AS-China-Inggris-Perancis-Rusia, punya nuklir. Semua fakta! Juga prinsip!
Bahkan Israel, meski tidak terkonfirmasi sepertihalnya Iran, diyakini memiliki program nuklir. Tak mungkin Iran punya program nuklir, lantas AS membiarkan Israel tak memilikinya. Terlalu berisiko. Semua itu fakta dan prinsip.
Hubungan antara fakta dan prinsip, itu rumit. Tanpa prinsip, maka tak akan ada fakta. Sikap apriorisme AS yang ter-internalis’ (mendaging) terhadap program nuklir Iran, lebih didasari pada prinsip hegemoni.
Sifat hegemoni: curiga, pola ‘patron-client’, dominasi, memaksa, ‘devide et impera’, penguasaan sumberdaya alam, di mana yang tidak sejalan harus disingkirkan. Ini fakta!
Wujudnya, apriorisme AS terhadap Iran, acap menggunakan dugaan tak berdasar. Implementasinya, dengan mendukung teori yang tidak didukung bukti.
AS meng-invasi Irak 2003, dengan tudingan Saddam Hussein punya senjata pemusnah massal. Hans Blix-El Baradei dari inspeksi Badan Atom (IAEA), dan kelompok investigasi AS (ISG) pimpinan Charles Duelfer serta mantan PM Inggris Tony Blair, mengkonfirmasi tak terbukti.
Nuklir yang berbahan baku utama uranium yang diperkaya hingga 90 persen, mampu menjadi hulu ledak nuklir. Apakah Iran membuat nuklir untuk berperang? Banyak manfaat nuklir. Nuklir sangat berguna: menggerakkan turbin pembangkit listrik (PLTN), untuk perdamaian dll.
Kata kuncinya, Apriorisme! AS-Israel telah mengesampingkan fakta, bahwa Iran tidak melakukan langkah menyerang AS-Israel, atau sekutu Teluknya (GCC), sebelum AS-Israel menyerang Iran Juni 2025 dan 28 Pebruari 2026.
Publik inklusif melihat, perlawanan Iran yang cenderung “tak kenal takut”, sebagai sebuah prinsip. AS ingin menjadikan Iran berpola “patron-client” seperti yang berhasil dilakukan terhadap enam negara GCC. Bagi Iran, ini adalah faham apriorisme, tak sesuai dengan ruh leluhur Persia yang besar 3.000 tahun lalu.
Bangsa Iran, adalah bangsa yang kuat! Pilihannya terhadap AS-Israel adalah “bifurkasi” (bifurcus: latin), memilih “hitam” atau “putih”, pilih menyerah dan mengikuti maunya AS atau berperang habis-habisan.
Banyak nuansa, terang dan gelap. Iran merasakan kegelapan, ketika 30-an elite “mainstream” pimpinannya dihabisi dalam sekali serangan (bom bunker 28 Pebruari). Iran merasa kembali terang ketika suksesi lewat ‘mosaic deffend’ berlangsung mulus.
Keberadaan Mojtaba Khamenei, Mohammad Bagher Ghalibaf, Masoud Pezeshkian, Mohsen Rezai, Ahmad Vahidi, Ismael Baghei, Abbas Araghchi, menjadikan AS-Israel keliru menduga serangan akhir Pebruari sebagai ‘apokaliptik’.
Jalan tengah yang diharapkan Iran, Israel mundur dari Lebanon. Sementara jalan tengah yang dimaui Israel (didukung AS), Hezbollah (proxi Iran di Lebanon), di-demiliterisasi.
Penyajian dua pilihan AS-Israel dan Iran, yang disebut ‘bifurkasi’ ini, sebenarnya masih memiliki banyak pilihan lain. Misalnya, AS meminta Israel mundur ke perbatasannya. Atau Iran meminta Hezbollah tidak lagi menembak pasukan Israel. Namun ‘bifurkasi’, telah menjadi pilihan strategis yang tak bisa diubah.
Bifurkasi digunakan AS-Israel dan Iran, di masing-masing sisi sebagai pilihan yang terbatas. AS maupun Israel, memiliki motif menggencet Iran lewat Hezbollah agar Iran kehilangan kekuatannya di Lebanon.
Bagi Iran, Lebanon memiliki nilai strategis untuk mencegah hegemoni AS menuju Suriah. Di masa lalu, Lebanon dan Suriah merupakan tombak kembar yang memperkuat Iran dalam memperluas proxi-nya hingga Irak.
Kelahiran Hezbollah (Lebanon), Kataib Hezbollah (Irak), dan di Suriah: Asa’ib Ahl al-Haq, Harakat Hezbollah al-Nujaba, Brigade Zainebiyoun, Brigade Fatimiyoun, Pasukan Quds, dan Houthi Yaman, memperlihatkan bahwa Iran adalah pemain regional yang tak mudah ditaklukkan.
Iran mampu melakukan ekspor revolusi 1979 seperti yang terjadi pada Lebanon. Utopia-nya adalah mencegah dominasi dan pengaruh AS di kawasan Timteng. Hampir seluruh negara Teluk telah berada dalam pengaruh geopolitik AS. Sehingga Iran harus mati-matian mempertahankan Hezbollah Lebanon tetap eksis.
Hancur Lebur
Di tengah makin sengitnya gempuran AS terhadap Iran, memasuki malam ke-11, Iran juga makin intensif menggempur sekutu GCC AS: Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Bagi Iran, dari Pangkalan militer ketiga negara inilah Iran diserang.
Cengkeraman Iran terhadap AS makin menguat, dengan mulainya Houthi mem-blokade kapal tanker sekutu AS (Arab Saudi) di Laut Merah. Tindakan ini, menyempurnakan terhambatnya 32 persen pasokan “crude oil” dari kedua jalur air ini (senjata Iran.
Houthi yang menguasai Yaman Utara dan Barat, termasuk pantai di muara Laut Merah, telah mengumumkan blokade angkatan lautnya terhadap seluruh aktivitas pelayaran minyak Arab Saudi.
Dampaknya, dua kapal tanker Arab Saudi yang baru saja memuat “crude oil” (minyak mentah) yang akan dikirim ke China dan India dari Pelabuhan Yanbu (Laut Merah). Terpaksa berbalik arah kembali menuju Terusan Suez (The Guardian, 22 Juli 2026). Secara keseluruhan sudah enam kapal tanker yang berbelok kembali ke arah Suez.
Situasi eskalasi yang diciptakan Donald Trump terhadap Iran, membuntukan 20 persen angkutan tanker (Selat Hormuz), dan 12 persen tanker (Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah).
Tanker Saudi dan empat tanker lain, alih-alih ke luar melalui Selat Bab-al Mandeb menuju Samudra Hindia, berbalik ke Terusan Suez dan minyak pun gagal di ekspor untuk kebutuhan kuota pemesan.
Harga “crude oil” melonjak. Minyak diperdagangkan naik di atas USD 100 per barel dan tertinggi sejak 11 Juni.
Trump yang makin bernafsu, membuat perlawanan Iran pada AS, kian sengit. Sementara Israel masih bagaikan “Serigala Diam”, menunggu aba-aba Donald Trump untuk masuk ke medan tempur atau diam di tempat. Pertimbangan AS, bila Israel ikut, maka secara otomatis nota-kesepahaman Burgenstock (Swiss) dianggap punah. Trump tak ingin itu!
Trump masih ingin, dan berharap Iran terpojok sehingga mau mengurangi “bargaining position” terkait Lebanon. Semua demi menjaga “perasaan Israel”. Sepertinya Iran tak akan melakukannya, dan Trump telah bertaruh dengan “ruang dan waktu”.
Tak kurang dari tiga tentara AS tewas di Yordania dan Irak, akibat gempuran rudal dan drone Iran yang menyasar sejumlah pangkalan militer AS di sini. Rencana Trump menggempur pegunungan Pickaxe sedalam 100-135 m, makin memperkuat tekad Iran melanjutkan perang melawan AS-Israel.
Karakteristik batuan beku (tua) dan granit keras Pickaxe yang dicurigai AS tempat penyimpanan sentrifugal dan peralatan nuklir, membutuhkan biaya besar AS untuk menghancurkannya.
Dibutuhkan, bom penghancur bunker GBU-57 seberat 10 ton yang dapat menembus batuan tua keras, hingga kedalaman 60 meter. Pesawatnya pun khusus B-2 yang bisa membawa beberapa bom sekaligus. Menghancurkan batuan “tua” Pickaxe tidak cukup dengan satu GBU-57 (Yedioth Ahronoth, 22 Juli 2026).
Membayangkan seriusnya Trump, atau ingin menebus kegagalannya mengganti rezim “Ayatollah”, kini dia bertaruh makin dalam mengeruk “kantong” AS untuk menyebut sudah “kepalang basah”. Getaran GBU-57, yang setara gempa 4,3 skala Richter (seismik), menjadikan Iran bersiap.
Terlebih kembali ke meja negosiasi yang diminta AS, ditolak Iran. Bagi Iran, tak akan ada hasilnya selagi AS gagal mengendalikan kepatuhan Israel terhadap 14 nota-kesepahaman yang telah hancur lebur.
Aprioristik, atau apriorisme terkait program nuklir Iran, bagi AS tidaklah universal. Arab Saudi yang merupakan “sahabat” AS di Timur Tengah, boleh punya nuklir. Sementara Iran yang bukan sahabat, tidak boleh.
Tatanan dunia makin terdistorsi dengan kekuatan ‘unipolar’ yang memaksa semua negara harus tunduk, untuk mendapatkan sesuatu. Iran akan terus melawan!
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah)







