Nurul Arifin: Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Perkuat Pertahanan Maritim dan Daya Gentar Indonesia

by
Nurul Arifin, Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar. (Foto: Jimmy Ratax)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Persetujuan Komisi I DPR RI terhadap penerimaan hibah kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Pemerintah Italia dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemampuan pertahanan maritim Indonesia. Kapal yang ditargetkan tiba pada September 2026 itu diyakini dapat meningkatkan daya gentar (deterrence) TNI sekaligus memperkuat kehadiran negara di wilayah perbatasan tanpa mengubah prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Di tengah meningkatnya tantangan keamanan maritim dan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di jalur pelayaran internasional, penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dinilai menjadi kebutuhan penting. Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Nurul Arifin, menegaskan bahwa fungsi kapal induk tersebut bukan untuk kepentingan agresi militer, melainkan menjaga kedaulatan, mendukung operasi kemanusiaan, hingga melaksanakan evakuasi warga negara Indonesia dalam situasi darurat.

“Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah laut yang sangat luas. Karena itu, kita membutuhkan platform maritim yang mampu beroperasi dalam waktu lama di laut sebagai pusat komando, pendukung operasi pengamanan perbatasan, bantuan kemanusiaan, pencarian dan penyelamatan, maupun evakuasi warga negara Indonesia apabila terjadi krisis di luar negeri,” kata Nurul Arifin kepada media, Selasa (21/7/2026).

Menurut Nurul, keberadaan kapal induk akan memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan. Ia menilai efek gentar tidak semata-mata diukur dari kemampuan menyerang, melainkan dari kapasitas sebuah negara dalam menjaga wilayahnya sendiri.

“Efek gentar bukan semata-mata soal kemampuan menyerang, tetapi bagaimana negara lain melihat bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menjaga wilayahnya sendiri. Kehadiran kapal ini akan meningkatkan kepercayaan diri TNI AL sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan,” ujarnya.

Meski demikian, Nurul mengingatkan pemerintah agar melakukan evaluasi teknis secara menyeluruh terhadap kapal yang telah berusia sekitar 40 tahun tersebut. Menurut dia, modernisasi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia menjadi faktor penting agar kapal dapat dioperasikan secara optimal.

“Usia kapal memang menjadi perhatian. Namun apabila kondisi teknisnya masih baik dan proses modernisasi dilakukan secara tepat, kapal ini tetap memiliki nilai strategis yang besar. Yang jauh lebih penting adalah transfer pengetahuan, pengalaman operasional, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia Indonesia dalam mengoperasikan kapal induk,” katanya.

Ia juga menilai hibah dari Italia memberikan keuntungan dari sisi efisiensi anggaran. Dibandingkan membeli kapal induk baru yang membutuhkan biaya miliaran dolar Amerika Serikat, hibah tersebut dinilai menjadi peluang untuk meningkatkan kemampuan pertahanan dengan investasi awal yang jauh lebih rendah.

“Negara tidak mengeluarkan biaya pengadaan sebesar membeli kapal baru. Tentu tetap ada biaya operasional dan pemeliharaan yang harus diperhitungkan secara matang, tetapi dari sisi investasi awal ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi Indonesia untuk meningkatkan kemampuan pertahanan dengan biaya yang jauh lebih efisien,” ujar Nurul.

Selain memperkuat kemampuan operasi maritim, Nurul memandang Giuseppe Garibaldi dapat menjadi sarana transfer teknologi dan peningkatan kapasitas nasional. Kapal tersebut dinilai mampu menjadi media pembelajaran bagi prajurit, teknisi, peneliti, hingga industri pertahanan dalam memahami teknologi kapal induk.

“Kita harus melihat hibah ini sebagai investasi strategis. Selain memperkuat kemampuan operasi maritim, kapal ini menjadi laboratorium berjalan bagi pelaut, teknisi, peneliti, hingga industri pertahanan nasional untuk mempelajari teknologi kapal induk. Pengalaman seperti ini tidak bisa diperoleh hanya melalui pendidikan di kelas,” ucapnya.

Menurut Nurul, Indonesia belum memerlukan kapal induk berukuran besar seperti yang dimiliki sejumlah negara maju. Namun, platform seperti Giuseppe Garibaldi dinilai sesuai dengan kebutuhan Indonesia sebagai negara maritim yang berfokus pada perlindungan wilayah, operasi gabungan, serta misi kemanusiaan.

“Yang kita perlukan bukan kemampuan proyeksi kekuatan untuk menyerang negara lain, melainkan kemampuan menjaga laut Indonesia, memperkuat kehadiran negara di wilayah perbatasan, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman nontradisional maupun bencana. Dalam konteks itulah kapal ini memiliki nilai strategis bagi Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, Komisi I DPR RI telah menyetujui penerimaan hibah satu unit kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Pemerintah Italia senilai 54.022.426,67 euro atau sekitar Rp1,1 triliun. Pemerintah menyebut proses administrasi dan teknis penerimaan kapal telah mencapai sekitar 76 persen, dengan target kedatangan kapal di Indonesia pada September 2026. (Asim)