Trump Pertimbangkan Kirim Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah di Tengah Negosiasi AS-Iran

by
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Ist)

BERITABUANA.CO, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan tengah mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah, sebuah langkah yang berpotensi meningkatkan ketegangan militer di kawasan itu, bahkan ketika Washington dan Teheran bersiap melanjutkan jalur diplomasi untuk mencegah konflik baru.

Dalam wawancara dengan media Israel Channel 12 yang juga dikutip Axios pada Rabu (11/2/2026), Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat siap mengambil langkah tegas jika pembicaraan dengan Iran gagal mencapai kesepakatan.

“Entah kita mencapai kesepakatan atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras,” kata Trump.

Pernyataan itu muncul di tengah spekulasi mengenai penguatan kehadiran militer AS di kawasan Teluk. Seorang pejabat Amerika kepada Reuters menyebutkan bahwa USS George Washington yang saat ini berada di Asia dan USS George H.W. Bush di pantai timur AS menjadi kandidat paling mungkin untuk dikerahkan, meski keduanya diperkirakan membutuhkan setidaknya satu pekan untuk tiba di Timur Tengah. Opsi lain termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford yang berada di kawasan Karibia.

Penumpukan Aset Militer

Analisis Reuters terhadap citra satelit terbaru menunjukkan adanya peningkatan aktivitas militer Amerika di sejumlah titik strategis kawasan. Di Pangkalan Udara al-Udeid, Qatar—fasilitas militer terbesar AS di Timur Tengah—pasukan Amerika terlihat memasang rudal pada peluncur bergerak, sebuah langkah yang dinilai meningkatkan kesiapan respons cepat jika eskalasi terjadi.

Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat sejak Januari, memicu kekhawatiran bahwa perhitungan keliru dapat memicu konfrontasi terbuka.

Diplomasi Melalui Oman

Di sisi lain, Oman kembali memainkan peran sebagai mediator. Pekan lalu, negara Teluk itu memfasilitasi pembicaraan antara pejabat AS dan Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pembicaraan tersebut memungkinkan Teheran menilai keseriusan Washington dan membuka ruang untuk melanjutkan diplomasi.

“Setelah pembicaraan, kami merasa ada pemahaman dan konsensus untuk melanjutkan proses diplomatik,” ujar Baghaei.

Tanggal dan lokasi pembicaraan lanjutan belum diumumkan. Sementara itu, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Ali Larijani, melakukan kunjungan ke Oman pada Selasa sebelum melanjutkan perjalanan ke Qatar—negara lain yang kerap menjadi mediator dalam krisis regional.

Bayang-Bayang Aksi Militer

Negosiasi berlangsung dalam bayang-bayang peningkatan tekanan militer. Sebelumnya, Trump telah mengerahkan satu kapal induk ke kawasan tersebut, langkah yang memicu spekulasi tentang kemungkinan aksi militer baru. Tahun lalu, Trump juga terlibat dalam operasi pengeboman bersama Israel dan menyerang situs yang dikaitkan dengan program nuklir Iran.

Bulan lalu, ia kembali mengancam akan melakukan intervensi militer menyusul tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes nasional. Namun, ancaman tersebut tidak berujung pada tindakan langsung.

Kombinasi antara diplomasi yang rapuh dan penumpukan kekuatan militer menempatkan Timur Tengah pada persimpangan yang sensitif—di mana satu keputusan politik dapat menentukan apakah kawasan bergerak menuju kesepakatan baru atau kembali ke pusaran konflik terbuka. (Red)