Pesan Profetik Film “JANGAN BUANG IBU”

by
Toto Izul Fatah. (Foto: Dok)

SUTRADARA Hadrah Daeng Ratu sepertinya sedang membaca tanda-tanda zaman yang mulai mengancam retaknya sebuah bangunan kokoh rumah tangga. Bukan retak karena perceraian suami istri, tapi karena retaknya hubungan Ibu dan anaknya.

Apalagi, di tengah zaman teknologi modern yang semakin cepat. Zaman ketika manusia sibuk mengejar karier, jabatan, popularitas, dan validasi digital.
Film “Jangan Buang Ibu” yang tayang perdana di XXI Festival Citylink, Bandung, Minggu 14 Juni 2026 dan serentak di seluruh Indonesia itu hadir seperti jeda yang menyentuh.

Ia bukan sekadar film keluarga. Ia adalah cermin yang memaksa kita bertanya dengan jujur: sudah sejauh mana kita membalas cinta seorang ibu? Atau jangan-jangan, dalam diam, kita sudah mulai membuangnya dari pusat hidup kita?

Judul film ini memang sederhana, tetapi pesannya sangat menghentak, Jangan Buang Ibu. Sebuah pesan profetik yang selalu diagungkan dalam seluruh ajaran agama. Termasuk, dalam Islam yang selalu mengingatkan tentang kekuatan ridho seorang ibu. Tepatnya, bahwa ridho Allah itu ada pada ridho kedua orang tua, termasuk di dalamnya ibu.

Dalam tayangan perdana yang juga dihadiri Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi tersebut, terasa ada luka batin yang sangat dalam di balik tiga kata dalam judulnya. Sebab, ibu bukan benda yang bisa disingkirkan ketika dianggap tidak lagi berguna.

Ibu juga bukan beban sosial yang bisa dipindahkan begitu saja ketika tubuhnya mulai renta, ingatannya mulai melemah, dan langkahnya tak lagi sekuat dulu. Ibu adalah asal mula. Ia adalah rumah pertama sebelum seorang anak mengenal dunia.

Film produksi Leo Pictures ini mengangkat tema yang menggambarkan besarnya pengorbanan seorang ibu. Diproduksi Leo Pictures, disutradarai Hadrah Daeng Ratu, ditulis oleh Widya Arifiyanti, serta diproduseri Agung Saputra.

Para bintang utamanya, ada nama-nama populer seperti Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo,Mpok Atiek dan sejumlah nama lain yang memperkaya warna dramatiknya.

Namun, nilai paling penting dari film ini bukan hanya pada nama besar para pemainnya. Nilai terdalamnya ada pada pesan moralnya. Seorang ibu boleh jadi menua, melemah, bahkan bergantung kepada anak-anaknya, tetapi ia tidak pernah kehilangan martabatnya sebagai manusia yang dulu mempertaruhkan hidup demi anaknya.

Film ini sangat relevan dengan zaman ketika hubungan keluarga sering terkikis oleh kesibukan. Anak-anak makin mudah pergi jauh, bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara emosional.

Bahkan, seorang anak kerap mengambil jalan pintas seolah-olah sayang dengan mudah menitipkan ibunya di Panti Asuhan. Padahal, sesungguhnya, anak tersebut sedang menyakiti ibunya.

Lewat teknologi, seorang anak, misalnya, bisa mengirim pesan singkat kepada ibunya, tetapi tidak punya waktu mendengar keluhannya. Seorang anak bisa mengunggah foto keluarga saat Hari Ibu, tetapi lupa menanyakan apakah ibunya sudah makan, apakah tubuhnya sehat, apakah hatinya sedang kesepian.

Dalam konteks seperti itu, film “Jangan Buang Ibu” hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan akar kasih sayang.

Ibu adalah sosok yang hampir selalu memberi sebelum diminta. Ia mencintai sebelum anak mengenal arti cinta. Ia berkorban sebelum anak mengerti arti pengorbanan. Ia berjaga ketika anak sakit, menangis ketika anak terluka, dan tetap mendoakan bahkan ketika anak mulai lupa pulang.

Maka, ketika seorang anak mulai menganggap ibu sebagai gangguan, beban, atau masa lalu yang merepotkan, sesungguhnya yang sedang rusak bukan hanya hubungan keluarga, tetapi juga nurani kemanusiaan.

Film ini penting karena mengangkat luka sosial yang kerap tersembunyi, yaitu orang tua yang terabaikan di usia senja. Banyak ibu yang tidak benar-benar “dibuang” secara fisik, tetapi dibuang secara perhatian.

Yang pasti, pesan utama film ini bukan hanya larangan untuk tidak menelantarkan ibu. Tetapi, lebih dari itu, terdapat pesan, jangan buang ingatan tentang ibu, jangan buang jasa ibu, jangan buang doa ibu, jangan buang air mata ibu, jangan buang rumah batin tempat kita pernah dibesarkan.

Terakhir, sebuah apresiasi patut diberikan kepada Hadrah Daeng Ratu sebagai sutradara, Agung Saputra sebagai produser, dan Leo Pictures sebagai rumah produksi yang berani mengangkat tema keluarga dengan pesan moral yang kuat. Terutama, di tengah industri hiburan yang sering mengejar sensasi, film seperti ini membawa napas yang lebih teduh, bahwa layar lebar masih bisa menjadi ruang pendidikan batin.

*Toto Izul Fatah* – (Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA/Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat