ERA dan sejarah, selalu melahirkan misteri. Brasil disingkirkan Norwegia! Jerman tersingkir, namun Inggris selamat!
Perancis lusa, mungkin akan dipulangkan oleh Maroko! Brasil, Jerman, dan Perancis, ketiganya adalah pemegang ‘sabuk’. Bukan tim tanpa era. Mereka bisa bernasib malang!
Pencapaian Stale Solbaken (Pelatih Norwegia) tergolong revolusioner. Mirip-mirip Walid Ragragui (pelatih Maroko 2022) yang memulangkan juara dunia 2010 (Spanyol) di 16 besar.
Norwegia menjadi “catatan kaki”, sama dengan monumen suksesor Ragragui di Timnas Maroko kini. Mohamed Ouahbi melanjutkan sukses pendahulunya Walid Ragragui.
Ofensif-progresif, merupakan ‘utopia’ revolusioner Ouahbi, maupun Solbaken. Ouahbi, tak ingin sebatas semifinal menyamai rekor Walid Ragragui, di Piala Dunia 2022 (Qatar). Ouahbi ingin final!
‘Nista’ Perancis pada Maroko lewat dua tendangan pantul Kylian Mbappe yang diteruskan Theo Hernandez dan Randal kolo Muani, tak akan terulang, 9 Juli mendatang di babak perempat final (8 besar).
Pertemuan lebih dini di perempat final (Piala Dunia 2022 semi final), membuat Ouahbi-Deschamps berpikir “sudden death”, satu sama lain. Gugur di fase delapan besar, satu penghinaan bagi tim empat besar.
Revolusi, menyisakan 17 pemain veteran (Maroko), dan tersisa 13 ‘legiun’ 2022 (Perancis) membuat kedua tim bisa saling mengelabui, dalam inovasi serangan, maupun bertahan.
Didier Deschamps (pelatih Perancis) tak akan bisa memandang Mohamed Ouahbi layaknya Ratragui. Sulitnya Mbappe dkk menjebol gawang Paraguay (16 besar), telah dibaca Ouahbi. Dibaca sebagai titik lemah.
Sebaliknya, kemampuan Ouahbi mengubah langgam di babak kedua (versus Kanada), memperlihatkan kecerdasan mantan pelatih Maroko U-20 ini (juara Piala Dunia 2025) dalam menganalisa kekuatan lawan.
Mengubur mimpi tuan rumah Kanada 3-0, satu ‘numeric’ yang meyakinkan. Sebuah angka produktifitas mumpuni, menandai betapa pemain-pemain Maroko haus akan gol. Terutama terhadap tim-tim yang tidak tergolong elite, seperti Haiti dan Kanada.
Produktifitas 10 gol dalam lima pertandingan (fase group, 32 besar, dan 16 besar), Maroko versus: Brasil (1-1), Skotlandia (1-0), Haiti (4-2), Belanda (1-1 sebelum adu penalti), dan Kanada (3-0), menandai kekuatan menyerang dan bertahan Maroko sama bagusnya.
Perancis, pun tak kalah produktif 14 gol. Memukul: Senegal (3-1), Irak (3-0), Norwegia (4-1), Swedia (3-0), dan Paraguay (1-0). Mengumpamakan Paraguay adalah Maroko, sejatinya Maroko nampak lebih bagus dalam menyerang dan bertahan. Karena itu, perempat final Perancis-Maroko, merupakan pertarungan antara dua tim yang sama-sama inovatif.
Bersama bintang dan penyerang, serta veteran Qatar: Kylian Mbappe, Oliver Giroud, Ousmane Dambele, Kingsley Coman. Juga bek veteran: Theo Hernandez, Ibrahima Konate, Jules Kounde. Serta gelandang 2022: Aurelian Tchouameni, Youssouf Fofana, Adrien Rabiot, Perancis akan berupaya menghentikan “Singa Atlas”, seperti tahun 2022.
Namun, Achraf Hakimi dkk, kini telah menjadi “kereta lepas kendali”. Tiga gol yang diciptakan oleh Azzedine Ounahi (2 gol), dan Soufiane Rahimi (1 gol) ke gawang Maxime Crepeau (Kanada) di babak ke-2. Menunjukkan, Maroko sekarang, bukan lagi Maroko tahun 2022. Perancis akan disingkirkan!
Pencapaian perempat final Maroko hingga hari ini, bukanlah perjalanan akhir, bukan pula stasiun akhir Rabat, atau Casablanca. Tapi, “kereta” akan terus melaju hingga Gilbraltar (perbatasan Maroko-Spanyol).
Kelincahan Azzedine Ounahi memperlihatkan, Maroko tidak bergantung pada “bintang”. Kehilangan Ismael Saibari (gol penalti penentu Maroko atas Belanda), meski di babak pertama terlihat tumpul (lawan Kanada), Maroko mengubah serangan tidak lagi lewat sayap. Tapi langsung ke tengah. Dari sinilah gol pertama tercipta, lewat umpan Achraf Hakimi.
Permainan makin ber-adrenalin tinggi. Bersama kiper yang meyakinkan (Yassine Bounou), penyerang Maroko lebih bermain lepas. Serangan balik yang dipimpin Chemsdine Talbi dan Brahim Diaz, diselesaikan lewat gol ke-2 Ounahi. Gol pamungkas (ke-3) ke gawang Kanada diciptakan Soufiane Rahimi lewat transisi yang dilakukan Brahim Diaz.
Maroko tidak ingin lagi semifinal. Ounahi, Diaz, Talbi, Hakimi, Rahimi, Saibari, sudah terlanjur “lepas kendali”. Kereta cepat yang di-masinis-i Mohamed Ouahbi ingin melaju ke stasiun Gilbraltar, melewati geografi Maroko. Mengalahkan Perancis di Gillete Stadium Boston, 9 Juli pukul 03.00 WIB, harga mati!
Sangat Tabah
Harian “The Guardian” menyebut. Kemenangan demi kemenangan yang diraih Maroko, sekaligus membawanya dua kali ke perempat final, karena satu gaya. Kuno, gigih, dan tabah.
Apa yang dilakukan Hakimi-Saibari-Ounahi, kompetitif dan kreatif yang seluruhnya dilakukan dalam serangan balik. Kebuntuan terjadinya gol di babak pertama, karena tim asuhan Ouahbi terlalu berhati-hati. Wajar, karena tak ingin tergelincir.
Kemustahilan Mohamed Ouahbi bisa melampaui Walid Ragragui, kini bukanlah hal mustahil lagi. Gaya kuno yang direfleksikan sebagai gigih dan tabah (sabar), bisa mengubah arah permainan indah dan agresif-mengalir Perancis, menjadi terdistorsi.
Tempo lima bulan, sejak transformasi dari Ratragui ke Ouahbi, waktu yang sangat singkat. Untuk melihat, apa yang dicapai Timnas Maroko sekarang sebagai ‘lateral’ (mustahil). “Kereta cepat” Maroko lepas kendali, dan Perancis kali ini tak akan “berumur panjang”.
Konsistensi Maroko, memang tidak tergantung pada sosok, atau figur. Membawa “Singa Atlas” ke semifinal Piala Dunia 2022, dan hanya kalah empat kali dari 49 pertandingan (termasuk semifinal dan perebutan 3-4 Piala Dunia 2022), Ratragui akan dilampaui Ouahbi?
Strategi Maroko di bawah Ouahbi, yang mantan asisten pelatih Klub liga utama Belgia, Anderlecht ini, sangat cerdas.
Memperlambat tempo permainan, mengatur ulang strategi (seperti lawan Kanada dan Haiti), merupakan kelebihan Ouahbi yang menyadari pasti ada keterbatasan di setiap tim Piala Dunia.
Keberhasilan Maroko menjadi “kereta lepas kendali”, tak lepas dari kesabaran para pemainnya. Dua kali tertinggal 0-1, dan 1-2 dari Haiti, lalu tertinggal 0-1 hingga menyamakan skor 1-1 saat pertandingan versus Belanda memasuki menit akhir (90+), itulah yang disebut: tabah, kuno, dan gigih.
Apa yang telah dicapai Maroko sejauh ini, bukanlah keberuntungan! Disiplin, taktis, kemampuan beradaptasi, merupakan modal Maroko untuk mengalahkan Kylian Mbappe dkk di perempat final 9 Juli mendatang. Tak ada keberuntungan di Piala Dunia!
Begitu juga pencapaian bintang Erling Haaland (Norwegia) dengan dua golnya ke gawang Brasil, bukanlah keberuntungan. Sebuah skema cerdik dari ‘coach’ Solbaken.
“Kereta cepat” Maroko akan mengakhiri keindahan sepakbola Perancis. Begitu juga “kereta cepat” Norwegia, bisa saja memulangkan Inggris, di delapan besar nanti.
Seandainya itu terjadi! Maroko (rangking 7 FIFA) akan menghadapi pemenang dari laga: Portugal-Spanyol vs Belgia-AS di semifinal Piala Dunia 2026. Saya membayangkan, akan ada juara baru ‘World Cup’ kali ini.
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Pemerhati Sepakbola Dunia)







