BERITABUANA.CO, JAKARTA – Komisi IV DPR RI mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera mengoptimalkan penyerapan telur lokal dari peternak mandiri melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menyelamatkan para peternak dari ancaman gulung tikar.
Langkah ini diambil setelah harga telur ayam ras di tingkat peternak anjlok brutal hingga menyentuh angka Rp20.600 – Rp22.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) yang mencapai Rp23.000 per kilogram dan Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp24.500 – Rp26.500 per kilogram.
Anggota Komisi IV DPR RI Rina Sa’adah, mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) segera mengintervensi pasar dengan mengoptimalkan penyerapan telur lokal sebagai menu wajib dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami sangat prihatin dengan anjloknya harga telur di tingkat peternak. Kami mendesak BGN menyusun variasi menu MBG berbasis telur untuk mendongkrak penyerapan hasil produksi peternak mandiri. Ini instrumen negara yang paling logis untuk menyelamatkan ekonomi rakyat saat ini,” ujar Rina Sa’adah dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Legislator asal Jawa Barat ini membeberkan bahwa hantaman yang dihadapi peternak saat ini sudah di luar batas toleransi. Di satu sisi harga jual telur di pasar merosot tajam, namun di sisi lain biaya operasional kandang—mulai dari harga pakan, obat-obatan, hingga bibit ayam (day-old chick)—tetap melambung tinggi.
Jika BGN tidak segera bertindak sebagai penyerap utama (offtaker), Rina mengkhawatirkan terjadinya depopulasi ternak secara masif akibat para peternak tidak lagi sanggup menutup modal produksi.
“Banyak peternak yang terancam kolaps. Solusinya ada di program MBG yang memiliki kuota kebutuhan pangan harian raksasa. Jika potensi ini dimaksimalkan, stabilitas harga di tingkat peternak akan langsung terkoreksi positif,” jelasnya.
Dari sisi pemenuhan gizi, Rina menilai telur adalah sumber protein hewani paling ideal bagi anak-anak karena kaya akan asam amino esensial yang mendukung perkembangan otak dan pertumbuhan fisik. Selain itu, karakteristik telur yang fleksibel membuatnya sangat mudah diolah menjadi berbagai variasi menu agar anak-anak tidak bosan.
“Telur bisa didadar, direbus, di-semur, atau dijadikan orak-arik sayuran. Ini sangat praktis untuk dapur-dapur umum MBG. Jadi, esensi program ini benar-benar tercapai: gizi anak terpenuhi secara maksimal, dan ekonomi peternak lokal bergerak subur,” pungkas Politisi PKB. (jim)







