Rupiah Tembus Rp17 Ribu per Dolar AS, DPR Ingatkan Ancaman bagi Industri Nasional

by
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Adisatrya Suryo Sulisto. (Foto: Giv)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17 ribu per dolar Amerika Serikat menjadi sorotan kalangan DPR RI. Kondisi tersebut dinilai dapat memberi keuntungan bagi sektor ekspor, namun di saat yang sama berpotensi menekan industri nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Adisatrya Suryo Sulisto, mengatakan pelemahan rupiah membuat produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga barang ekspor relatif lebih murah bagi negara tujuan.

“Dengan nilai kurs rupiah sekarang lagi lemah, sebenarnya kalau untuk ekspor jadinya barang kita lebih murah untuk mereka. Satu dolar Amerika atau satu dolar Kanada itu dapatnya lebih banyak ke rupiah,” ujar Adisatrya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa banyak industri dalam negeri masih mengandalkan bahan baku impor. Akibatnya, pelemahan rupiah justru meningkatkan biaya produksi dan dapat menekan daya tahan industri nasional.

“Produk industri kita kan juga masih banyak yang bergantung kepada bahan baku impor. Sehingga nilai untuk produksinya juga lebih mahal. Nah ini yang mesti kita perhatikan,” katanya.

Adisatrya menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tekanan terhadap sektor industri tidak semakin berat. Menurut dia, pelemahan rupiah yang terus berlanjut bisa berdampak terhadap keberlangsungan dunia usaha.

“Rupiah tentu jangan terus merosot nilainya, sehingga menjadi beban untuk industri kita. Kalau industri kita juga kolaps ya enggak ada artinya, siapa yang mau ekspor,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global sekaligus memperkuat ketahanan industri domestik agar tetap kompetitif.

Selain menyoroti kurs rupiah, Adisatrya juga mendorong pemerintah melalui Kementerian Perdagangan untuk memperluas pasar ekspor Indonesia, khususnya ke kawasan non-tradisional seperti Timur Tengah dan Afrika.

Menurut dia, produk usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia memiliki peluang besar untuk masuk ke negara-negara berkembang yang membutuhkan produk dengan harga kompetitif.

“Produk-produk UKM saya harapkan bisa memanfaatkan peluang tambahan pasar-pasar dibukanya pasar-pasar non-tradisional bagi ekspor Indonesia,” ujarnya.

Ia menyebut pemerintah saat ini tengah membuka peluang perdagangan yang lebih luas dengan Kanada dan kawasan Timur Tengah yang diawali dari kerja sama dengan Uni Emirat Arab.

Selain itu, kawasan Afrika dinilai memiliki potensi besar sebagai tujuan ekspor baru karena banyak negara berkembang membutuhkan produk dengan harga terjangkau.

“Afrika itu banyak negara-negara berkembang juga di situ, yang membutuhkan produk-produk murah yang menurut saya bisa diisi oleh produk-produk UKM kita,” kata Adisatrya.

Komisi VI DPR RI pun meminta Kementerian Perdagangan terus aktif melakukan diplomasi perdagangan guna memperluas diversifikasi pasar ekspor Indonesia.

“Jadi saya minta Kementerian Perdagangan terus aktif dalam bernegosiasi diplomasi perdagangan untuk membuka pasar-pasar lain sehingga diversifikasi pasar kita itu lebih luas lagi,” pungkasnya. (Kds)