ENTAH tulus atau tidak. Presiden AS, Donald Trump memandang Presiden Suriah Ahmed Al-Shara dalam “arketipe” (simbol), pria baik, hebat, tangguh, dan berkharismatis.
Pujian setinggi langit Trump telah mengubah wajah Suriah yang paria, menjadi negara dipercaya.”Saya menyukainya, dan dia (Al-Shara) adalah orang yang tangguh dari tempat yang keras,” dikutip Al-Jazeera & CNN.
Keakraban Riyadh (Arab Saudi), kehangatan Gedung Putih, satu lambang. Suriah kini adalah sekutu geopolitik Washington, bukan lagi ancaman seperti era Hafez Al-Asaad dan suksesornya Bashar Al-Asaad.
Kemampuan sintetis Trump, telah mengubah imajinasi kreatif-nya, dengan melontarkan euphemisme. “Dia berasal dari tempat yang sangat sulit, kita semua pernah melaluinya,”kata Trump.
“Arketipe” Al-Shara sebagai pemimpin yang dipercaya Trump (AS), bukanlah diksi “asal bunyi”. Kepercayaan itu diwujudkan, dengan penarikan pasukan AS dari Pangkalan Militer Al-Tanf (Suriah).
Pangkalan Al-Tanf, dengan jumlah pasukan AS yang fluktuatif, didirikan AS 2014. Keberadaannya berkait dengan eksistensi ISIS, dengan narasi membendung penyebaran terorisme diTimteng. Terlebih di negara “patron-client”nya.
Mengapa AS, berani mundur? Ada keyakinan Trump, Suriah akan mampu membendung ISIS. Terletak di persimpangan jalan raya Yordania-Irak-Suriah, Trump punya pandangan, Al-Shara dapat dipercaya bisa membantu AS, mencegah suplai senjata Iran ke Lebanon (Hezbollah).
Al-Shara memahami kebutuhan Trump terhadap Suriah. Keamanan sang “client” (Israel) bisa dicapai, hanya dengan merangkul Suriah. Strategi Trump terhadap Al-Shara, dengan pola win win, cukup menarik.
Trump meminta kepada Israel untuk tidak membom Suriah. Tak ada bantahan, Israel (setelah kunjungan Al-Shara ke Gedung Putih), telah mengunci arsenal pesawat IAF.
Menjadi tonggak sejarah, AS menarik diri dari pangkalan strategis di Suriah. Hal ini, menandai penguatan hubungan erat AS-Suriah yang akan mempersulit Iran terhadap proxi-nya.
Operasi militer Iran, pun akan terhalang dengan kohesifitas Sharaa-Trump yang mesra. Menjadi pertanyaan, mampukah pasukan Suriah memenuhi tanggung jawab pasca-AS?
Kekalahan teritorial ISIS oleh gabungan militer AS dan milisi suku Kurdi (SDF), dalam perang 2019, membuat AS makin ingin menstabilkan Suriah. Ongkos politiknya, sekutu AS (SDF), harus melebur. Eksistensi Al-Shara, pun dijadikan arketipe (prototipe) negara antagonis yang tersisa (Kuba, Yaman).
Rasa nyaman Trump terealisasi, Al-Sharaa berhasil mengkonsolidasi pasukan militer Suriah dari berbagai petempur. Mereka berasal dari sejumlah afiliasi fundamentalis yang berbeda-beda. Trump memperoleh bonus keamanan Israel, dari Suriah.
Bagi AS tak ada jalan lain, merangkul erat Al-Shara, menjadikan Suriah sebagai “close friend”. Membuat AS mencabut sanksi ekonomi, serta menghapus sayembara USD 10 juta (mendapatkan kepala Al-Sharaa).
Trump dan Al-Shara, sama-sama merupakan negosiator “attitudinal drive” (dorongan sikap), yang ingin membangun hubungan, interpersonal (pribadi). Sikap hangat Trump dengan arketipe (simbol): tangguh, dari tempat keras, saya suka, adalah “attitudinal drive”.
Jimmy Carter (Presiden AS ke-39: 1977-1981), merupakan negosiator “attitudinal drive”. Dia memprakarsai dijalinnya hubungan dengan Korea Utara, sekalipun Kim Il Sung menolak membatalkan program nuklir. Trump mau berhubungan dengan Al-Shara, walau dia seorang ekstrem Al-Qaeda.
Operasi Rahasia
Menarik pasukan AS dari Suriah, mengandung sinyal hubungan “attitudinal” AS-Suriah. Meski tak ada angka pasti berapa jumlah militer AS di Al-Tanf, Pentagon pernah mensitir, jumlahnya sekitar 1.500 (Juli 2025).
Meski begitu, jumlah itu tidak pasti karena bersipat rahasia. Ada lagi yang menyebut jumlah militer AS di Suriah, 900 orang. Kesediaan Al-Shara bergabung dengan koalisi, membuat AS lebih fleksibel terhadap Suriah.
Meskipun Trump memperlihatkan keluwesan terhadap Suriah, Al-Shara tetap harus berhati-hati menyikapinya. “Attitudinal Drive”, tentu baik untuk perdamaian. Namun, hubungan seperti ini bisa juga sebagai taktik memperdayai lawan.
Apa yang terjadi pada PM Inggris Neville Chamberlain yang menghindari perang dengan Adolf Hitler, ternyata hanya tipu daya. Menyerahkan sebagian Cekoslowakia, menurut buku karangan Roger Dawson (Secrets Of Negotiating), Hitler menyebut itu sebuah tindakan bodoh.
Kita tidak tahu, apakah menyerahkan Pangkalan Al-Tanf kepada Suriah, AS telah bertindak tepat? Apakah Al-Shara bisa dipercaya untuk tidak membiarkan Iran mengirimkan senjata ke Lebanon (Hezbollah)?
Dalam pandangan penulis, Al-Shara tidak sepenuhnya percaya pada Trump. Juga Trump, tidak penuhnya percaya pada Al-Shara. Untuk jangka pendek, saat ini keduanya tak peduli itu.
Bagi Trump, yang paling penting, lakukan “trade off” atau mengorbankan satu aspek untuk mendapatkan aspek lain yang diinginkan.
Al-Shara ingin jeda perang untuk memperkuat Suriah, sementara Trump membutuhkan wilayah Suriah untuk membendung Iran.
Soal nanti bermusuhan lagi, urusan nanti. Istirahat dulu.
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







