BERITABUANA.CO, JAKARTA – Perjuangan heroik putra-putra Minahasa 80 tahun silam di Manado, diperingati Gerakan Perjuangan Pahlawan Merah Putih (GPPMP) bersama para ahli waris dan masyarakat Kawanua di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu pagi.
Acara berlangsung khidmat dan penuh semangat perjuangan dipimpin ketua rombongan Laksamana Madya Purn Desy Mamahit yang meletakkan karangan bunga di tugu makam Pahlawan Kalibata.
Ketua Umum GPPMP Pusat, Dr Jeffrey Rawis, SE, MM, menegaskan bahwa peristiwa heroik Merah Putih 14 Februari merupakan tonggak monumental dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya dalam mempertahankan kedaulatan Merah Putih.
Merunut kembali peristiwa 14 Februari 1946, kekuatan gabungan rakyat Manado menyerbu dan mengambil-alih tangsi militer Belanda yang berada di Teling, Manado. Mereka membebaskan pemimpin Republik dari tahanan, menawan perwira Belanda, dan mengibarkan bendera Merah-Putih. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Peristiwa Merah-Putih.
Peristiwa Merah-Putih tak bisa dilepaskan dari berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang baru sampai ke telinga rakyat Sulawesi Utara empat hari kemudian. Meski sedikit terlambat, rakyat Sulawesi Utara menyambut dengan sukacita. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Pasukan Belanda atau Netherland Indies Civil Administration (NICA), dengan membonceng tentara Sekutu, tiba dan kembali menguasai Sulawesi Utara.
Para pemuda-pejuang, termasuk anggota Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dari Minahasa, yang tergabung pada Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) bereaksi. Mereka menyusun rencana untuk menyerang dan mengambil-alih tangsi militer Belanda. Karena beberapa pemimpin pasukan ditangkap, termasuk Charles Choesj Taulu, rencana penyerangan dialihkan kepada Mambi Runtukahu.
Sesuai rencana, serangan dilancarkan pada 14 Februari 1946. Mereka membebaskan tokoh-tokoh pro-RI serta menahan komando Garnisun Manado dan semua pasukan Belanda di Teling dan penjara Manado. Menurut Ben Wowor dalam Sulawesi Utara Bergolak: Peristiwa Patriotik 14 Februari 1946 dalam Rangka Revolusi Bangsa Indonesia, para perwira Belanda kemudian diasingkan ke Ternate.
Usai upacara, acara dilanjutkan ziarah ke makam tokoh-tokoh Peristiwa 14 Februari 1946, di antaranya CH. Taulu dan BW Lapian yang sempat menjabat Walikota Manado dan Gubernur Sulawesi Utara.
Ada juga keluarga pejuang Merah Putih lainnya, mantan pejuang TImtim Mesar Kambey yang nyekar di makam pamannya Samuel Kumaunang dan lvone Dendeng, putri Frans Dendeng yang ikut berjuang dalam peristiwa merah putih.
Selain itu rombongan mendatangi pusara pahlawan cilik asal Minahasa Bernard Runtunuwu, yang masih berusia 13 tahun saat berperang melawan penjajah Belanda. Bernard, adalah pahlawan termuda yang dimakamkan di TMP Kalibata.
Saat berjuang bersama kedua orangtuanya dan kakaknya yang lain mereka tergabung dalam Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang dimotori pemuda-pemuda Minahasa dan Makassar.
Abdul Kahar Muzakkar, tokoh pemberontak yang ingin mendirikan Negara lslam Indonesia (NII) sempat berperan dalam laskar KRIS awal masa revolusi fisik sekitar tahun 1945 di Jawa.
Bersama laskar KRIS, Kahar Muzakkar ikut membebaskan ratusan tahanan (sekitar 600-800 orang), yang sebagian besar berasal dari Bugis-Makassar, di penjara Sukamiskin, Bandung.
Tahanan yang dibebaskan tersebut kemudian dilatih dan dipersenjatai menjadi pasukan berani mati yang setia kepadanya.
Pasukan ini dikenal sebagai “pasukan sebrang” yang berpartisipasi dalam pertempuran Ambarawa dan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
Tokoh asal Minahasa dalam Laskar KRIS adalah HNV Sumual, tokoh Permesta dan Daan Mogot. Sumual salah satu pimpinan TKR yang merebut Kota Yogyakarta dalam Serangan Oemum 1 Maret 1949 yang dipimpin Letkol Soeharto.
Hadir dalam acara tabur bunga mantan Menhub Letjen TNI Purn EE Mangindaan, Mayjen Purn Ivan Pelealu serta Ketua KKK Angelica Tengker. Pengurus DPP GPPMP, Tedi Matheos (Sekjen) dan Herling Tumbel. (nico karundeng)







