Mengetuk Pintu Langit, Menjelajah Dunia Maya: Wajah Baru NU di Abad Kedua

by
ISTIMEWA

Oleh: Akhmad Shunhaji

BERITABUANA.CO Dulu, tanda kiamat di pesantren itu sederhana: kalau stok kopi habis saat bahtsul masail (forum diskusi agama), atau kalau sandal Kiai tertukar di masjid.

Sekarang? Tanda akhir zaman itu kalau sinyal WiFi pondok mendadak lemot saat santri lagi live streaming pengajian Gus Baha (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim).

Selamat datang di abad kedua Nahdlatul Ulama (NU). Sebuah era di mana aroma dupa dan kemenyan mulai bersaing dengan aroma mesin server yang kepanasan. Zaman di mana doa qunut subuh tetap menggema syahdu, tapi setelah itu jamaahnya langsung nge-cek trending topic Twitter.

Inilah wajah baru NU. Wajah yang sedikit membingungkan bagi generasi sepuh, tapi sangat menggairahkan bagi generasi muda. Sebuah paradoks indah di mana tradisi “Mengetuk pintu langit” berjalan beriringan dengan semangat “Menjelajah dunia maya”.

Santri Hybrid: Antara Wirid dan Algoritma

Mari kita bicara jujur. Satu abad yang lalu, Mbah Hasyim Asy’ari mungkin tidak membayangkan bahwa cucu-cucu ideologisnya akan berdakwah menggunakan TikTok. Beliau mendirikan NU untuk membentengi paham Ahlussunnah wal Jamaah dari gempuran ideologi transnasional dengan pena dan kitab.

Hari ini, “Pena” itu telah berubah bentuk menjadi keyboard mekanik dengan lampu RGB kelap-kelip, dan “kitab” itu seringkali berbentuk file PDF di tablet.

Lahirlah spesies baru bernama “Santri Hybrid”.

Mereka adalah makhluk unik. Malam Jumat mereka menangis tersedu-sedu saat membaca rotib dan tahlil, tapi Sabtu malam mereka bisa berdebat sengit soal coding Python atau algoritma Instagram.

Mereka sangat takzim (hormat) mencium tangan Kiainya untuk mencari barokah (berkah) sanad ilmu. Tapi di saat yang sama, mereka tidak ragu “merujak” akun-akun penebar kebencian di kolom komentar dengan dalil yang cetho welo-welo (sangat jelas).

Sarung mereka multifungsi. Di masjid, ia adalah penutup aurat yang sah. Di kamar ber-AC saat sedang ngoding atau bikin konten, sarung adalah selimut paling nyaman sedunia.

Hijrah Digital: Agar “Google” Tidak Jadi Kiai

Kenapa NU harus repot-repot “menjelajah dunia maya”? Kenapa tidak fokus saja di surau dan madrasah?

Jawabannya sederhana, tapi agak menohok: Karena kalau NU tidak hadir di sana, ruang kosong itu akan diisi oleh “ustadz-ustadz instan” lulusan “Universitas Google Search”.

Dunia maya adalah benua baru. Dulu Wali Songo berdakwah menggunakan wayang karena itulah media paling relevan saat itu. Sekarang? Wayang kita adalah YouTube, Instagram, dan ya… bahkan platform joget-joget itu.

Masuknya NU ke dunia digital bukanlah upaya untuk menjadi “kekinian” semata. Ini adalah jihad zaman now. Ini adalah usaha menyelamatkan anak cucu kita agar ketika mereka mengetik kata kunci “hukum Islam” di internet, yang muncul bukanlah fatwa-fatwa marah yang menyuruh bom bunuh diri, melainkan ajaran Islam yang ramah, santun, dan rahmatan lil ‘alamin ala NU.

Kita butuh lebih banyak Gus-Gus dan Ning-Ning yang viral bukan karena sensasi, tapi karena konten yang menyejukkan hati.

Koneksi Ganda: Sinyal WiFi Kencang, Sinyal Langit Lebih Kencang

Namun, di tengah hingar-bingar likes, comment, dan subscribe ini, ada satu hal yang tidak boleh berubah di abad kedua NU.

Teknologi hanyalah wasilah (perantara), bukan ghayah (tujuan). Secanggih apapun gadget seorang Nahdliyin, ia tidak boleh lupa caranya “mengetuk pintu langit”.

Jangan sampai kita sibuk mengejar centang biru di media sosial, tapi lupa mengejar ridho Ilahi. Jangan sampai kita punya ribuan followers di dunia maya, tapi tidak dikenal oleh penduduk langit karena jarang bangun malam.

Pemandangan paling indah di abad kedua ini adalah melihat seorang santri milenial yang baru saja menutup laptopnya setelah lelah bekerja atau belajar online hingga larut malam. Kemudian, ia mengambil wudhu, menggelar sajadah, dan bersujud panjang dalam keheningan tahajjud.

Di titik itulah wajah sejati NU terlihat. Ia modern otaknya, tapi tradisional hatinya. Ia menggenggam dunia dengan teknologi, tapi menambatkan hatinya di langit dengan doa.

Satu abad telah berlalu. NU tidak menua, ia hanya upgrade sistem operasi. Dan percayalah, versinya yang sekarang jauh lebih seru.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariq.

Sinyal aman, iman aman. Gaspol abad kedua!