BERITABUANA.CO, JAKARTA – Percepatan reformasi dan pendalaman pasar guna memperkuat daya saing pasar modal nasional di mata investor global menjadi concern Bursa Efek Indonesia (BEI) ke depan. Untuk itu sejumlah langkah strategis tengah disiapkan. Mulai dari peningkatan transparansi data hingga penyesuaian klasifikasi investor agar selaras dengan praktik bursa global.
Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan hal tersebut dalam acara diskusi “8 Rencana Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia” di Gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Kepada hadirin, Jeffrey menegaskan bahwa operasional bursa saat ini berjalan normal tanpa gangguan. Penegasan itu perlu untuk menenangkan pasar atas gonjang-ganjing yang memicu pengunduran diri dirut BEI Iman Rachman, Jumat (30/1/2026) pagi, disusul empat petinggi Otoritas Jasa Keuangan, hari itu juga.
“Dari sisi SRO atau Bursa Efek Indonesia, kami ingin menegaskan bahwa operasional BEI, baik kesiapan sistem perdagangan, pelayanan kepada seluruh stakeholders, maupun proses pengambilan keputusan berjalan secara normal,” ujarnya.
Percepatan reformasi perlu dibarengi dengan pendalaman pasar, khususnya dari sisi permintaan atau demand. Fokus utama BEI saat ini, meningkatkan partisipasi investor global dan memperbesar bobot Indonesia dalam indeks global.
Masih kata Jeffrey, BEI telah menampung berbagai masukan dari penyedia indeks global dan secara aktif menjalin komunikasi. “Pekan lalu kami sudah berkomunikasi dengan FTSE, dan dalam waktu dekat kami akan kembali berdiskusi dengan MSCI.”
Rencananya, Senin (2/2/2026) ini, BEI, OJK, dan pihak terkait lainnya akan berdiskusi dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah peningkatan keterbukaan informasi. BEI akan memperluas pengungkapan data kepemilikan saham agar setara dengan standar bursa global. BEI akan meningkatkan disclosure data kepemilikan saham secara lebih granular, termasuk data pemegang saham di bawah 5%.
Jeffrey juga menjanjikan langkah pembaharuan tersebut ditargetkan mulai diterapkan pada awal Februari 2026. Selain itu, BEI bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga akan memperbarui klasifikasi tipe investor agar lebih detail dan komprehensif.
Saat ini, klasifikasi investor dalam Single Investor Identification (SID) terdiri atas sembilan kategori. Nantinya, BEI akan menambah dan menyesuaikan klasifikasi tersebut mengikuti global best practice, termasuk kategori seperti sovereign wealth fund (SWF), private equity, investment advisor, discretionary fund, dan kategori lainnya yang menjadi perhatian MSCI.
Sosialisasi kepada pelaku pasar akan dimulai dalam waktu dekat. BEI juga meminta partisipasi pelaku pasar, bank kustodian, dan pemangku kepentingan lainnya untuk melakukan pemetaan ulang (remapping) data klasifikasi investor. Proses ini ditargetkan rampung paling lambat April 2026, sebelum tenggat waktu yang ditetapkan MSCI.
Jeffrey juga menegaskan, Bursa Efek Indonesia akan terus melakukan sosialisasi dan menyampaikan perkembangan serta langkah strategis ini kepada seluruh pelaku pasar, baik domestik maupun investor asing. Tujuannya, memberikan kejelasan dan kepastian terhadap iklim investasi di pasar modal Indonesia.
Sebelumnya, Sabtu (31/1/2026) malam, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Jeffrey Hendrik menjadi Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama (Dirut) PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Kepada wartawan usai rapat bersama Menko Perekonomian, Danantara, OJK dan BEI di Wisma Danantara, Jakarta, Menkeu Purbaya juga mengatakan, Jeffrey bersama timnya bakal menjadi representasi BEI dalam pertemuan bersama MSCI, Senin ini.
Satu hal, dalam hal ini, Menkeu menyatakan pemerintah tidak ikut andil dalam pertemuan tersebut. “Dia menyelesaikan masalah sesuai dengan prosedur di internal mereka. Pemerintah nggak ikut campur,”
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan pihaknya akan mengumumkan Pjs Dirut BEI sebelum jam pembukaan perdagangan Bursa pada Senin ini.
Jeffrey Hendrik, yang saat ini masih menjabat sebagai Direktur Pengembangan, menjadi perwakilan BEI dalam rapat bersama di Wisma Danantara. (Osc).







