BERITABUANA.CO, JAKARTA – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai memperkenalkan dua pendekatan baru dalam pembangunan pendidikan nasional melalui program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda. Kedua konsep ini dirancang untuk menjawab dua persoalan besar sekaligus: kemiskinan struktural dan ketertinggalan Indonesia dalam penguasaan teknologi global.
Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menilai, kebijakan tersebut mencerminkan visi pendidikan yang sangat spesifik, yakni mengejar ketertinggalan bangsa di bidang teknologi sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak dini.
Menurut Abdul, negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China telah jauh melangkah dalam menyiapkan generasi muda berbasis sains dan engineering. Dampaknya kini terlihat nyata, salah satunya melalui dominasi produk teknologi mereka di pasar global, termasuk kendaraan listrik yang semakin banyak melintas di jalanan Jakarta.
“Negara-negara lain sekarang, Amerika atau China, luar biasa. Ratusan ribu anak-anak China sekolahnya teknologi dan engineering. Jadi siap-siap, anak-anak kita ke depan tidak bisa hanya bermain gim terus,” kata Abdul, kepada wartawan di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Ia menegaskan, di tengah keraguan sebagian publik yang menilai pemerintahan baru lebih fokus pada sektor pertahanan, pengembangan SDM tetap menjadi agenda strategis Presiden Prabowo. Hanya saja, pendekatan yang ditempuh kali ini berbeda dari pemerintahan sebelumnya, dengan penekanan kuat pada pendidikan berbasis teknologi terapan.
Abdul menjelaskan, Sekolah Rakyat dirancang sebagai instrumen intervensi negara bagi kelompok masyarakat prasejahtera. Karena menyasar akar persoalan kemiskinan, program ini dikoordinasikan lintas kementerian dengan Kementerian Sosial sebagai leading sector, bukan Kementerian Pendidikan.
“Sekolah Rakyat leading sector-nya bukan Kemendikdasmen, tetapi Kementerian Sosial. Pendekatannya adalah kemiskinan, sehingga pendidikan ditempatkan sebagai bagian dari solusi sosial,” ujarnya.
Sementara itu, Sekolah Garuda disiapkan sebagai sekolah unggulan untuk menjaring dan membina siswa berprestasi agar mampu bersaing di tingkat global. Program ini difokuskan pada penguatan sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM), serta dirancang terhubung langsung dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
“Sekolah Garuda setingkat SLTA, baik SMA maupun SMK, dan akan terhubung dengan perguruan tinggi. Anak-anak pintar ini dipersiapkan sejak awal agar bisa langsung terkoneksi dengan pendidikan tinggi berkualitas,” kata Abdul.
Di akhir pernyataannya, Abdul mengajak masyarakat untuk tidak hanya memandang kebijakan pemerintah dari sisi kritik, tetapi juga berperan aktif mengawal dan berkolaborasi dalam upaya pembenahan pendidikan nasional demi meningkatkan daya saing Indonesia di masa depan. (Asim)







