BERITABUANA.CO, JAKARTA – Setelah kebijakan pengurangan produksi nikel, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan harga nikel stabil di kisaran 19 ribu–20 ribu dolar AS per ton pada 2026.
“Mudah-mudahan di kisaran 19 ribu–20 ribu (dolar AS per ton),” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno kepada wartawan usai Rapat Kerja Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Seperti disebutkan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, pemerintah memangkas produksi nikel menjadi sekitar 250 juta–260 juta ton pada 2026. Terjadi penurunan dari target produksi dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2025 sebanyak 379 juta ton.
Soal perusahaan yang RKAB-nya belum disetujui, Dirjen Tri mengingatkan bahwa para perusahaan penambang nikel masih memiliki persetujuan berproduksi hingga Maret 2026 untuk menggunakan kuota produksinya yang sebesar 25 persen.
Pemerintah menegaskan pemangkasan produksi nikel bertujuan untuk menjaga harga komoditas di level global. Dari yang semula jatuh hingga di angka 14.125 dolar AS per ton pada 16 Desember 2025, kini naik hingga tembus 17 ribu dolar AS per ton. Demikian data London Metal Exchange (LME) per 22 Januari 2026.
Harga nikel bahkan sempat mencapai 18.450 dolar AS per ton pada 7 Januari 2026.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga meminta kepada industri besar untuk membeli bijih nikel dari pengusaha tambang.
Kita tahu, tidak hanya memangkas produksi nikel, Kementerian ESDM juga memangkas produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun nyaris 200 ton dibandingkan produksi batu bara pada 2025 sebesar 790 juta ton.
Meskipun memangkas produksi nikel dan batu bara, Kementerian ESDM menargetkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batubara (minerba) pada 2026 mencapai Rp134 triliun. Target PNBP tersebut lebih tinggi dibandingkan target pada 2025 sebesar Rp124,7 triliun. (Osc).






