Puing Pesawat ATR PK-THT Ditemukan di Pegunungan Maros, Kronologi Hilang Kontak hingga Jatuh Terungkap

by
Puing Pesawat ATR PK-THT yang berhasil ditemukan di Pegunungan Maros. (Foto: Istimewa)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Setelah dilaporkan hilang kontak, pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan Indonesia Air Transport (IAT) akhirnya ditemukan dalam kondisi hancur di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026) pagi. Tim SAR gabungan kini masih melakukan penyisiran dan pencarian korban di lokasi kejadian.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyatakan, puing-puing pesawat ditemukan pada pukul 08.50 WITA di area puncak dan punggungan pegunungan pada ketinggian sekitar 1.390 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lokasi penemuan berada di koordinat 4°55’44,425” LS dan 119°44’50,093” BT.

Informasi penemuan tersebut disampaikan Basarnas melalui kanal resmi YouTube. Hingga kini, proses evakuasi masih berlangsung mengingat medan yang curam dan sulit dijangkau. Seluruh korban rencananya akan dievakuasi dan dibawa ke posko utama di Makassar untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Kronologi Hilang Kontak hingga Jatuhnya Pesawat

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sebelumnya mengonfirmasi pesawat ATR 42-500 PK-THT dinyatakan hilang kontak (loss contact) pada Sabtu, 17 Januari 2026.

Pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 itu tengah menjalani penerbangan dari Bandar Udara Adi Sucipto, Yogyakarta, menuju Bandar Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, dengan Pilot in Command Capt. Andy Dahananto.

Berdasarkan kronologi yang diterima otoritas penerbangan, pada pukul 04.23 UTC, pesawat mendapatkan instruksi dari Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin.

Namun, dalam fase pendekatan tersebut, pesawat terdeteksi tidak berada di jalur pendaratan yang semestinya. ATC kemudian memberikan arahan koreksi agar pesawat kembali ke jalur sesuai prosedur penerbangan.

ATC MATSC selanjutnya menyampaikan beberapa instruksi lanjutan. Akan tetapi, setelah instruksi terakhir diberikan, komunikasi dengan pesawat terputus dan radar tidak lagi menangkap posisi pesawat secara normal.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, ATC MATSC segera mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) sesuai dengan standar keselamatan penerbangan internasional.

Operasi Pencarian dan Penemuan Puing

AirNav Indonesia Cabang MATSC langsung berkoordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat, Kepolisian Resor Maros, serta otoritas Bandara Sultan Hasanuddin. Pihak bandara juga membuka Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat informasi bagi keluarga dan publik.

Sejak awal, area pencarian difokuskan di kawasan pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros. Basarnas menetapkan wilayah tersebut sebagai lokasi posko terdekat operasi SAR.

Pencarian melibatkan helikopter TNI Angkatan Udara, personel Basarnas, TNI-Polri, serta relawan. Selain itu, Notice to Airmen (NOTAM) diterbitkan untuk mendukung kelancaran operasi pencarian dan pertolongan di wilayah udara sekitar lokasi kejadian.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya puing-puing pesawat di Pegunungan Bulusaraung pada Minggu pagi.

Data Penumpang dan Kondisi Cuaca

Pesawat ATR PK-THT diketahui membawa 10 orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai jumlah korban yang berhasil ditemukan maupun kondisi mereka.

Informasi awal menyebutkan, kondisi cuaca saat kejadian relatif normal, dengan jarak pandang sekitar 8 kilometer dan cuaca sedikit berawan. Otoritas terkait masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan.

Basarnas menegaskan, operasi SAR akan terus dilanjutkan hingga seluruh korban ditemukan dan proses evakuasi dinyatakan selesai. (Red)