BERITABUANA.CO, DUBAI — Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei untuk pertama kalinya memberi isyarat terbuka bahwa ribuan orang tewas dalam gelombang unjuk rasa massal yang mengguncang Iran dalam beberapa pekan terakhir, sembari menuding Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump sebagai aktor utama di balik kekacauan tersebut.
Dalam pidato yang disiarkan media pemerintah pada Sabtu (19/1/2026) waktu setempat, Khamenei secara tidak langsung mengonfirmasi besarnya korban jiwa akibat kerusuhan, sambil menyalahkan apa yang ia sebut sebagai campur tangan negeri “Paman Sam” tersebut.
“Kami menganggap Presiden Amerika Serikat sebagai seorang kriminal atas korban jiwa, kehancuran, dan fitnah yang ia timbulkan terhadap bangsa Iran,” ujar Khamenei, mengutip yang dilaporkan Associated Press, Minggu (18/1/2026).
Dalam pidato yang sama, Khamenei menggambarkan para pengunjuk rasa sebagai ‘kaki tangan Amerika’ yang, menurutnya, menyerang fasilitas umum, termasuk lembaga pendidikan dan tempat ibadah. Ia menuduh kekerasan tersebut telah menyebabkan tewasnya beberapa ribu orang.
Pernyataan itu menandai eskalasi retorika Teheran, tidak hanya dengan kembali menyalahkan aktor asing atas keresahan domestik, tetapi juga dengan menyebut secara eksplisit skala korban yang sebelumnya jarang diakui secara terbuka oleh otoritas tertinggi Iran.
Resul Serdar Atas, koresponden Al Jazeera, menilai pernyataan Khamenei mempertegas pola lama pemerintah Iran dalam merespons krisis internal. “Teheran secara konsisten menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan dalam negeri. Namun kali ini, Khamenei menyampaikan tuduhan itu dengan bahasa yang jauh lebih personal dan langsung,” kata Atas.
Menurut Atas, Khamenei bahkan menyebut Trump sebagai tokoh sentral dalam apa yang ia gambarkan sebagai ‘plot internasional’ terhadap Iran. “Ia mengatakan bahwa dalam protes-protes sebelumnya, tingkat intervensi Amerika relatif rendah, tetapi kali ini Presiden Amerika Serikat berada di jantung konspirasi tersebut,” ujarnya, mengutip laporan Al Jazeera.
Meski melontarkan tuduhan keras, Khamenei menegaskan Iran tidak berniat menyeret konflik ini ke arah perang terbuka. “Kami tidak akan memicu eskalasi. Namun kami juga tidak akan membiarkan penjahat—baik di dalam maupun di luar negeri—lolos tanpa hukuman,” tegasnya lagi.
Dipicu Tekanan Ekonomi
Diketahui, gelombang unjuk rasa yang melanda Iran dipicu oleh tekanan ekonomi yang semakin berat. Tingginya inflasi, pengangguran kaum muda, serta menurunnya daya beli memicu kemarahan publik.
Ribuan warga turun ke jalan di berbagai kota menuntut perbaikan kondisi hidup dan perubahan kebijakan pemerintah. Banyak anak muda menganggur dan beban inflasi semakin besar.
Namun, unjuk rasa itu berujung rusuh, karena aparat pemerintah menghadapi pengunjuk rasa dengan keras. Beberapa lembaga pemantau hak asasi manusia, salah satunya Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan, korban jiwa lebih dari 3.000 orang. (Red)







