Trump Ancam Tarif demi Greenland, Kongres AS dan Denmark Bergerak Redam Ketegangan

by
Presiden AS terpilih Donald Trump. (Foto: Istimewa)

BERITABUANA.CO, WASHINGTON DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan ketegangan diplomatik dengan melontarkan ancaman pengenaan tarif terhadap negara-negara yang menolak ambisinya menguasai Greenland. Ancaman itu muncul di tengah upaya diplomatik intensif Denmark dan Greenland untuk meredam tekanan Gedung Putih melalui jalur Kongres AS.

Trump menyatakan, tarif dapat menjadi alat tekan bagi negara-negara yang tidak sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat terkait Greenland, yang ia anggap vital bagi keamanan nasional.

“Saya mungkin akan memberlakukan tarif pada negara-negara jika mereka tidak setuju soal Greenland, karena kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional,” kata Trump dalam acara di Gedung Putih, Jumat (16/1/2026) waktu setempat.

Namun, Trump tidak merinci negara mana saja yang berpotensi menjadi sasaran kebijakan tarif tersebut.

Ancaman ini menegaskan kembali pola kebijakan luar negeri Trump yang kerap menggunakan instrumen perdagangan sebagai alat tekanan geopolitik. Sebelumnya, ia juga mengancam tarif 25 persen terhadap negara-negara yang tetap menjalin perdagangan dengan Iran.

Kongres AS Tunjukkan Sikap Berbeda

Di saat retorika Gedung Putih memanas, delegasi bipartisan anggota Kongres AS justru bergerak ke Denmark untuk menunjukkan sikap berbeda. Sejumlah senator dan anggota DPR AS bertemu dengan parlemen Denmark di Kopenhagen pada Jumat.

Salah satu anggota delegasi, Senator Partai Republik asal Alaska Lisa Murkowski, menegaskan penolakannya terhadap gagasan pengambilalihan Greenland.

“Greenland harus dipandang sebagai sekutu kita, bukan sebagai aset,” ujar Murkowski kepada wartawan. Menurut dia, mayoritas warga Amerika Serikat juga menolak ambisi Trump tersebut.

Kunjungan delegasi Kongres ini menyusul rangkaian pertemuan diplomatik di Washington antara Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen dengan para pejabat tinggi AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt turut hadir dalam pertemuan itu.

Upaya Membatasi Langkah Gedung Putih

Denmark dan Greenland kini berupaya menggalang dukungan di Capitol Hill guna membatasi ruang gerak Gedung Putih, mengingat Kongres memiliki kewenangan besar atas anggaran federal.

Senator Demokrat dari Delaware, Chris Coons, yang memimpin delegasi ke Kopenhagen, menyebut pembicaraan dengan parlemen Denmark berlangsung positif.

“Kami berbicara tegas mengenai pentingnya rakyat Greenland menentukan sendiri masa depan mereka,” kata Coons.

Meski demikian, kebuntuan diplomatik antara AS, Denmark, dan Greenland belum terpecahkan. Pekan ini, para pejabat sepakat membentuk kelompok kerja untuk mengelola ketegangan tersebut.

Trump sendiri kembali menegaskan keyakinannya bahwa Greenland krusial bagi pertahanan AS.

“Jika kami tidak memilikinya, ada lubang besar dalam keamanan nasional kami,” ujarnya.

Respons NATO dan Uni Eropa

Sebagai respons atas meningkatnya tensi, Denmark mengundang sekutu NATO untuk mengikuti latihan militer di Greenland. Sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Prancis, Inggris, Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Belanda, telah atau akan mengirimkan personel militer ke wilayah Arktik tersebut.

Latihan ini, menurut pejabat militer Denmark, bertujuan menjawab kekhawatiran keamanan kawasan, bukan untuk menghadapi potensi agresi dari Amerika Serikat.

Komisi Eropa menegaskan bahwa Greenland, sebagai bagian dari Kerajaan Denmark, berada dalam perlindungan Pasal 5 NATO dan klausul solidaritas Uni Eropa.

RUU Larangan Aneksasi

Di dalam negeri AS, Murkowski bersama Senator Demokrat Jeanne Shaheen mengajukan rancangan undang-undang yang melarang penggunaan dana pemerintah AS untuk menduduki atau menganeksasi wilayah negara anggota NATO tanpa persetujuan negara terkait.

Meski Trump masih dapat memveto RUU tersebut, Kongres tetap memiliki instrumen untuk membatasi penggunaan dana melalui mekanisme anggaran.

“Penting untuk menunjukkan dukungan bipartisan terhadap NATO serta hubungan dengan Denmark dan Greenland,” kata Shaheen.

Sikap serupa disuarakan mantan pemimpin mayoritas Senat Mitch McConnell. Ia memperingatkan Trump agar tidak merusak kepercayaan sekutu.

“Ini bukan hanya soal Greenland. Ini tentang apakah Amerika akan berdiri bersama sekutu atau justru melukai kepentingannya sendiri secara strategis,” ujar McConnell.

Sementara itu, aksi protes terhadap ambisi Trump diperkirakan akan digelar di Kopenhagen, tiga kota besar Denmark lainnya, serta di Nuuk, ibu kota Greenland, pada akhir pekan ini.

Langkah diplomasi Kongres AS dan konsolidasi sekutu Eropa menegaskan bahwa isu Greenland kini tidak lagi sekadar wacana, melainkan ujian serius bagi hubungan transatlantik di tengah dinamika politik Amerika Serikat. (Red)