BERITABUANA.CO, KUPANG – Pada Desember 2025 Provinsi NTT mengalami inflasi bulanan atau Month to Month (M-to-M), sebesar 0,81 persen.
“Inflasi kembali terjadi, setelah pada November 2025 juga alami inflasi sebesar 0,58 persen,” jelas Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira Bangngu Kale saat jumpa pers virtual, Senin (5/1/2026).
Dikatakan Matamira Kale, berdasarkan kelompok pengeluaran inflasi M-to-M Desember 2025, disebabkan oleh kenaikan 10 dari 11 kelompok pengeluaran.
“Penyebab dominan inflasi Desember 2025 adalah, naiknya Indeks Harga Konsumen (IHK) pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,74 persen, dengan Andil 0,65 persen, serta kelompok peralatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,62 persen dengan andil 0,11 persen,” tegas dia.
Lebih lanjut dikatakan Matamira Kale bahwa penghambat dominan inflasi M-to-M pada Desember 2025, adalah kelompok informasi komunikasi dan jasa keuangan dengan deflasi 0,01 persen, dengan andil yang sangat kecil mendekati 0 persen.
“Untuk bulan Desember 2025 nilai inflasi tahun kalender atau inflasi tahunan (Y-to-Y) memiliki nilai yang sama yaitu 2,39. Jadi untuk dua indikator ini, sama-sama membandingkan IHK bulan Desember 2025 dengan IHK Desember 2024,” terang Matamira Kale.
Diakui Matamira Kale, jika dilihat berdasarkan wilayah cakupan IHK, inflasi Man to Man terjadi di seluruh wilayah cakupan IHK.
“Inflasi M-to-M tertinggi terjadi di Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS) sebesar 1,56 persen, dan inflasi M-to-M terendah terjadi di Kabupaten ngada sebesar 0,46 persen,” urainya.
Jika dilihat berdasarkan inflasi Y-on-Y pada Desember 2025, kata Matamira Kale, hanya Maumere yang berada di luar target 2,5 persen + 1 persen dengan inflasi sebesar 0,38 persen. Sedangkan daerah lainnya berada di dalam target pemerintah.
“Waingapu mengalami inflasi Y-on-Y tertinggi, yaitu sebesar 3,09 persen pada Desember 2025,” ujar Matamira Kale.
Untuk komoditas yang mendorong maupun menghambat inflasi, aku Matamira Kale, umumnya didominasi oleh kelompok komoditas makanan, minuman dan tembakau.
“Komoditas pada kelompok ini, sangat rentan terhadap perubahan, dan tergantung pada banyak hal, seperti permintaan dari konsumen, ketersediaan pasokan, yang juga berkaitan lainnya nanti, dengan distribusi suatu komoditas, atau kondisi cuaca serta kondisi lainnya, misalnya bencana, kebijakan pemerintah, dan sebagainya,” tandas Matamira Kale. (iir)







