BERITABUANA.CO, JAKARTA- Pengasuh Pesantren Skill Jakarta, Lumajang dan Jember, KH. Muhammad Nur Hayid resmi menyandang gelar Doktor Sejarah Peradaban Islam dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jakarta.
Gelar Doktor yang diraih Gus Hayid sapaan akrab KH. Muhammad Nur Hayid tersebut diperoleh usai menjalani siding terbuka dengan judul Disertasi “Tarekat dan Naionalisme: Studi Peran Stategis Jam`iyyah Ahli Al Thariqah Al Mu`tabarah Al Nahdliyah (JATMAN) Dalam Penguatan Nasionalisme Indonesia (1957-2022 M)” di Aula Jakoeb Oetama, UNUSIA, Jakarta, Rabu (14/8/2024).
Sebanyak enam penguji di siding terbuka ini memberikan nilai 87 dengan kategori A kepada Promovendus KH. Muhammad Nur Hayid.
“Bahwa hasil ujian tersebut, dinyatakan layak atau lulus, dengan angka 87 kategori promovendus adalah A,” ucap Ketua Sidang Dr. Siti Nabilah S.Sos.I, M.Pd seusai serangkaian ujian digelar.
Diketahui, dalam pemaparan siding terbuka pada disertasinya, Gus Hayid memaparkan bahwa tarekat merupakan jalan dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan melalui metode dan bimbingan mursyid. Seperti ibadah, dzikir dan tidak bergantung kepada dunia.
Sementara, nasionalisme merupakan sikap sosial politik yang dianut berbagai kelompok dalam satu negara dengan tujuan yang sama mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama.
“Bagaimana konsepsi nasionalisme hingga strategi JATMAN dalam menggerakkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air di Indonesia?”, ujar Gus Hayid di tengah presentasinya saat sidang.
Gus Hayid pun menuturkan, konsepsi itu bisa diketahui melalui penelaahan pengorganisasian JATMAN dalam kerja-kerja penguatan nasionalisme dan cinta tanah air selama ini yang telah dilakukan serta ke depannya. Dan, Ia meyakini penelitiannya mampu melengkapi celah kekosongan yang sudah ada sebelumnya.
“Bukan saja sentralistik terhadap figur seorang waliyullahnya, tetapi lebih luas lagi yakni peran JATMAN, sebagai organisasi tasawuf, dalam memperkuat nasionalisme,” jelas Gus Hayid.
Ditengah presentasi yang ilakukan, sseorang penguji meminta Gus Hayid untuk menujukkan peran organisasi yang mewadahi berbagai jamiyah tarekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pertanyaan tersebut pun dijawabnya dengan lugas bahwa peran tarekat sudah mulai seiring penyebaran Islam di nusantara. Selain melalui perdagangan dan pendidikan, Islam berkembang melalui jalur tasawuf dan tarekat.
“Ini melibatkan tradisi komunikasi politik sufistik,” ucapnya.
Begitupun, lanjut Gus Hayid, dalam konteks kekinian, setelah terwadahinya dalam JATMAN, organisasi-organisasi tarekat terus berjalan mengawal nasionalisme dan cinta tanah air.
salah satunya, JATMAN memiliki program Lajnah Cinta Tanah Air.”Aktif menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap tanah air kepada generasi muda,” sebutnya.
Ia berharap ke depan semakin banyak ruang bagi para pengamal tarekat atau sufi yang dikenal memiliki keihlasan tinggi untuk berperan dalam bernegara dan masyarakat.
Hadir menyaksikan ujian promosi doktor, diantaranya KH. Yusuf Mansur, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan Caswiyono Rusdi, Rektor IDAQU Dr. Muhammad Anwar Sani, sejumlah komisioner BNSP dan Pimpinan Daarul Qur’an KH Ahmad Jamil. (FDL87)







