BERITABUANA.CO, JAKARTA – NETFLIX dalam beberapa tahun terakhir menjadi buah bibir karena menjadi salah satu perusahaan yang mampu bertahan dari perubahan zaman dan beradaptasi perkembangan teknologi digital.
Menurut Eko Prasetyo dari Setjen DPD RI, tak banyak perusahaan yang mampu bertahan dari kejamnya perubahan dan perkembangan dunia digital.
“Ini hal yang menarik untuk ditiru oleh ASN,” tutur Eko dalam Diskusi bertajuk Adopsi Budaya Kerja NETFLIX bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara, Rabu (27/7/2022).
Dijelaskan Eko, NETFLIX yang didirikan Reed Hasting dan Marc Randolph di Scotts Valley tahun 2008, pada awalnya hanyalah perusahaan persewaan DVD, persewaan online DVD dan hanya memiliki 925 film.
Tapi kini NETFLIX telah menggurita dengan memberikan layanan digital streaming film dan serial TV ke 190 negara di seluruh dunia. Pendapatan dalam tiga bulan tahun 2022 sebesar US$7,86 miliar atau sekitar Rp113,82 triliun (kurs Rp 14.482/US$).
Ditambahkan Sugihartono, dari KPK, tak banyak perusahaan yang mampu melakukan transformasi dan bertahan lama. Misalnya saja Blockbuster.com yang sebelumnya perusahaan raksasa persewaan film dengan 7.700 toko di seluruh dunia, pada akhirnya tumbang pada November 2013. Padahal, sebelumnya NETFLIX pernah menawarkan untuk menjadi bagian Blockbuster.com, namun tawaran tersebut ternyata bertepuk sebelah tangan.
“Endingnya, NETFLIX mampu melibas Blockbuster.com.” tambah Sugihartono, dari KPK.
Sementara, Emi Frizer dari Basarnas membenarkan beragam stigma negatif tentang ASN yang muncul di benak khalayak ramai.
Pandangan negatif bahwa ASN, kata Emi adalah mesin birokrasi yang berbelit-belit, kurang berintegritas, gagap teknologi, kurang profesional, serta jauh dari inovasi.
“Dan satu lagi, sering terdengar komentar “jika bisa diperlambat kenapa harus dipercepat” menjadi pandangan yang lazim tersemat pada abdi negara, ASN,” tutur Emi.
Kemudian, tambah Ida Swastika dari LPSKLPSK, seringkali pelayanan ASN yang cenderung lama dan berbelit-belit, membuat harapan masyarakat yang membuncah tiba-tiba pupus. Beragam alasan menjadi senjata bagi ASN untuk mengelak dari tanggung jawab entah karena berharap “sesuatu” atau alasan lain.
Beragam cara melepas stigma negatif tersebut, salah satunya pada tahun 2021 Presiden Jokowi mencanangkan core value ASN BerAKHLAK, yang diharapkan menjadi fondasi budaya kerja ASN yang profesional, berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.
“Ini mendorong perubahan budaya kerja ASN, ” timpal Ida Swastika dari LPSK.
Teuku Fachrul Anwar, dari Kemkop dan UKM mengungkapkan kunci kesuksesan NETFLIX terletak pada inovasi bisnis dan kinerja SDM. NETFLIX sadar ketidakpuasan pelanggan saat menonton siaran TV konvensional adalah iklan, sehingga mengubah sumber pendapatan dari iklan menjadi biaya berlangganan.
Pelanggan dengan membayar sejumlah uang, maka dapat mengikuti menonton film atau serial TV diinginkan, tidak hanya di rumah.
“Namun juga mengunakan gadget alias handphone yang tak terbatas tempat.” Kata Teuku.
Diskusi di atas itu sendiri merupakan bagian dari pelatihan kepemimpinan administrator, yang diikuti oleh 40 (empat puluh) peserta dari beragam institusi kementerian dan lembaga serta Pemerintah daerah.
Kementerian, lembaga pemerintah serta pemerintah daerah yang hadir, seperti dari KPK, Kemendagri, Kemenkominfo, BNPB, Kemenkop dan UKM, Setjen DPD RI, LPSK, Komisi Yudisial, Basarnas, Sekretariat Kabinet, Kemendes dan PDTT, Pemerintah Kabupaten Muna, Pemerintah Kota Jambi, Pemerintah Kabupaten Bangka, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, dan Pemerintah Kabupaten Langkat. (Kds)







