Program Merdeka Belajar Dalam Perspektif Teori Belajar di Era Digital

by
2021-02-03_Merdeka-Belajar_copy_540x360
Ilustrasi (Foto: Ist)

PROGRAM Merdeka Belajar yang diinisiasi oleh Mendikbudristek, Nadiem Makarim adalah sesuatu hal yang seharusnya disambut baik oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan. Program merdeka belajar yang mengusung konsep kebebasan dan kemandirian dalam belajar, berpikir dan berpendapat adalah gagasan yang strategis, dinamis, fleksibel, dan kekinian yang menguntungkan dan berdampak positip bukan hanya bagi siswa tetapi juga bagi guru.

Menerapkan program merdeka belajar di era digital dan di masa pendemi covid-19 seperti saat ini dipandang sangat strategis, mengingat semua model pembelajaran berubah dari tatap muka menjadi model belajar secara daring.

Belajar secara daring tentunya memerlukan kemandirian siswa dalam mengelola pembelajaran dan dalam memecahkan masalah. Dengan merdeka belajar, guru dan murid memiliki ruang yang sama dalam berpendapat, berinovasi, berkreasi, dan berinisiatip sehingga diharapkan tercipta SDM yang cerdas, kritis, kreatif, inovatif dan analitis.

Selain itu, merdeka belajar juga bertujuan menciptakan generasi yang santun, beradab dan berintegritas sesuai dengan nilai nilai Pancasila. Dengan program merdeka belajar dibarengi dengan kemajuan teknologi, sangat memungkinkan bagi guru untuk mengelola pembelajaran berbasis teknologi yang interaktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan.

Agar dapat merealisasikan tujuan merdeka belajar dengan baik, terlebih dahulu guru harus mampu bersikap otonom, kritis, kreatif, dan inovatif terutama dalam membantu menciptakan suasana belajar yang nyaman, menyenangkan dan kondusif bagi siswa.

Dalam hal ini guru harus mampu memfasilitasi siswa untuk lebih mengeksplorasi bakat dan minatnya dalam belajar. Selain itu, guru juga harus mampu memotivasi siswa untuk terus belajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas (outing class).

Dalam menerapkan konsep merdeka belajar, guru harus bersifat terbuka terhadap berbagai metode belajar dan teknologi yang nyaman dan sesuai bagi siswa. Dalam hal ini, guru sebaiknya mempelajari tentang epistemologi dan bermacam macam pendekatan, metode dan teori pembelajaran sehingga akan memudahkan dalam memilih dan menentukan metode dan pendekatan belajar yang paling sesuai bagi siswa.

Berkaitan dengan terori dan pendekatan belajar, beberapa teori dari buku Teaching in A Digital Age karya A.W. (Thony) Bates dapat diterapkan pada program merdeka belajar. Kognitivisme

Teori kognitivisme merupakan teori belajar yang berfokus pada cara kerja otak, seperti; bagaimana otak merespon informasi, mengelola informasi, menyimpan informasi dalam pikiran, dan mengambilnya kembali saat dibutuhkan. Teori ini percaya bahwa otak manusia berfungsi seperti prosesor komputer. Dengan teori dan pendekatan kognitivisme, guru dapat merangsang siswa berpikir kritis dan analitis. Teori ini jelas sesuai dengan konsep merdeka belajar dimana salah satu tujuannya adalah menciptakan pola belajar yang dinamis dan dialogis dimana siswa diberikan kesempatan untuk memproses setiap informasi dan pengetahuan yang masuk dan mendialogkannya dengan diri sendiri, teman dan guru.

Konstruktivisme

Konstruktifis percaya bahwa pengetahuan pada dasarnya bersifat subjektif, dibangun dari persepsi kita dan kesepakatan yang disepakati bersama. Dalam konstruktivisme, peserta didik diberikan kesempatan untuk membangun dan merefleksikan pengetahuan dan informasi yang ia miliki dengan informasi baru yang mereka peroleh hingga menjadi sebuah pengetahuan baru. Konstruktivis juga meyakini bahwa otak memiliki lebih banyak plastisitas, kemampuan beradaptasi, dan lebih kompleks dari perangkat lunak komputer. Manusia juga memiliki faktor unik lainnya, seperti emosi, motivasi, kehendak bebas, nilai, dan jangkauan indera yang lebih luas yang membedakannya dengan komputer.

Pendekatan konstruktifisme mendorong siswa semakin kreatif dan inovatif. Teori ini tentunya sejalan dengan konsep merdeka belajar dimana salah satu tujuannya adalah melahirkan generasi yang kreatif dan inovatif.

Konektivisme

Pendekatan belajar berikutnya adalah pendekatan konektifisme, yang mana belajar bukanlah sekedar mengkonstruksi pengetahuan internal yang kita miliki. Semua hal yang kita peroleh melalui jaringan eksternal juga bisa dianggap sebagai pembelajaran. Dari teori ini, dua istilah — node dan link — umum digunakan untuk menggambarkan bagaimana kita mendapatkan dan menghubungkan informasi dalam jaringan. Dalam konektifisme, siswa dilihat sebagai “simpul” dalam jaringan. Node mengacu pada objek apa pun yang dapat dihubungkan ke objek lain, seperti buku, halaman web, orang, dll.

Konektifisme juga mengarahkan siswa menggabungkan pemikiran, teori, dan informasi umum dengan cara yang bermanfaat. Teori ini menggunakan teknologi sebagai bagian utama dari proses pembelajaran. Konektifisme juga mempromosikan kolaborasi dan diskusi kelompok yang mendorong munculnya sudut pandang dan perspektif yang berbeda dalam hal pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan memahami informasi. Konektifisme mempromosikan pembelajaran dengan menggunakan jejaring sosial berbasis teknologi, seperti melalui media sosial, jaringan online, blog, atau database informasi.

Teori belajar konektifisme tidak diragukan lagi sangat cocok diterapkan untuk program merdeka belajar. Dengan pendekatan konektifisme siswa dan guru memiliki kebebasan, kemerdekaan dan kemandirian mencari, mengembangkan dan mendistribusikan materi dan sumber sumber belajar sehingga pembelajaran semakin menarik, dinamis dan berkembang. Pendekatan ini banyak mengandalkan teknologi sehingga sangat pas diterapkan pada kelas merdeka belajar karena siswa dan guru memiliki kesempatan mengembangkan pembelajaran yang fleksibel baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Model kelas dengan konsep merdeka belajar mungkin masih terasa asing bagi sebagian sekolah formal dan sebagian besar masyarakat Indonesia. Itulah sebabnya banyak sekali pro dan kontra menanggapi munculnya program ini.

Tetapi bagi mereka yang berkecimpung di bidang pendidikkan informal dan non formal seperti kursus bahasa Inggris dan Lembaga pendidikkan lainnya, program merdeka belajar bukanlah sesuatu hal yang baru. Jauh sebelum konsep merdeka belajar diwacanakan ke publik, banyak Lembaga pendidikkan informal dan non-formal yang sudah lebih dulu menerapkan konsep tersebut seperti dalam medesain materi, metode belajar, sistem pembelajaran, teknologi pembelajaran, dll.

Dalam membuat materi kursus bahasa Inggris misalnya, banyak Lembaga pendidikan bahasa Inggris yang telah mendesain materi kursus yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa, bahkan banyak yang mulai membuat customized program, terlebih untuk kelas-kelas corporate atau in house training. Beberapa lembaga pendidikan bahasa Inggris seperti English Now Training Centre misalnya, melakukan wawancara dan diskusi intensif dengan para calon peserta untuk menggali minat, kebutuhan, dan tujuan belajar yang diinginkan setelah mengikuti kursus. Dengan customized materi dan customized program diharapkan dapat tercipta suasana belajar yang nyaman, menyenangkan namun tetap mencapai target yang diharapkan.

Selain itu banyak juga Lembaga pendidikan non-formal yang sudah menerapkan konsep merdeka belajar dalam sistem pembelajaran mereka, di antaranya adalah sistem belajar jarak jauh dan sistem belajar tanpa guru. Dalam sistem pembelajaran tersebut, murid dan guru sama sama memiliki kebebasan, kemandirian dan kemerdekaan bukan hanya dalam hal waktu belajar tetapi juga dalam menentukan capaian belajar yang ingin di raih. Terbukti sistem pembelajaran tersebut dapat berjalan dengan baik; tujuan pembelajaran tercapai, siswa dan guru merasa nyaman, puas dan bahagia.

Dari hal-hal yang dijelaskan tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep merdeka belajar cocok diterapkan di era digital, terlebih di masa pandemik seperti saat ini dimana semua pembelajaran dilakukan secara daring dan menuntut kemandirian dan tanggung jawab siswa dalam mengelola pembelajarannya sendiri. Program merdeka belajar sangat optimis dapat berhasil diterapkan karena banyak Lembaga Lembaga Pendidikan non-formal yang sudah terbukti sukses menerapkan program tersebut. Selain itu, untuk lebih menunjang keberhasilan pembelajaran, guru dapat mengembangkan teori dan pendekatan belajar seperti teori kognitif, teori konstruktif dan teori konektifisme.

*Gizi Sri Suwarni* – (CEO dan founder English Now Training Centre dan saat ini sedang menyelesaikan Program S-2 jurusan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Jakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *