Satu Tekad, Satu Hasil, Jadikan Pandemi ke Endemi

by
hari-santri-nasional-2020-3_169
Tes Swap (Foto: Ist)

UNTUK saat ini kita bisa bernafas lega, setelah sebelumnya selama hampir dua tahun selalu dihinggapi rasa cemas, bahkan ada juga yang sangat ketakutan hingga tak berani ke luar rumah karena takut terinfeksi virus Covid-19.

Sekarang, jelas, meski belum bisa tertawa lebar, kita atau rakyat Indonesia bisa tersenyum gembira. Pasalnya, penularan Covid-19, sudah menurun drastis. Bahkan data terakhir, 11 Oktober 2021, DKI Jakarta nol kematian.

Kemudian daerah Jawa – Bali, dengan kembali diperpanjangnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), hingga tanggal 18 Oktober 202i, sudah tidak ada lagi yang ber-Level 4. Jawa – Bali sebagai tolok ukur di Indonesia tersisa Level 3,2 dan 1.

Artinya,  apa yang dilakukan pemerintah dalam menangani penyakit dunia, yakni COVID-19 dengan PPKM-nya sudah bisa dibilang berhasil menekan lajunya tingkat penularan Covid-19.

Keberhasilan menekan jumlah penularan Covid-19, tentu bukan hanya karena PPKM semata. PPKM hanyalah sebagai bagian besar dari rentetan yang dilakukan pemerintah dengan berbagai macam variabel pendukung jalannya PPKM.

Misal menerapkan protokol kesehatan (proses), dengan ketat. Di antaranya dengan memulai razia-razia masker, Orang-orang berkerumun, dan menerapkan aturan disimpul-simpul orang berkerumun.

Membatasi tempat ibadah seluruh agama yang ada di Indonesia, segala bentuk kegiatan pesta, masuk ke mal-mal, bioskop, dan tempat-tempat wisata.

Semua itu dilakukan pemerintah dengan PPKM-nya, dari mulai tidak diperbolehkan, sampai berangsur-angsur dilonggarkan, dengan pembatasan-pembatasan sesuai aturan masing-masing kegiatan kegiatan itu. Termasuk perkantoran yang sebelum sebagai penyumbang merebaknya virus COVID-19.

Tidak cukup sampai di situ, pemerintah dengan PPKM-nya pun melakukan pembatasan dan penyesuaian disetiap transportasi. Disamping dibatasi kapasitas, dan syarat-syarat yang mumpuni, seperti halnya angkutan kereta api Commuter Line yang harus menyertakan Surat Keterangan Kantor (STR), sampai saat ini dengan aplikasi PeduliLindungi. Artinya yang bisa naik hanya orang-orang yang sudah di vaksin.

Kemudian, ke luar kota harus terlebih dahulu tes Antigen. Baik melaui udara, darat dan laut. Sampai sekarang ini masih berlaku dan pengetatan pendatang dari luar negeri dari bandara. Tentu dengan sebagian menggunakan bukti vaksin.

Atas hal itu semua, penularan COVID-19 pun dapat ditekan, dan  semakin melandai. Positivity rate nasional sudah di bawah 5 persen atau sesuai standar WHO. Bahkan
bekalangan ini sudah di bawah 1 persen, meski masih ada kasus baru per harinya.

Kesadaran Bersama

Semua itu, tentu bukan kerja pemerintah sendiri dengan PPKM-nya, tapi adanya kesadaran yang tinggi dari seluruh masyarakat Indonesia. Antara pemerintah dan rakyatnya saling bahu membahu berjuang untuk menuntaskan fenomena yang mengkhawatirkan, yakni penularan COVID-19.

Hal seperti itu, pastinya harus dipertahankan terus dan terus sampai pada akhirnya di negara tercinta kita berubah dari pandemi menjadi endemi. Karena memang, seperti banyak yang dikemukakan para ahli sangat mustahil virus COVID-19 ini habis.

Caranya, ya harus disiplin. Masyarakat disiplin dalam menjaga protokol 5M bagi. Sedang pemerintah disiplin menegakan 3T.
5M dimaksud adalah, muncuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Sedang 3T, Testing,Tracing, dan Treatment.

5M, menjadi tanggung jawab masyarakat. Dan harus dilakukan dengan disiplin yang tinggi oleh seluruh warga negara. Sementara, untuk  3T  hendaknya dilakukan oleh otoritas terkait untuk melakukan pengujian, pelacakan, kemudian tindakan pengobatan atau perawatan kepada orang yang terpapar virus tersebut.

Testing untuk mencari kasus positif dari orang yang bergejala bisa jadi menurun seiring menurunnya kasus. Juga untuk mencari kontak erat dan testing acak untuk mencari kasus konfirmasi tidak boleh kendur karena angka konfirmasi harian kita masih ada, bukan zero.

Nah, semua itu harus dilakukan secara bersama-sama, atau lebih dikenal dengan sebutan bergotong royong. “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”.

Mengingatkan bahwa potensi gelombang ketiga yang diprediksi banyak para ahli bisa terjadi. Dan yang paling harus diwaspadai pada akhir tahun seiring pelonggaran pembatasan pada Agustus.

Potensi itu harus dicegah secara sungguh-sungguh oleh pemerintah, dan 3T menjadi salah satu kunci untuk mengetahui potensi terjadinya kenaikan angka kasus positif. Disamping juga terus melakukan vaksinasi kepada masyarakat yang belum di vaksin.

Kita tentunya tidak mau sama sekali, atau tidak mengharapkan adanya gelombang ketiga COVID-19. Tidak mau lagi pengalaman sebelumnya pada saat gelombang kedua di bulan Juni – Juli lalu berulang.

Artinya sangat perlu disiapkan skenario matang jika terjadi hantaman gelombang ketiga. Namun, itu semua kembali kepada kesamaan tekad bahwa tidak mau lagi terjadi gelombang berikutnya.

Yang jelas, sikap kita harus sama,  patahkan keraguan para ahli akan terjadi gelombang ketiga, dengan sikap, terjadi atau tidak yang jelas wajib disiapkan segala antisipasinya.

Harus dipastikan juga adanya stok obat, stok bed perawatan, stok oksigen dan ketersediaan tempat karantina terpusat. Sebab, banyak negara yang sudah mengalami serangan gelombang ketiga.

*Dadang Sugandi* – (Wartawan beritabuana.co) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *