Pandemi Covid-19 = Proxy War ?

by
COVID-19
Teddy Yamin.

Oleh: Teddy Mihelde Yamin (Direktur Eksekutif Cikini Studi)

PANDEMI Covid-19 saat ini seolah membalikkan dunia. Mengganti dunia   dengan dunia ‘baru’ yang sebelumnya tak kita kenal. Dunia asing yang mungkin sebelumnya tak pernah terpikirkan  atau sekedar membayangkannya.

Semoga tak begitu halnya dengan yang  menjalankan kekuasaan. Yang menjadi pertanyaan, apakah kondisi ini terjadi begitu saja secara alami atau direncanakan? Jika direncanakan, berarti ada pihak yang  membuat? Ada pihak yang berkepentingan dengan perubahan itu?  

Pertentangan dan perubahan itu seolah berkesan alami, tetapi jika kita cermati lagi jelas terasa bahwa ada yang mendesign, ada peperangan yang sengit antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan perubahan peradaban manusia di dunia ini. Saling memperebutkan pengaruhnya. 

Seiring dengan perkembangan teknologi, sifat dan karakteristik perang telah bergeser. Perang masa kini yang terjadi dan perlu diwaspadai oleh Indonesia, salah satunya adalah proxy war. Proxy war tidak melalui kekuatan militer, tetapi perang melalui berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik melalui politik, melalui ekonomi, sosial budaya, termasuk hukum.

Proxy war merupakan sebuah konfrontasi antar dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko kehancuran fatal.

Dalam proxy war, tidak bisa terlihat siapa lawan dan siapa kawan. Dilakukan non state actor, tetapi dikendalikan oleh sebuah negara. Ini karena ada banyak negara yang ingin menguasai sumber daya alam Indonesia melalui proxy war.

Hal tersebut terjadi karena kesuburan tanah Indonesia, posisi geografis yang sangat strategis, serta memiliki kekayan alam hayati dan non hayati yang luar biasa. 

Sebaliknya, mungkin saya terlewat, tetapi sejauh ini rasanya belum pernah mendengar pemerintah menyatakan  ancaman serius tersebut secara terbuka dan mengajak rakyatnya untuk bersatu. Padahal jika kita tak sadari dan tak cukup cerdik, bukan tak mungkin terjebak pada salah satu blok. Pada harapan semu. Selanjutnya bila tidak memperkuat diri, akhirnya kita jauh dari berdaulat dan menjadi objek bancakan oligarki dunia. 

Oya, kalau pandemi sekarang ini, bagaimana? ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *