Ngalah Ngalih vs Ngelih Ngamuk

by
CDL, Direktur Keamanan dan Kesalamatan Korlantas Polri

SITUASI pandemi covid ini menimbulkan hal positif maupun negatif. Dampak positif bs dikatakan memahami mau berdamai dg situasi        (ngalah) dan mau berubah atau melakukan perubahan (ngalih)untuk ttp mampu bertahan dlm kondisi yg ekstrim sekalipun. Demikian sebaliknya bila hanya berpikir menang sendiri hanya berkeluh kesah dg pikiran sebatas perut ( ngelih). Merasa paling susah dan paling segalanya shg membuat pembenaran untuk memaksakan kehendak (ngamuk). Segala cara dihalalkan. Pokok e atau mau menang sendiri.

Situasi yg sulit tdk selayaknya dimanfaatkan untuk mencari merusak citra bangsa. Apalagi dg membodoh2i memprovokasi dg ujaran kebencian dg berita2 hoax dsb. Opini publik diqduk aduk dan dg sesuka hati mewarnai isi kepala dlm bentuk opini publik yg dikendalikan nya. Analologi ngelih dan ngamuk ini sebenarnya suatu parodi ketololan atau menggambarkan kelas unthul munyuk yg tdk mampu menunjukkan kematangan atau tingkat kedewasaannya. Ngelih ngamuk, lapar marah ini wujud produk pembodohan otak pengikutnya yg sdh di labur dg kebencian dan anarkisme.

Anarkisme di masa sulit menunjukkan kelemahan suatu bangsa dlm mengatasi kesulitan. Pokok e mjd sesuatu yg menunjukkan pekok e ( ketololannya). Ketidak mampuan berdialog dan membangun peradaban merupakan suatu kekonyolan. Dan memang kerusuhan yg diinginkannya biasanya ada biangnya si tukang labur otak. Mereka masa bodoh akan kepentingan bangsa n negara dg tega mengorbankan banyak orang. Semua demi pemenuhan napsu pribadi maupun kroni.

Ngalah bukan berarti kalah dan mau ngalih nerpindah yg dpt dipahami bahwa melakukqn perubahan adlah suatu keniscayaan untuk bertahan hidup tumbih dan berkembang. Ini waras dan memikirkan bgm memtransformasi untuk mencerdaskan. Ngalah dan ngalih pd konteks ini adalah dg sadar bertanggung jawab mengatasi desaign ngelih ngamuk. Transformasi meyakinkan membangun solidaritas sosial menjadi bagian dr ketahanan dan kebertahanan suatu bangsa yg berdaulat.

Pada konteks keteraturan sosial, sadar dan berani melakukan perubahan dan keluar dr zona nyaman merupakan upaya mencerdaskan. Masyarakat yg cerdas tdk mudahvterprovokasi. Karakternya terbangun dg spirit patriotisme yg dilandasi nilai2 spiritual yg dilandasi dg ibtegritas tinggi. Konteks cerdas ini jg dikaitkan mendalamnya kemampuan logika ygvtdk mudah dibodoh2i atau dijadikan jaran keplakan. Perubahan pasca pandemi covid 19 adalah berani bwrlandaskan dg sistem2 elektronik yg terhubung dlm satu sistem yg terintegrasi.

Mengatasi sistem pembodohan adalah dg sistem mencerdaskan salah satunya melalui literasi. Membangun model2 solidaritas sosial. Membangun sistem ketahanan di semua gatra kehidupan. Solidaritas sosial bukan sebatas sumbang atau bentuk charitas. Pola solidaritas sosial dpt dibangun berbasis wilayah maupun berbasis pd kepentingan2 atau pd kelompok2 kategorial. Pd sistem solidaritas sosial memerlukan jejaring sosial sbg jembatannya.

Kemitraan sbg soft powerpun ini jg perlu dibangun. Demikian jg dg ikon2nya agar dpt dijadikan sumber inspirasi krn menghadapi kaum ngelih ngamuk ini bukan masalah kecil. Krn kalau trs dihembuskan akan merusak peradaban dan seakan akan anarkis mjd acuan pembenaran sbg pilihan dlm mencari solusi. Sistem elektronik yg terhubung dan terintegrasi mjd bagian dasar untk menjaring rekam digital apa yg telah sedang dan akan mereka lalukan dlm merusak peradaban.

*CDL* – (Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *