Jaga Keindonesiaan, Komposisi Pengurus PBNU Harus Merata dari Jawa dan Luar Jawa

by
Buku NU Abad Kedua, Karya Dr. KH. Muhammad Nur Hayid. Foto: Dokumen Pribadi

BERITABUANA.CO, JAKARTA — Pengasuh Pesantren Skill, Dr. KH. Muhammad Nur Hayid, meminta kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperhatikan komposisi kepengurusan yang merepresentasikan seluruh wilayah Indonesia. Menurutnya, keterwakilan Jawa dan luar Jawa penting untuk menjaga keindonesiaan sekaligus memperkuat kohesivitas jam’iyah NU.

Hal itu disampaikan KH Muhammad Nur Hayid menyusul selesainya Muktamar ke-35 NU yang menetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.

“Soal komposisi struktur, saya berharap mandatori Muktamar, baik Rais Aam maupun Ketua Umum Tanfidziyah yang terpilih, betul-betul memperhatikan komposisi keindonesiaan, komposisi Jawa-luar Jawa, komposisi Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur,” ujar KH Muhammad Nur Hayid, Kamis (3/9/2026)

Menurutnya, representasi wilayah dalam struktur PBNU penting untuk menunjukkan bahwa NU merupakan organisasi yang memiliki akar dan kekuatan di seluruh Indonesia, bukan hanya di Pulau Jawa.

“Ini penting untuk menunjukkan bahwa NU itu tidak hanya di Jawa. Lebih-lebih jika diberi persepsi bahwa NU hanya Jawa Timur, karena ini sangat membahayakan kohesivitas jam’iyah,” kata Gus Hayid, sapaan akrabnya.

Ia menilai, komposisi kepengurusan yang terlalu terkonsentrasi pada satu wilayah berpotensi memunculkan sentimen dan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Karena itu, ia berharap posisi-posisi strategis di PBNU dapat diisi secara proporsional oleh kader dari berbagai daerah.

“Di Jawa sendiri saya kira harus dibagi, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat untuk pos-pos strategisnya. Dan tentu juga pos-pos strategis kita berikan di PBNU nanti untuk sahabat-sahabat, teman-teman para pejuang NU dari luar Jawa,” ujar Wakil Katib PWNU DKI ini.

Gus Hayid menyebut sejumlah wilayah yang perlu mendapat representasi, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kawasan timur Indonesia dan Papua.

Menurutnya, komposisi yang representatif tersebut bukan sekadar persoalan pembagian posisi, tetapi dapat menjadi ruang rekonsiliasi sekaligus memperkuat komitmen kepengurusan baru untuk mengayomi seluruh warga NU.

“Ini akan menjadi ruang rekonsiliasi sekaligus komitmen dari kepengurusan baru PBNU betul-betul ingin mengayomi semuanya, sekaligus ingin merangkul semuanya dalam rangka menyambut NU abad kedua,” tegas Mantan Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU ini.

Dorong Super ‘Teamwork’

Selain persoalan keterwakilan wilayah, Gus Hayid juga menyoroti pentingnya membangun pola kepemimpinan kolektif di tubuh PBNU.

Menurutnya, kepemimpinan tidak boleh bergantung pada satu sosok. Apalagi, setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

“Sosok kepemimpinan di PBNU yang hari ini juga masih mendapatkan sorotan dan kritik dari masyarakat melalui netizen, menurut saya tidak ada yang sempurna dari seseorang, siapapun itu,” ujar Alumni Pesantren Krapyak Yogjakarta itu.

Karena itu, ia mengusulkan agar kepemimpinan PBNU ke depan membangun super teamwork, bukan kepemimpinan yang berbasis pada satu figur. “Leadership itu tidak tergantung pada satu orang, tapi tergantung pada teamwork. Oleh karena itu saya usul, bangunlah super teamwork, bukan personal based atau bukan sosok tunggal,” ucap Gus Hayid.

Ia menjelaskan, konsep tersebut memungkinkan setiap pengurus saling melengkapi. Kekurangan seorang pengurus pada satu bidang dapat ditutupi oleh pengurus lain yang memiliki kapasitas di bidang tersebut.

“Kalau ada yang kurang pada satu sisi, semoga diisi oleh pengurus yang lain yang punya kelebihan pada sisi itu. Demikian halnya pengurus yang lain yang tidak punya kapasitas pada sisi itu, diisi oleh pengurus yang lain yang punya kapasitas pada sisi yang diperlukan,” jelasnya.

Ia berharap pola tersebut menjadi warna utama kepengurusan PBNU dalam menyambut era NU abad kedua. “Super teamwork inilah yang diharapkan akan mewarnai komposisi pengurus PBNU masa yang akan datang menyambut NU abad kedua. Bukan sosok Superman, tapi super teamwork,” tuturnya.

Gus Hayid juga mengingatkan agar PBNU tidak terjebak pada pola kepemimpinan one man show. Sebaliknya, kepemimpinan harus mengedepankan kebersamaan dan kolektivitas.

“Bukan sosok one man show, tetapi sosok jama’i, kebersamaan atau collective leadership, kepemimpinan yang bersama-sama. Insyaallah kalau itu yang dibangun, kemaslahatannya akan lebih besar dan manfaatnya untuk jam’iyah juga akan bisa dirasakan,” kata Penulis Buku NU Abad Kedua ini.

PBNU Harus Berperan Global

Lebih jauh, Gus Hayid berharap PBNU di bawah kepemimpinan baru tidak hanya berkonsentrasi pada persoalan internal organisasi dan umat di dalam negeri. Menurutnya, NU memiliki peluang besar untuk memainkan peran lebih strategis dalam percaturan global.

Ia menilai berbagai persoalan dunia, mulai dari geopolitik, konflik dan perang hingga persoalan kemanusiaan, membutuhkan kontribusi dari organisasi keagamaan yang memiliki jaringan internasional seperti NU.

“Saya kira PBNU ke depan juga menjadi harapan bagi dunia untuk menyelesaikan problem-problem geopolitik, problem-problem konflik perang dan problem kemanusiaan,” ujarnya.

Karena itu, orientasi PBNU ke depan, menurutnya, perlu melihat dinamika dunia dan mengambil posisi yang tepat. “Orientasi PBNU ke depan itu harus juga melihat dunia, lalu mengambil posisi dan peran yang tepat. Positioning yang tepat ini akan memengaruhi peran global PBNU yang nantinya insyaallah akan mendapatkan pengakuan dari dunia internasional,” katanya.

Untuk menopang kerja-kerja internasional tersebut, ia menilai PBNU membutuhkan pengurus yang memiliki wawasan global, jaringan internasional, serta kemampuan bekerja secara cerdas dan efektif.

“Tentu untuk menopang kerja-kerja internasional ini diperlukan pengurus yang juga punya wawasan internasional, jaringan internasional, dan kerja-kerja cerdas serta kerja-kerja efektif di dunia internasional,” ujarnya.

Di akhir, Gus Hayid mengajak seluruh kader dan warga NU menerima hasil Muktamar dengan lapang dada sekaligus memberikan dukungan kepada kepemimpinan baru. Namun, dukungan tersebut tetap harus disertai pengawasan dan kritik yang sehat.

“Saya mengajak kepada seluruh warga NU, baik yang struktural maupun kultural, ayo kita bersatu kembali. Kita berniat kembali untuk khidmah pada Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dengan satu tujuan agar diakui menjadi santrinya Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari,” kata Gus Hayid.

Menurutnya, perbedaan pandangan maupun ketidakcocokan terhadap proses dan dinamika Muktamar merupakan hal yang wajar. Namun, keputusan Muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi harus dihormati bersama

“Kita mungkin ada yang kurang cocok dari proses dan dinamika Muktamar. Faktanya, Muktamar sudah selesai. Sebagai orang yang bijak, saya kira kita harus terima apa pun hasilnya karena sudah melalui proses permusyawaratan tertinggi,” ujarnya.

Setelah keputusan Muktamar diterima, Gus Hayid mengingatkan pentingnya melakukan pengawasan terhadap jalannya organisasi selama lima tahun ke depan. Menurutnya, menerima hasil Muktamar bukan berarti seluruh warga NU harus berhenti memberikan kontrol dan masukan.

“Tinggal kita awasi bersama-sama dan kita kontrol bersama-sama program serta kegiatan dan perjalanan PBNU lima tahun mendatang,” ujarnya.

Ia menegaskan, warga NU harus memberikan dukungan terhadap program yang dinilai baik. Sebaliknya, jika terdapat kebijakan atau langkah yang dinilai kurang tepat, warga NU tetap memiliki ruang untuk memberikan masukan dan kritik.

“Kalau baik kita dukung, kalau ada yang kurang pas kita luruskan, kalau ada yang perlu dikritik kita kritik dengan cara yang beradab, dengan kritik yang santun dan akhlakul karimah,” tegas Gus Hayid.

Gus Hayid mengingatkan agar kritik terhadap kepemimpinan dan perjalanan PBNU tidak dilakukan dengan cara-cara yang justru dapat merusak persaudaraan sesama warga NU. Ia mendorong kritik disampaikan secara konstruktif sehingga dapat menjadi bahan perbaikan organisasi.

“Insya-Allah semuanya akan bisa menerima apa yang menjadi kritik konstruktif kita, bukan dengan cara caci maki atau saling menghinakan,” katanya.

Menurutnya, persatuan menjadi modal penting bagi NU dalam menghadapi tantangan organisasi di abad kedua. Karena itu, seluruh elemen NU perlu mengakhiri perbedaan akibat dinamika Muktamar dan kembali fokus pada agenda besar Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

“Mari kita bersatu kembali untuk kejayaan NU di abad kedua,” pungkas Penasehat Pesantren Skill Nurul Hayat, Lumajang ini. (FDL87)