AS-Iran, seperti tengah menarik seutas tali dengan simpul di tengahnya. Makin kuat menarik, makin sulit dilepas. AS-Iran tak punya pilihan, kecuali memotongnya dengan pedang.
Simpul, pendapat, atau indikator itu bernama Israel dan Hezbollah (Lebanon). Kedua sisi harus dipotong, sisi AS adalah Israel, dan sisi Iran (Hezbollah). Memotong Hezbollah sendirian tanpa Israel, satu ‘nihilisme’!
AS-Iran yang hampir merampungkan kesepakatan, setelah gencatan senjata (8 April) yang diupayakan Pakistan, berantakan. Semua gara-gara AS gagal memotong simpul di sisi-nya, sehingga Iran tak bisa memotong simpul di sisi-nya pula.
Apa yang terjadi, sehingga Israel dan Hezbollah masih saling serang? Padahal patron mereka masing-masing, tengah mengupayakan perdamaian? Mengapa Israel-Hezbollah berani menantang “jalur merah” yang seharusnya, menjadi domain sang patron (AS-Iran)?
Berkelindannya kebenaran (kejujuran) dan ‘moral hazard’ (niat buruk) AS-Israel, menjadi senjata PM Benjamin Netanyahu untuk mempermainkan proses negosiasi Trump. Israel menjadikan Trump sebagai ‘becandaan’ terstruktur, yang diulang-ulang.
Semua proses negosiasi yang “argument clinic”-nya bersipat optimistik, seperti ‘komedi’ yang berputar dalam satu sumbu. Terkadang berada di atas, terkadang di tengah, terkadang di bawah. Siapakah yang memainkan “negosiasi komedi” ini? Donald Trump!
Israel telah menjadi “duri dalam daging” AS. Saat Israel menggempur Hamas, menghancurkan 100 persen Gaza, ‘duri’ itu tak perlu dicabut dari “daging” Israel. AS bisa berpura menyelesaikan perang, tanpa beban, tanpa efek samping, dan tanpa akibat apa pun terhadap Trump. Hamas bukan aktor negara.
Kemarahan Trump pada PM Israel Benyamin Netanyahu atas serangan Israel ke Lebanon, adalah “duri dalam daging” yang sesungguhnya. Bergeming (cuek) dengan negosiasi mau berakhir, atau tidak. Iran telah memutus semua proses damai dengan AS.
Trump implisit, cemas dengan hilangnya kekhawatiran Iran pada perang “advanced”, dan perang “intermediate” dengan AS. Brutalitas Israel, menghancurkan Lebanon, membuat banyak kalangan (bahkan internal AS), memprediksi, Iran akan melompat langsung pada kuantum 5, 6, tanpa melalui langkah ke-3, dan 4 terlebih dahulu.
Argumen ini, semacam “dogfight” di udara pada Perang Dunia I antar dua pesawat musuh. Sebagai metafora dua ekor “hewan” yang berkelahi, merebut posisi untuk menggigit ekor lawan. Saling mengejar, meliuk-liuk bertempur dari jarak dekat.
AS menyerang Iran dalam posisi masih gencatan senjata! Iran membalas dengan menyerang bandara utama Kuwait yang dianggap Iran tengah dikolonisasi oleh AS. Menyerang Kuwait, lalu Bahrain, adalah cara meliuk-liuk Iran.
Kemarahan Trump, sambil menyebut Netanyahu ‘sangat gila’ atas serangan Israel ke Lebanon. Satu ambiguitas membingungkan, karena ada anak kalimat. Trump suka Netanyahu, mereka berdua telah bekerjasama erat selama perang (Yedioth Ahronoth, 3 Juni 2026).
Tak ada yang bisa dipegangi Iran dari AS. Kecuali melanjutkan perang “hingga kiamat”, sampai “apokaliptik” menghancurkan seluruh tanpa sisa tanah: Iran, Israel, Bahrain, Kuwait, UEA, serta seluruh kawasan Teluk.
Tidak ada pilihan pula bagi Iran, untuk ikut menghancurkan perekonomian dunia melalui Selat Hormuz. Secara ‘posisional’, kegilaan Israel terhadap Lebanon (setelah Gaza), akan dilawan oleh kegilaan Iran pada seluruh ‘patron-client’ AS di pusat kemakmuran ekonomi dunia (negara GCC-Teluk).
Iran mensyaratkan Hezbollah (Lebanon) dan Houthi (Yaman), harus tercakup dan menjadi kompilasi dalam seluruh kerangka perdamaian Timur Tengah. Persoalan nuklir, pencairan dana, ganti rugi Iran, sanksi, sepertinya sudah di gerbang kesepakatan AS-Iran.
Sayangnya Israel tak peduli. Hezbollah yang makin ‘recovery’ lewat drone serat optik-nya, membunuh sejumlah tentara Israel dengan teknologi yang sulit terdeteksi. Militer Israel pusing hingga menggunakan jaring pencegat drone, ini titik pangkal.
“Tak akan ada hujan tanpa badai”, sangat mudah meminta Hezbollah berhenti menyerang Israel. Satu kata petinggi IRGC Iran. “Berhenti”! Bagaimana dengan Israel? Apakah AS mampu menghentikan “psikopatik” Netanyahu di Lebanon?
Pertanyaan menarik dan menantang. AS, mungkin lebih tepatnya Trump, berkarakter ‘egosentris’, dia sering membanggakan logikanya, dan mengabaikan logika pihak lain (Iran). Ketika mengancam Oman, terkait Selat Hormuz, Trump lantang akan membom Oman.
Tidak memperhitungkan kepemilikan bersama Selat Hormuz antara Oman dan Iran, sebentuk kegagalan Trump memahami sudut pandang pihak lain. Buta perspektif, Trump telah gagal memahami bahwa negara lain bisa melihat situasi secara berbeda.
Mengusir Hezbollah dari Lebanon adalah narasi ‘utopis’ Israel. Sebuah egosentris dan buta perspektif. Hezbollah merupakan bagian dari keberagaman yang terbentuk pada bangsa Lebanon. Bagaimana mungkin mengusir satu bangsa dari tanahnya sendiri?
Sayangnya Trump justru terhanyut dan luput menghargai kebutuhan emosional dari tetangga-tetangga Israel. Presiden AS sebelum Trump, tidak sehanyut ini, walau AS tidak bisa melepas Israel sendirian. Tapi tidak se-telanjang ini.
Sekarang Iran makin “membatu”! Bentang psikologis Netanyahu, tidak bisa lagi ditolerir Trump, mestinya begitu. Kata-kata Trump seperti “gila”, menuding Netanyahu, menjadi narasi yang pantas untuk melihat Lebanon saat ini. Terlebih militer Israel meminta rakyat Lebanon mengevakuasi diri. Apa ini?
Bagi Iran, membuka Selat Hormuz, membongkar program nuklir, tak akan parsial dengan serangan Israel terhadap Hezbollah. Harga “trade-off gambit” (tawar-menawar) dengan menyertakan Lebanon, sebuah tanda, bola kini di tangan Trump, bukan Israel.
Minyak Trump
Trump telah membingungkan dunia secara inklusif. Di tengah terputusnya saluran komunikasi negosiasi AS-Iran, Presiden ke-45 dan 47 AS ini, untuk kesekian kalinya melontar optimis. “Kesepakatan dengan Iran, dapat dicapai dengan cepat”.
Padahal Trump telah gagal berbicara dengan pemimpin Israel (Netanyahu), dan berkali-kali terbukti PM (sejak 1996 ini) tak mau mendengar keluhan Trump. Sebuah ironi, pemimpin negara besar, “takluk” oleh kemauan negara kecil dengan luas 22.000 km.
Iran kini telah “patah arang”, “mutung”, dan sekaligus “menghitamkan” hatinya terhadap perdamaian bersama AS. Anomali, semakin menjauh diksi negosiasi Iran, semakin besar keyakinan Trump pada perdamaian. Bingung!
Kesia-siaan negosiasi AS-Iran, dengan terusnya Israel menyerang Lebanon, menjadi nalar yang tidak bernalar. Bagi Iran, yang 47 tahun “disiksa” perekonomiannya oleh Barat (AS cs), pilihannya kini tinggal antara hasrat dan realitas.
Teruji dengan realitas, itulah spirit yang dimiliki Iran. Masih banyak senjata, termasuk Selat Hormuz, akan menjadi beban ekonomi dunia umumnya, dan Indonesia khususnya. Harga minyak bersiap terbang lagi.
Trump sendiri bersikap ‘lateral’ (berbeda) dengan apa yang dikhawatirkan dunia tentang minyak. Menolak peringatan, sambil menyebut ekonomi AS punya daya tahan, Trump memang membingungkan. “Semua mengatakan harga bisa USD 300, USD 400, tapi nyatanya hanya USD 98. Itu bukan harga mahal, dibanding dengan kepemilikan nuklir (Yedioth Ahronoth).
Menarik seutas tali dengan simpul di tengahnya (Israel-Hezbollah), AS-Iran kini adu kuat, adu tahan. Kebocoran informasi tentang kemarahan Trump pada Netanyahu, merupakan indikator ada pihak Gedung Putih yang sudah jenuh dengan pengaruh Netanyahu terhadap Trump.
Egosentris di kedua belah pihak, tak akan menyelesaikan perang. Sementara “buta” persepsi, menjadi sikap yang tidak mencari solusi, kecuali keinginan memaksakan kebenaran hanya miliknya sendiri.
Gencatan senjata antara AS-Iran, adalah gencatan senjata di semua lini (termasuk Lebanon). Pelanggaran satu lini, menjadi pelanggaran komprehensif. Iran lebih memilih melanjutkan perang, ketimbang meninggalkan Lebanon berjuang sendirian.
Iran telah membuktikan (kemarin), Korp Garda Revolusi Iran (IRGC) menyerang markas Armada ke-5 AS di Bahrain dengan rudal dan drone. Ini merupakan respon serangan AS di Teluk Persia (The Guardian, 3 Juni 2026).
Bila AS berani meng-“kerangkeng” Israel, lalu Iran meminta Hezbollah “berhenti”, negosiasi AS-Iran mengakhiri perang yang sudah ke-3,5 bulan, lebih mudah untuk diselesaikan.
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







