BERITABUANA.CO, MADINAH– Memasuki hari ke-44 operasional haji Jumat (5/6/2026), sebanyak 27.086 jamaah haji Indonesia dari 69 kloter yang telah dipulangkan ke tanah air dari Makkah.
Fase pemulangan dari Makkah akan terus berlangsung hingga 15 Juni mendatang untuk kemudian akan dilanjutkan fase pemulangan dari Madinah.
Sementara itu, jamaah haji gelombang 2 akan segera memasuki Kota Madinah pada 7 Juni mendatang. Oleh karena itu rombongan Amirul Hajj yang dipimpin oleh Menteri Haji dan Umrah RI, KH. Mochamad Irfan Yusuf, telah terlebih dahulu tiba di Kota Nabi untuk memastikan segala kebutuhan jamaah haji seperti akomodasi, konsumsi, serta layanan kesehatan telah siap tersedia.
“Karena selesainya puncak haji (Armuzna) bukan berarti selesainya pelayanan haji. Secara umum apresiasi dari berbagai pihak cukup baik sehingga kita harus menjaga performa ini sampai akhir masa operasional haji,” ujar Gus Irfan saat menggelar media briefing di kantor Daker Madinah, Kamis (4/6/2026).
Ia mencontohkan, rombongan Amirul Hajj telah mengunjungi dua dapur di Madinah untuk memastikan tidak ada konsumsi yang tak memenuhi syarat. Meskipun sejauh ini jamaah mengapresiasi konsumsi yang disediakan namun jika sebulan terakhir ini pihaknya lengkah maka nilai yang keluar bakal jelek.
“Kita harus terus menjaga pelayanan dan performa kita,” kata Gus Irfan.
Sementara itu, untuk jamaah ia menekankan agar tetap menjaga kesehatan meskipun fase puncak Armuzna telah selesai.
“Jaga asupan makanan, minuman, serta kegiatan-kegiatan di luar. Jangan sampai kelelahan,” katanya.
Evaluasi Mina dan Kesehatan
Gus Irfan pun menekankan dua poin yang bakal menjadi fokus Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) pasca-Armuzna ini. Yang pertama adalah evaluasi Mina.
“Di Mina memang situasinya relatif lebih padat dibandingkan di Arafah, sehingga permasalahan menjadi lebih banyak. Selain itu jamaah juga tinggal lebih lama, sehingga masalah lebih banyak,” katanya.
Beberapa masalah yang akan dievaluasi di antaranya adalah persoalan tenda, jamaah yang sering kehilangan arah dan terpisah dari rombongan, serta waktu melakukan lempar jumrah di Jamarot.
Fokus kedua adalah persoalan kesehatan. Ia memaparkan bahwa Pemerintah Arab Saudi memberikan apresiasi pada Indonesia karena angka kematian turun jauh hingga hampir mencapai 50 persen.
“Jika tahun lalu (angka kematian) sebanyak 467, maka tahun ini tidak sampai 200 sejauh ini,” tutup Gus Irfan. (Fadloli/MCH 2026)







