Purbaya yang Mulai ‘Berkebaya’

by
Toto Izul Fatah. (Foto: Dok)

DI awal masa jabatannya, 8 September 2025, Purbaya Yudhi Sadewa sempat tampil seperti lelaki perkasa. Ia hadir dengan semangat dewa yang mebawa kabar gembira. Di tangannya ada palu yang memberi pesan sebagai pejabat baru yang keras, lugas, tegas dan siap mengetok kepala anak buahnya yang tak benar bekerja.

Purbaya muncul, bukan hanya sebagai menteri baru, tapi juga sebagai figur politik baru. Sejumlah lembaga survei, misalnya, menempatkan Purbaya sebagai figur calon wapres yang layak diperhitungkan pada 2029 nanti. Ini, antara lain, karena Ia dibaca sebagai teknokrat kuat, figur baru yang berani, yang bisa mengisi kekosongan simbol kekuatan pada kontestasi nasional 2029 itu.

Sosok Purbaya di mata sebagian publik memang bukan sekadar penjaga kas negara, tetapi sebagai simbol harapan bahwa ekonomi Indonesia masih mungkin dipimpin oleh akal sehat.

Sayangnya, Purbaya harus rela menerima fakta, bahwa politik Indonesia sering punya cara yang halus untuk melumpuhkan orang yang tampak kuat. Ia tidak selalu harus jatuh dengan gaduh. Suara Purbaya pelan-pelan mulai redup. Suaranya halus. Sikapnya mulai lembut. Purbaya pun kemudian tampak seperti tak berdaya. Ia tak lagi perkasa sebagai laki-laki kuat.

Bahkan, sejumlah orang menganggap Purbaya sudah mulai berkebaya. Jalannya pelan. Penampilannya tenang. Gayanya lembut dan tutur katanya halus. Itulah metafora yang dialamatkan kepada Purbaya. Yaitu, kebaya sebagai simbol dari sesuatu yang halus, tertib, sopan, terbungkus, tetapi juga membatasi gerak.

Ia bisa indah dipandang, bisa memberi kesan anggun, tetapi ia bukan pakaian untuk berlari. Ia bukan baju tempur. Ia bukan kostum untuk menerjang badai.

Dalam makna simbolik seperti itu, “Purbaya yang mulai berkebaya” berarti Purbaya yang pelan-pelan kehilangan daya dobraknya. Purbaya yang tetap ingin tampak elok, terukur, dan bergaya, tetapi langkahnya tidak lagi leluasa. Bukan karena ia tidak tahu arah, melainkan karena ruang geraknya makin sempit.

Tanda-tanda ke arah itu mulai terlihat. Purbaya hari ini berdiri di tengah tekanan fiskal yang nyata. Ia sendiri membuka kemungkinan pelebaran defisit APBN 2026 di atas 3 persen, sekaligus menegaskan bahwa keputusan akhirnya akan mengikuti arahan Presiden Prabowo karena menteri adalah pembantu presiden.

Pada saat yang sama, ruang fiskal memang makin ketat: APBN per 31 Maret 2026 tercatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Angka ini memberi gambaran bahwa beban yang ia tanggung bukan beban kecil.

Namun di sinilah ironi itu mulai terasa. Beban berat memang bisa dimaklumi. Yang jadi soal adalah, di tengah beban seberat itu, publik tidak lagi melihat Purbaya sebagai sosok yang memegang penuh setir keadaan. Ia lebih tampak seperti pejabat yang sibuk menjelaskan keadaan, bukan menaklukkan keadaan.
Ia terlihat hadir, tetapi tidak sepenuhnya berkuasa. Ia terlihat bicara, tetapi kata akhirnya tetap berada di tempat lain.

Ketika seorang Menteri Keuangan sendiri menegaskan bahwa arah akhirnya mengikuti Presiden, publik segera menangkap satu pesan yang telanjang: ada batas yang tidak bisa ia terobos.

Karena itu, meredupnya Purbaya jangan dibaca terlalu sederhana sebagai soal kemampuan pribadi. Yang sedang terlihat justru lebih struktural. Ia seperti sedang dibungkus. Yaitu, dibungkus oleh keadaan nasional yang berat.

Dibungkus oleh ekonomi global yang tak ramah. Dibungkus oleh disiplin fiskal yang makin sesak. Tetapi lebih dari itu, ia juga dibungkus oleh desain kekuasaan yang membuat seorang menteri, betapa pun cakapnya, tetap harus berjalan dalam garis yang telah ditentukan.

Purbaya memang tidak sedang roboh. Tapi, pakaiannya, yang membuat dia tergopoh-gopoh. Tak bisa lari kencang, dan tak bisa bicara lantang.

Semoga Purbaya mampu meninggalkan KEBAYA nya. 

*Toto Izul Fatah* – (Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA/Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat)