Teror Menjelang Pilpres Nigeria: Influencer Populer Dibantai di Kano

by
Pembunuhan sadis (Foto: Ilustrasi/Facebook)

BERITABUANA.CO, NIGERIA – Suasana politik Nigeria yang mulai memanas jelang pemilu presiden dibayangi kabar berdarah. Seorang influencer vokal yang dikenal berani mengkritik pemerintah, Ibrahim Khalil Dan Shagamu (57), ditemukan tewas bersimbah darah di kediamannya di Kota Kano, Nigeria utara.

Kabar duka itu dikonfirmasi keluarga dan kelompok HAM yang menaunginya, seperti dikutip AFP, Sabtu (12/9/2026).

“Dan Shagamu ditemukan Selasa malam dalam kondisi mengenaskan dengan luka sayatan di leher dan luka parah di kepala. Jasadnya baru ditemukan setelah teman dan tetangga curiga karena ia hilang kontak sejak Senin. Karena pintu rumah tak bisa dibuka, mereka terpaksa memanjat pagar untuk masuk.
“Pemandangannya sangat mengerikan. Kedua ponselnya hilang,” ujar Aisha Sharu Lawan, kakak kandung korban.

Dibayangi Ancaman Pembunuhan

Kematian Dan Shagamu terjadi tepat saat Nigeria, negara terpadat di Afrika, memasuki musim kampanye Pilpres yang dijadwalkan pada 16 Januari 2027.

Selama ini, Dan Shagamu memiliki ratusan ribu pengikut di Facebook dan TikTok. Video-videonya dalam bahasa Hausa terkenal agresif dan blak-blakan menyoroti bobroknya politik dan masalah sosial lokal.

Lawan mengaku adiknya sempat berselisih dan menerima ancaman serius sebelum dibunuh.

“Temannya mengatakan dia berselisih paham dengan beberapa orang yang mengancam akan membunuhnya,” kata Lawan. Ia mendesak polisi mengusut tuntas dan menyeret pelaku ke pengadilan.

Diketahui, sebelum menjadi influencer, Dan Shagamu adalah seorang reporter di stasiun radio lokal milik pemerintah.

Organisasi Amnesty International mengecam keras pembunuhan tersebut. Dalam pernyataannya, mereka menyebut Dan Shagamu “dibantai secara brutal setelah dikalahkan oleh para pembunuhnya.”

Amnesty juga menyoroti pola kekerasan politik di Nigeria

“Menjelang pemilu, kami terus menerima laporan meresahkan mengenai ancaman terhadap kehidupan dan intimidasi yang berhubungan dengan politik,” tulis Amnesty.

Seperti diketahui, Pemilu di Nigeria memang kerap diwarnai aksi preman bayaran yang direkrut politisi untuk mengintimidasi lawan dan membungkam perbedaan pendapat, termasuk membuat kekacauan di tempat pemungutan suara. (Kds)